Satisfaction: lagu yang membuat Rolling Stones tenar

jagger

Sumber gambar, REX

Keterangan gambar, Mick Jagger (kiri) dan Keith Richards.

I Can’t Get No Satisfaction menjadi ciri satu era dan sejak itu sudah dinyanyikan oleh hampir semua orang mulai dari Devo sampai Britney. Mengapa lagu ini bisa bertahan lama? Greg Kot menganalisisnya.

Lagu ini sudah lama beredar – tepatnya 50 tahun pada tanggal 6 Juni tahun ini – sehingga rasanya sudah jadi kebutuhan, seperti oksigen.

Radio masih sering memutar lagu ini sehingga setiap terdengar sudah menjadi kebiasaan untuk ikut menyanyi.

I Can’t Get No Satisfaction terbukti menjadi titik perubahan bagi The Rolling Stones dan budaya yang mereka bantu bentuk, sebuah lagu terkenal yang menjadi ciri era itu yang juga ternyata berhasil bertahan melawan waktu.

Rolling Stones masih terus memainkan lagu ini, sebagian karena permintaan para penggemarnya.

“Ini merupakan lagu yang benar-benar membuat Rolling Stones terkenal,” kata Mick Jagger kepada majalah Rolling Stone.

Lagu ini, kata Jagger, vokalis grup ini, “mengubah kami dari sebuah kelompok musik biasanya menjadi kelompok begitu besar, kelompok raksasa.”

Mengapa banyak artis menyanyikan?

Apa yang membuat lagu ini begitu istimewa bahkan di antara sekumpulan lagu Rolling Stones lainnya yang juga top?

Mengapa begitu banyak artis besar, dari Aretha Franklin sampai Devo, ingin juga menyanyikan lagu ini sesudahnya?

Semuanya dimulai dengan sebuah mimpi saat Stones melakukan tur ke Amerika Serikat tahun 1965.

Keith Richards bangun dari tidurnya suatu hari di kamar sebuah hotel di Florida dan menyadari bahwa hari masih malam dan dia membuat musik riff-nya di gitar akustik dan kemudian memasukkan bagian chorus di mesin perekam yang ada di samping ranjangnya.

Mick Jagger menyelesaikan bait-bait syairnya beberapa hari kemudian, dan band musik itu kemudian mencoba merekamnya beberapa kali.

Pertama versi akustik di Chess Studios di Chicago, dan lalu versi elektrik di RCA di Hollywood.

Richards mengatakan membayangkan bagian asli riff akan dimainkan dengan alat tiup secara bebas seperti gaya Martha dan the Vandellas’ Dancing in the Street, serta menginginkan nada yang lebih kasar.

Sebuah alat pemberi efek Gibson fuzz box, yang dibeli oleh asisten Rolling Stones Ian Stewart, dipakai untuk menghasilkan nada yang diinginkan.

Petikan gitar Richards melengking di pengeras suara dan Jagger menjadikan setiap suku kata yang dinyanyikannya menjadi tuduhan, seperti mencengkeramkan jari-jarinya ke dada pendengar yang tidak tahu apa-apa.

Kata-katanya sarat dengan racun, sarkasme dan seks, yang jelas merupakan serangan kepada masyarakat yang hidup lurus serta nilai-nilai konsumerismenya, dan semua ini dinyanyikan dengan ekspresi hasrat paling mendasar seorang pemuda.

Ini soal selera

Rolling Stones, yang baru membangun reputasi sebagai pemusik blues murni baru saja mulai menulis lagu asli mereka sendiri, dan langsung mencapai tangga lagu teratas.

Setelah beberapa minggu dirilis, Satisfaction menjadi lagu No 1 di Amerika Serikat dan tetap berada di peringkat atas selama tiga bulan, mendominasi musim panas tahun 1965.

Sindiran-sindiran seksual dalam lagu itu membuat sejumlah program menjadi berketar-ketar.

