Bekerja di dua kota yang kontras, Dubai dan Lisabon

Sumber gambar, Tariq ElAsad
Selama dua tahun belakangan, agen properti Tariq El-Asad menjalani hidup di antara dua kota yang berbeda sama sekali: Lisabon dan Dubai.
Tinggal di Lisabon, pendiri dan direktur pelaksana Tamea International, perusahaan real estat, menikmati istirahat makan siang yang santai di luar kantor dan melewati arsitektur kuno di salah satu kota paling tua di dunia.
Kemudian setiap empat minggu, pria yang berusia 30 tahun ini menumpang pesawat dengan lama penerbangan delapan jam menuju Dubai yang jauh lebih dinamis.
Ia menghabiskan waktu selama 14 tahun di Teluk ketika masih anak-anak, di antaranya di Dubai.
Dan sekarang El-Asad menghabiskan waktu hampir dua minggu sekali dalam satu kunjungan untuk menghadiri pertemuan dengan para klien yang tertarik membeli properti di Portugal.
- <link type="page"><caption> Berkenalan dengan kuliner tradisional Emirat yang unik</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_tra/2016/05/160503_vert_tra_penganan_dubai" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Fenomena kabut di Dubai yang sulit dipahami</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_tra/2016/04/160413_vert_travel_kabutdubai" platform="highweb"/></link>
Perusahaannya bergerak di bidang jasa untuk membantu orang asing pindah ke Portugal melalui program Golden Visa.
Warga negara asing yang menanamkan modal US$568.255 atau sekitar Rp7,5 miliar di sektor properti di Portugal bisa mendapatkan visa yang memungkinkan mereka tinggal, bepergian dan bekerja di negara itu dan negara-negara lain di Eropa.
Tamea International membantu mencarikan properti untuk orang-orang asing yang mengikuti program itu.
Permintaan akan akses ini meningkat dari orang-orang di Brasil, Amerika Selatan dan Timur Tengah, katanya. Banyak orang yang dilayaninya berinvestasi di Portugal hanya ingin bepergian secara bebas di Eropa.
Bagi Tariq El-Asad pergi-pulang antara Portugal dan Uni Emirat Arab tidak hanya menyangkut urusan naik dan turun pesawat dan kemudian bekerja. El-Asad memerlukan penyesuaian mental.
Ia sendiri lebih suka tinggal di Dubai yang irama kehidupannya lebih cepat dibandingkan Lisbon yang santai.
Mengubah gaya hidup

Sumber gambar, Tariq ElAsad
Dilahirkan di London dan di sini pula ia pernah tinggal beberapa kali, El-Asad terbiasa dengan kehidupan yang serba cepat.
Pada 2014, setelah tahu ada program Golden Visa, dan menangkap peluang bisnis mencarikan properti untuk konsumen di sana, El-Asad berpikir ia dapat mendapatkan yang terbaik dari keduanya, memenuhi tuntutan kerja dan menikmati kehidupan yang lebih tenang.
“Bersosialisasi dengan teman-teman, makan malam dan makan siang secara spontan dan pantainya bisa ditempuh dalam waktu 30 menit,” ujarnya.
Walaupun begitu, ia perlu beberapa bulan untuk beradaptasi dengan kehidupan beritme lambat di Lisabon.
Sebagian besar karyawan tiba di kantor sekitar pukul 10.00, istirahat makan siang selama dua jam dan pulang kerja jam 18.00. Ia menjadi frustrasi karena tak bisa menghubungi orang pada siang hari.
“Tak mudah menelepon orang antara jam 12.00 dan 14.00 karena mereka makan siang,” katanya. “Kita rugi dua jam. Pada awalnya ha itu sulit. Di London satu tangan memegang sandwich untuk dimakan sambil mengetik dengan tangan lain.”
Tetapi El-Asad sudah menyesuaikan diri.
Meskipun ia tak menghabiskan waktu makan siang selama dua jam, ia sering duduk di luar ruangan selama istirahat makan siang dan tidak lagi makan sambil kerja di meja sebagaimana pernah dilakukannya ketika bekerja di perusahaan pengembang real estat di London.
Kehidupan di kawasan Teluk

