Mengapa kita mengalami rabun jauh?

Sumber gambar, Getty
David Robson selalu mendapatkan jawaban yang sama ketika mengajukan pertanyaan tentang rabun jauh yang ia alami. Berikut upaya Robson mencari tahu tentang penyebab gangguan mata yang membuatnya tak bisa melihat dengan jelas tersebut.
Ketika remaja perlahan-lahan daya penglihatan saya menurun dan harus memakai kaca mata. Tadinya lensa yang saya pakai tipis, tapi lama kelamaan makin tebal.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya saya saat memeriksakan mata. Tanpa kacamata, huruf-huruf pada bagan yang dipakai untuk mengetes tidak terlihat jelas alias buram.
Jawabannya selalu sama: karena faktor genetik dan karena saya terlalu banyak membaca.
Saya tak berani mempertanyakan jawabannya.Bukankah ia ahli mata?
Jawaban itu pula yang besar kemungkinan akan Anda dapatkan ketika memeriksakan mata dan dokter menyimpulkan bahwa Anda mengalami rabun jauh.
Yang menarik adalah kajian-kajian terbaru menunjukkan jawaban tersebut tidak sepenuhnya benar.
Banyak hal-hal dalam lingkungan modern yang bisa mengarah pada daya lihat yang buruk. Dan hanya dengan langkah kecil, anak-anak kita mungkin bisa dicegah dari memburuknya penglihatan yang menghantui generasi kita.
Sejak dulu saya sebenarnya tidak yakin apakah rabun jauh karena faktor genetik.
Kalau memang demikian halnya, kita bisa membayangkan para nenek moyang kita dulu akan sangat kesulitan membedakan antara batu dan binatang di padang rumput.

Sumber gambar, Thinkstock
Dan dengan lingkungan yang begitu keras, orang-orang yang memiliki gen rabun jauh hampir dapat dipastikan punah dan tak bertahan hingga sekarang.
Kenyataan menunjukkan banyak orang yang rabun jauh, baik di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia. Bagaimana ini bisa dijelaskan dari aspek genetik?
Penelitian di masyarakat Eskimo
Jawaban dari pertanyaan soal hubungan antara gen dan rabun jauh sebenarnya sudah muncul 50 tahun lalu ketika dilakukan penelitian di masyarakat Inuit di Kanada.
Generasi tua di masyarakat ini tidak mengalami rabun jauh, tapi di antara anak-anak mereka 10 hingga 25% perlu kacamata untuk bisa melihat dengan jelas.
"Hal itu tidak mungkin penyakit genetik," kata Nina Jacobsen dari Glostrup University Hospital di Kopenhagen, Denmark. Soalnya, kalau memang faktor genetik berperan, mestinya anak-anak mereka tidak mengalami rabun jauh.
Pada saat yang bersamaan, masyarakat Inuit mulai meninggalkan kebiasaan berburu dan memancing di alam liar dan mulai mengadopsi gaya hidup Barat dengan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.
"Rabun jauh adalah penyakit dalam skala industri alias terjadi secara massal," kata Ian Flitcroft, peneliti dari Children’s University di Dublin, Irlandia.

