Tradisi perajahan kuno Filipina kini hidup lagi

Sumber gambar, iStock editorial
Seorang perempuan tua -dengan rajahan tradisi sukunya yang menutupi lengan dan dadanya- mengetukkan duri yang telah direndam dalam tinta ke lengan saya.
Kami duduk di lantai kotor di rumahnya, di daerah penggunungan Cordillera, Filipina, tempatnya selama lebih dari 70 tahun mencacah tubuh para pengayau -atau pemburu kepala orang di masyarakat jaman adat masa lalu- dan perempuan yang memasuki usia akil balik.
Perempuan itu namanya Apo Whang-Od, seniman cacah tubuh terakhir di kawasan Kalinga, yang menjalankan tradisi batok yang sudah berlangsung.
- <link type="page"><caption> Manusia babi lambang dunia yang penuh kerakusan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/03/160311_vert_cul_optik" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Telanjang di panggung: Ketelanjangan kebenaran</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/03/160307_vert_cul_telanjang" platform="highweb"/></link>
Perempuan tua dengan kerutan mendalam ini memalingkan wajahnya kepada saya dari contoh main-main yang dilakukannya pada kulit saya, dan tersenyum seolah-olah untuk mengatakan, “Mau ditato?” Saya tertawa gugup dan menjauhkan lengan saya.
Tidak terduga, tiga tahun kemudian, Whang-Od dinominasikan untuk mendapatkan <bold><link type="page"><caption> penghargaan Kekayaan Hidup Nasional Filipina</caption><url href="ncca.gov.ph/about-culture-and-arts/culture-profile/gamaba/" platform="highweb"/></link></bold>, yang membuat adanya perubahan dalam masa depan seni kuno itu.

Sumber gambar, iStock
Tujuh belas jam ke arah utara Manila, kawasan Kalinga terkenal karena kemandiriannya sehingga sepanjang 400 tahun masa penjajahan di Filipina oleh negara-negara asing – mulai dari Spanyol, Inggris, Amerika Serikat dan Jepang, para pengayau berhasil mengusir jauh para penjajah.
Untuk tato Whang-Od
Kami berkunjung tiga tahun lalu karena seorang teman memperkenalkan kami kepada Remy Erminger, seorang warga asli Kalinga yang mengundang saya dan suami saya untuk menjelajahi desanya, Buscalan, sebuah komunitas masyarakat adat yang tersembunyi di balik sawah-sawah bertingkat yang subur di Cordilleras.
Tanpa berpikir panjang, kami memulai perjalanan jauh sepanjang hari menyusuri pegunungan yang rentan tanah longsor itu dengan menumpangi sebuah truk 4x4, yang disesaki dengan 30 orang penduduk setempat –dan seorang perempuan Eropa berusia 20-an, dengan rambut berkepang dan menyandang ransel yang berkapasitas 60 liter.
“Saya akan minta ditato oleh Whang-Od, seniman tato tubuh Kalinga terakhir,” kata perempuan itu.
Semua desa Kalinga dulu memiliki seorang mambabatok (ahli tato) untuk menghormati dan memasuki babak-babak penting dalam kehidupan. Ketika perempuan sudah memasuki usia perkawinan, mereka akan menghias tubuh mereka dengan rajahan yang mengundang para calon suami.
Ketika pengayau mempersiapkan diri untuk berperang, gambar lipan dirajah ke tubuh mereka sebagai jimat, dan ketika mereka kembali dengan membawa korban mereka, gambar burung elang yang dicacahkan untuk merayakan kemenangan mereka.
“Tato adalah salah satu harta karun terbesar kami,” kata Whang-Odd. “Tidak seperti hal-hal material, tidak ada seorang pun dapat mengambilnya dari kami ketika kami meninggal.”
Hanya untuk keturunan
Di kalangan warga Kalinga modern, tinta hitam pekat tebal dan desain tradisional sering kali dipandang sebagai hal yang kuno karena munculnya tinta baru yang lebih cerah dan teknologi yang lebih canggih –Erminger sendiri menatokan nama kekasihnya dengan lukisan buatan mesin.
Tidak diperlukan lagi adanya batok, yaitu teknik di mana duri setajam silet diikatkan ke sebuah batang, yang kemudian dicelupkan ke tinta yang berbasis jelaga, dan kemudian dengan cepat diketuk-ketukkan ke kulit menggunakan palu bambu dan dipandu dengan stensilan buatan tangan.
Mambabatok hanya dapat mengajarkan keahlian kepada keturunannya sendiri. Whang-Od tidak mempunyai anak sehingga akan menjadi mambabatok terakhir di provinsi Kalinga.
Namun, satu dasawarsa lalu, ia mulai melatih keponakan buyutnya, Grace Palicas, untuk menjadi muridnya. Pada usia muda 10 tahun, Palicas diberikan pelatihan instens untuk mempelajari arsip desain-desain kuno serta koordinasi dan kehalusan yang diperlukan untuk dapat mencacah dengan kecepatan 100 ketukan per menit.
Yang paling penting, kata Whang-Od “Agar Grace dapat menjadi mambabatok yang baik,ia memerlukan semangat dan kesabaran."
Disiarkan Discovery
Kami tiba di Buscalan dan mengikuti Erminger menyelusuri labirin rumah-rumah bertiang tinggi dan beratap jerami sampai kemudian kami mencapai rumah keluarganya.
Setelah semalaman yang tidak nyaman karena tidur di atas tikar bambu, kami bangun pagi untuk menjelajahi desa serta bertemu dengan sepasang kakak beradik remaja yang mengundang kami untuk sarapan pagi, dan kemudian mengajak kami ke rumah Whang-Od.