Hasrat Jagger yang diungkapkan tanpa malu-malu dalam lagu itu membuat lagu itu disensor di satu stasiun radio besar di New York City dan di program-program TV seperti Shindig! dan Ed Sullivan Show.

Richards merasa kesal karena menurutnya lagu itu belum selesai.

Ia masih membayangkan alat tiup yang dimainkan menggantikan bagian riff gitar yang segera menjadi bagian abadi lagu itu.

Ia berpikir masih ada yang harus dibetulkan dari lagu itu. Tetapi tanggapan pendengar membuktikan bahwa ia salah.

Richards akhirnya menerima bahwa lagu itu hidup kekal dalam riwayat Rolling Stones. “Saya tidak membantah bahwa lagu ini memang merupakan tonggak bersejarah untuk Stones,” katanya dalam otobiografinya.

“Tidak semua hal dirancang sesuai selera kita memang.”

stones

Sumber gambar, Corbis

Keterangan gambar, Keith Richards berpikir lagunya belum selesai dan masih harus diperbaiki.

Yang membuat reputasi lagu itu semakin kekal, setidaknya untuk Rolling Stones, adalah bahwa lagu itu dinyanyikan dengan baik oleh sejumlah pemusik idola mereka.

Seperti bisa membaca pikiran Richards, Otis Redding memasukkan alat tiup di bagian riff yang dimainkan dengan gitar di versi aslinya dalam versi Satisfaction-nya.

Seperti banyak pendengar lain, ia juga kesulitan menafsirkan syair Jagger, sehingga di beberapa tempat Redding membuat syair sendiri.

Dan itu tidak apa-apa. Artis musik soul terkenal ini membangun jembatan baru, ke pendengar baru yang lebih luas ketika ia menampilkan versinya di Monterey Pop Festival pada tahun 1967.

Versi Aretha Franklin yang diperkuat oleh musik piano dan diproduksi oleh Jerry Wexler membawa masuk musik Stones ke gereja-gereja dan lagu itu masuk kembali ke tangga lagu pop di tahun 1968.

Lagu rock klasik

Satisfaction muncul lagi satu dekade kemudian, ketika Rolling Stones dan banyak kelompok musik klasik rock angkatan mereka sudah didesak mundur oleh musik punk-rock.

Versi yang dimainkan Devo menjadi titik pusat dalam debut band asal Ohio itu di tahun 1978.

"Saya pikir lagu itu lagu rock klasik," kata Mark Mothersbaugh dari Devo.

Mereka memainkan versi mereka di hadapan Jagger sebelum versi mereka dirilis, dan “setelah 30 detik, Jagger melompat dan menari-nari. Lalu katanya kepada kami, 'Itu versi favoritku!'”

Versi yang muncul belakangan banyak yang menggunakan tangga nada berbeda.

Versi Cat Power di tahun 2000 menjadikan Satisfaction ratapan akustik yang menghantui, penuh rasa frustrasi dan keterasingan.

Pada tahun yang sama, Britney Spears membuatnya menjadi funky dengan bantuan produser Rodney Jerkins.

Tentunya pemasaran berperan besar, Spears mencoba memperluas jajaran penggemarnya melampau para remaja dengan mencoba menargetkan “suara yang lebih dewasa”.

Tentu saja, (I Can’t Get No) Satisfaction pada awalnya dipandang sebagai serangan terhadap generasi lebih tua yang sudah mapan dalam kehidupan mereka.

Pada tahun 1969, Jagger bersumpah tidak akan menyanyikannya pada saat ia mencapai usia 50 tahun.

Kini Jagger berusia 71. Ia dan kelompok Rolling Stones-nya menutup konser mereka di stadion-stadion di AS dengan lagu itu. Jadi, apa pun kata mereka, (I Can’t Get No) Satisfaction tetap bertahan.

Greg Kot adalah kritikus musik di the Chicago Tribune.

Anda dapat membca artikel ini dalam Bahasa Inggris: <link type="page"><caption> Satisfaction: The song that made the Stones</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20150605-the-song-that-made-the-stones" platform="highweb"/></link> di <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link>