Sumber gambar, Umar Shariff PhotographyGetty Images
Ritme kehidupan di Dubai hampir sama dengan di London atau New York. Orang-orang selalu sibuk.
Di Dubai, ia punya kantor dengan meja dan ruang rapat dan ia sudah ada di sana mulai pukul 08.30.
Sesudahnya ia menghadiri berbagai pertemuan dengan klien sampai sekitar pukul 17.30. Orang biasanya membalas email dengan cepat.
Ia makan di meja kerja dan berusaha mengerjakan tugas sebanyak mungkin dalam satu hari.
Ia juga mengatakan Dubai sekarang tentu sangat berbeda dibandingkan ketika ia masih anak-anak. Ketika itu Dubai jauh lebih sepi.
Kini Dubai adalah pusat kosmopolitan yang ramai, menawarkan iklim usaha yang nyata, aneka hiburan, sektor pariwisata dan real estat. Ada bank, perusahaan investasi, korporasi dan lembaga-lembaga lain yang biasa ditemukan di kota-kota besar lain.
“Perubahan yang terjadi selama 15 tahun mungkin belum pernah terjadi mana pun di dunia,” ujar El-Asad.
Dubai terikat dengan peraturan keagamaan dan budaya sebagai negara berpenduduk Muslim.
Ini berbeda dengan Lisabon yang mayoritasnya pemeluk Kristen. Dengan demikian seseorang perlu memahami perbedaan-perbedaan yang ada.
Dubai jauh lebih konservatif; Muslim biasanya tak mengonsumsi alkohol dan dilarang bermesraan di tempat umum. Sementara Lisabon sangat liberal.
El-Asad benar-benar paham hal itu ketika menjamu klien untuk makan siang atau makan malam. Di Portugal, acara makan-makan biasanya disertai dengan minuman alkohol.
Sebagai perbandingan, di Dubai pilihan minumannya adalah jus atau teh.
“Saya tidak akan pernah, dan belum pernah memesan alkohol dalam pertemuan di Dubai,” katanya.
Ditambahkannya, jika pertemuan bisnis diadakan di kantor orang lain atau di rumah orang lain maka seseorang sebaiknya tak menolak tawaran itu karena dianggap tidak sopan.
Lisbon yang santai

Setelah bekerja di Dubai selama dua minggu, biasanya El-Asad perlu dua hari untuk bersantai dan menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan Lisabon.
“Saya mengalami kesulitan memperlambat ritme kehidupan,” katanya.
“Diperlukan waktu untuk menyesuaikan diri. Saya tak langsung kembali ke ritme semula dan tak siap menyesuaikan diri dengan perbedaan, bahkan setelah lama melakukan hal ini.”
Namun El-Asad suka dengan cinta dan antusiasme yang ada di Lisabon. Di samping itu, biaya hidup di sana lebih murah.
Lisabon juga tak punya curah hujan tinggi seperti London atau tak sepanas Dubai sehingga ia banyak menghabiskan waktu di luar ruangan.
Apa keuntungan dari hidup berpindah-pindah ini? El-Asad mendapat sisi terbaik dari kedua tempat: Lisabon yang santai dan suasana kerja yang senantiasa menjadi nafas di Dubai dan London.
“Ini membantu saya tak stagnan,” katanya. “Dan selalu ada peluang untuk bertemu orang dan melihat hal-hal dengan perspektif segar, yang seringkali mengarah ke peluang baru.”
<italic>Tulisan dalam bahasa Inggris</italic>: <italic><link type="page"><caption> Working between liberal Lisbon and conservative Dubai</caption><url href="http://www.bbc.com/capital/story/20160613-working-between-liberal-lisbon-and-conservative-dubai" platform="highweb"/></link></italic>, <italic>dapat Anda temukan di</italic><italic><link type="page"><caption> BBC Capital</caption><url href="http://www.bbc.com/capital" platform="highweb"/></link></italic>.