Sumber gambar, Thinkstock
"Gen mungkin berperan mengapa kita mengalami rabun jauh, tapi yang lebih jauh berperan adalah perubahan dalam lingkungan," paparnya.
Biasanya perubahan yang dimaksud mengacu ke pendidikan dan melek huruf. Sepintas kaitan antara rabun jauh dan pendidikan sangat kuat. Lihat saja ruang-ruang perkuliahan atau seminar-seminar akademik. Banyak sekali ditemukan dosen, profesor, dan mahasiswa yang mengenakan kaca mata.
Tapi kajian ilmiah menunjukkan efek dari membaca buku terhadap munculnya rabun jauh sebenarnya sangat kecil, setidaknya jauh lebih kecil dari yang diperkirakan.
"Semakin banyak kita melakukan kajian, semakin kecil hubungan antara membaca dan rabun jauh," kata Flitcroft.
Penelitian dalam skala besar terhadap anak-anak di Ohio, Amerika Serikat, bahkan tidak memperlihatkan kaitan yang kuat antara membaca dan rabun jauh, meski kaitan ini tidak bisa dihilangkan sama sekali, kata Jacobsen.
Para ilmuwan sekarang mengajukan argumen bahwa rabun jauh lebih disebabkan karena kita lebih sering berada di dalam rumah.
Penelitian di Eropa, Australia, dan Asia semuanya memperlihatkan bahwa orang-orang yang meluangkan waktu lebih banyak di luar rumah punya kemungkinan lebih kecil mengalami rabun jauh dibandingkan orang-orang yang lebih banyak berada di dalam rumah.
Mengapa demikian?
Salah satu penjelasan populer adalah cahaya matahari baik sekali untuk mata.
Scott Read di Queensland University of Technology, memberi sebuah jam tangan khusus kepada sekelompok anak sekolah untuk mencatat semua pergerakan mereka dan kekuatan sinar setiap 30 detik selama dua pekan.
Anak-anak dengan penglihatan yang bagus tampak tidak lebih aktif dari yang memakai kaca mata, sehingga menepis kemungkinan bahwa olahraga dan kondisi kesehatan secara umum melindungi mata. Namun, pemakaian kaca mata tampak berkaitan, khususnya, dengan waktu yang dihabiskan di bawah sinar matahari.
Cahaya matahari bisa ribuan kali lebih terang dibanding lampu dalam ruangan (walau berbeda antara masing-masing individu) dan makin banyak sinar matahari yang dinikmati anak-anak, makin kecil pula kemunginan mereka membutuhkan kaca mata.
Mungkin karena sinar matahari mendorong produksi vitamin D yang berguna untuk meningkatkan sistem kekebalan dan baik sekali untuk otak serta mata. Pendapat lain yang lebih diterima secara umum adalah sinar matahari memicu pelepasan dopamin, langsung ke mata.
Rabun jauh disebabkan karena pertumbuhan bola mata secara berlebihan, yang membuat lensa kesulitan untuk fokus pada satu objek dan dopamin sepertinya bisa mencegah pertumbuhan berlebihan dari bola mata tersebut dan menjaganya dalam bentuk yang sehat.
‘Hebatnya’ warna biru

Sumber gambar, Thinkstock
Mungkin juga rabun jauh disebabkan oleh warna.
Panjang gelombang warna hijau dan biru cenderung untuk ditangkap oleh retina bagian depan sementara merah oleh bagian belakang. Karena lampu-lampu di dalam rumah lebih merah dari sinar matahari, mungkin ini membuat mekanisme kontrol mata 'menjadi bingung'.
Hipotesis ini dikuatkan oleh Chi Luu dari Universitas Melbourne, Australia, yang menemukan anak-anak ayam yang dibesarkan di bawah lampu berwarna merah punya kemungkinan lebih besar untuk mengalami rabun jauh dibandingkan anak-anak ayam yang dibesarkan di lingkungan dengan warna dominan hijau atau biru.
Data dan analisis semacam ini diharapkan bisa mengarah pada metode perawatan atau penyembuhan rabun jauh.
Luu misalnya berharap bisa melakukan penelitian dengan subjek anak-anak yang mengalami rabun jauh dengan terapi lampu berwarna biru. Dia juga berharap metodenya tidak hanya memperlambat parahnya rabun jauh, bahkan menghentikannya sama sekali.
Keyakinan yang cukup beralasan karena ketika melakukan penelitian terhadap anak-anak ayam, cahaya biru selama beberapa jam bisa mengembalikan kerusakan daya lihat yang disebabkan oleh lampu berwarna merah.
Temuan di masa depan
Sementara Flitcroft, berpendapat masalahnya terletak pada kekacauan benda-benda yang mengaburkan lapangan penglihatan kita. Lihatlah ke sekeliling dan Anda akan mengerti yang dimaksudnya.
"Jika Anda melihat ke layar komputer, semua di belakang layar akan tampak kabur pada skala yang cukup besar," jelasnya. "Dan jika Anda melihat dari layar ke jam, Anda melakukan lompatan besar, jam yang menjadi fokus namun banyak hal di sekitar Anda menjadi kabur."
Jadi setiap kali Anda mengatur pandangan, selalu ada keburaman dalam mekanisme umpan balik mata. Di luar ruangan, obyek-obyek cenderung berada agak jauh, sehingga memberikan citra yang lebih jelas yang membantu pengaturan dalam pengembangan mata.
Flitcroft mengatakan bahwa ada uji coba yang menjanjikan tentang lensa kontak yang bisa mengurangi keburaman benda-benda yang dilihat oleh orang-orang yang mengalami rabun jauh.