Sumber gambar, Travel Trilogy
Perempuan Eropa dengan ransel yang kami temui kemarin ada di rumah itu dan tampak sedikit gugup ketika Whang-Od menajamkan duri sedang Palicas mencampurkan tinta hitam di tempurung kelapa.
Perempuan Eropa ini adalah salah seorang dari sedikit wisatawan yang datang untuk membuat tato di Buscalan sebelum 2013, ketika saluran Discovery menayangkan tentang pemburu tato, Dr Lars Krutak, yang menampilkan Whang-Od di <link type="page"><caption> Warrior Tattoos of the Kalinga.</caption><url href="https://www.youtube.com/watch?v=_TyxqB70CNc&feature=youtu.be" platform="highweb"/></link>
Setelah episode itu diputar, berita segera menyebar mengenai Buscalan dan peluang untuk bisa dirajah oleh mambabatok terakhir itu. Wisatawan, penggemar tato, wartawan dan orang-orang Filipina yang bangga berbondong-bondong pergi ke daerah itu dan kembali dengan cerita mengenai Whang-Od yang hebat.
Kebingaran ini mencapai puncaknya pada musim gugur 2015, ketika kampanye media sosial untuk menghargai seniman ini mengundang begitu banyak perhatian. Senator Filipina Miriam Defensor Santiago kemudian menominasikan Whang-Od for untuk mendapatkan Penghargaan Kekayaan Hidup Nasional.

Sumber gambar, HoneyTrek
Arti tato untuk hidup
Gembira mendengar bahwa Whang-od menerima pengakuan semacam itu untuk pekerjaan yang sudah dilakukannya seumur hidup –tetapi juga khawatir apa yang akan terjadi pada Buscalan dengan adanya perhatian dunia– maka saya menghubungi Erminger.
“Benar-benar gila,” katanya. “Ada lebih dari 50 orang mengantre untuk ditato kemarin!” Ia juga mengatakan kepada saya bahwa para pelancong membuat keributan, membuang sampah sembarangan, dan menuliskan grafiti. “Saya tidak suka,” tambah Erminger dengan suara khawatir.
Buscalan tidak memiliki akomodasi dan pasokan makanan yang dibutuhkan, apalagi sistem pembuangan, untuk mengatasi masuknya begitu banyak orang. Laporan-laporan setempat mengatakan anak-anak di desa menjadi lebih agresif, mereka meminta permen dan uang sebagai imbalan karena memberi tahu arah, sementara orang dewasa memilih masuk ke dalam rumah untuk mendapatkan privasi.
Ini adalah kawasan yang memiliki warisan karena mengusir orang-orang asing masuk namun dengan arus pengunjung yang datang untuk menghormati ekspresi budaya Kalinga, mereka harus membiarkan para tamu masuk.
“Saya ingin orang-orang mengerti bahwa tato tradisional bukan sekadar gambar –semua desain mewakili sesuatu,” kata Whang-Od berbicara kepada Erminger yang mewakili saya. “Saya ingin orang memiliki tato bukan karena mode, tetapi karena desain yang dipilih memiliki suatu arti untuk Anda.”

Sumber gambar, Travel Trilogy
Palicas, penerus batok
Kini setelah tidak lagi dijadikan sebagai penanda usia akil balik, batok kelihatannya lebih berubah banyak dalam tahun lalu dibandingkan seribu tahun lalu. Tetapi untuk seni yang hampir punah, evolusi bisa merupakan penyelamat.
Banyaknya orang yang datang dan tuntutan fisik terhadap Whang-Od yang kini berusia 97 tahun membuat Palicas harus mengasah tekniknya dan memimpin dalam banyak desain.
“Saya ingin meneruskan tato tradisional Kalinga,” katanya. “Jika Whang-Od suatu hari sudah tidak ada lagi, saya ada di sini untuk menjaga tradisi Kalinga, untuk membuatnya tetap untuk orang-orang kami dan tidak melupakan budaya kami.”
Masa depan tato Kalinga tidaklah jelas, tetapi pasti tidak akan langsung punah dengan berlalunya Whang-Od.
Seniman kuno ini kini banyak dicari orang, dan Palicas muda –yang kini sangat dihormati di komunitas tato internasional– siap meneruskan warisannya.
Whang-Od tidak akan dikenang sebagai mambabatok terakhir tapi mungkin akan terus hidup sebagai ibu dari generasi baru tato Kalinga.
<italic>Baca artikel ini dalam Bahasa Inggris: <link type="page"><caption> The Rebirth of a 1.000-year tradition.</caption><url href="http://www.bbc.com/travel/story/20160106-an-ancient-ink-technique-sees-new-blood" platform="highweb"/></link> Artikel-artikel lainnya tentang perjalanan juga bisa Anda baca di </italic><link type="page"><caption> <italic>BBC Travel</italic></caption><url href="http://www.bbc.com/travel" platform="highweb"/></link>.<link type="page"><caption> </caption><url href="http://www.bbc.com/travel" platform="highweb"/></link>