Ia juga optimistis efektivitas obat tetes mata atropin. Obat ini diketahui sejak lama bisa memperlambat rabun jauh. Dampak sampingnya -seperti pelebaran pupil mata dan terciptanya pagar cahaya di sekitar lampu- sempat membuatnya diabaikan. Namun beberapa waktu belakangan terlihat bahwa obat sama efektifnya jika hanya seperseratus dari dosis awal. Pada dosis itu, dampak samping bisa diminimalkan, sebuah temuan yang meningkatkan kembali ketertarikan pada obat tetes.
Untuk sementara ini, selagi belum ada obat atau terapi yang ampuh, Flitcroft menyarakan kepada kita untuk tidak 'terlalu fanatik' misalnya dengan mempercayai 100% bahwa kaca mata hanya memperburuk rabun jauh.
Pengalaman saya memperlihatkan hal itu tidak benar. Terinspirasi membaca buku <link type="page"><caption> Better Eyesight Without Glasses,</caption><url href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bates_method" platform="highweb"/></link> saya memutuskan untuk melepas kaca mata dengan harapan rabun jauh saya berkurang. Yang terjadi adalah rabun saya makin parah: menjadi berlipat ganda dalam waktu tiga tahun.
“Kekhawatiran umum adalah kaca mata membuat lebih buruk, namun jawaban atas pertanyaan itu adalah tidak," kata Flitcroft. “Jika Anda ingin anak-anak Anda melihat dengan benar -Anda melakukan hal yang benar (dengan memberi kaca mata)."
Bagi yang ingin segera mengambil tindakan untuk mencegah terkena rabun jauh -sebagian besar peneliti sepakat- mendorong anak-anak untuk bermain di luar rumah jelas tidak ada salahnya.
Dan sebuah penelitian di Taiwan memperlihatkan hasil yang cukup positif dengan memperbanyak waktu di luar rumah ini. "Serahkan kepada alam mereka, lingkungan luar ruang, manusia tidak akan menjadi rabun jauh," kata Filtcroft. "Mendorong anak-anak menghabiskan waktu di luar rumah jelas baik."
Seandainya saja semua ini saya dapatkan ketika masih muda. Sekarang, untuk mencegah benda-benda yang saya lihat menjadi buram, saya memakai lensa kontak.
Ini bukan solusi ideal karena kadang ada iritasi atau mata terasa kering.
Setiap kali saya bangun tidur dan tidak bisa melihat pasangan saya dengan jelas, hati saya selalu berkata semoga segera ditemukan terapi atau obat yang memungkinkan generasi mendatang bisa melihat benda-benda di sekitar kita dengan sangat jelas.
Tulisan asli dalam bahasa Inggris <italic><link type="page"><caption> Why are we short-sighted?</caption><url href="http://www.bbc.com/future/story/20150116-why-are-we-short-sighted" platform="highweb"/></link></italic>bisa dibaca di <link type="page"><caption> BBC Future</caption><url href="http://www.bbc.com/future" platform="highweb"/></link>












