Sibuk: Kata terhormat atau kebohongan besar?

Multitasking

Sumber gambar, Thinkstock

Keterangan gambar, Sibuk belum tentu produktif.

Sibuk, sibuk, sibuk — tapi tak ada pekerjaan yang selesai juga?

Dari perasaan “terjebak kesibukan” hingga perasaan kewalahan, itulah yang banyak dirasakan kaum profesional di akhir hari kerja atau di akhir pekan. Kelebihan beban kerja adalah persoalan yang nyata.

Namun bagaimana jika kita keliru melihat persoalan ini? Bagaimana jika kita bisa mereka ulang pikiran kita, hingga kita bisa merasa tak terlalu sibuk dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan? Ini merupakan topik yang diangkat oleh orang-orang berpengaruh di situs jejaring sosial <link type="page"><caption> LinkedIn </caption><url href="https://www.linkedin.com/pulse/" platform="highweb"/></link>belum lama ini.

Ini yang dikatakan oleh dua orang dari mereka.

Morgan Spurlock, pembuat film, presiden dan pendiri Warrior Poets Entertainment

“Saya tak tahu kapan ini terjadi, tapi saat ini kita yakin bahwa menjadi ‘sibuk’ adalah hal yang baik bagi kita,” kata Spurlock dalam tulisannya <link type="page"><caption> Being Busy is a Waste of Time</caption><url href="https://www.linkedin.com/pulse/being-busy-waste-time-morgan-spurlock" platform="highweb"/></link>. Spurlock sendiri “mencabut kata sibuk” dari perbendaharaan kata pribadinya.

“Kami tidak sibuk … kami produktif,” tulisnya. “Dan ya, ada bedanya.”

“Sibuk memberi gambaran tentang orang-orang yang repot mengerjakan banyak hal atau tidak punya waktu untuk mengerjakan hal lain,” kata Spurlock.

“Produktif menggambarkan lingkungan yang penuh dengan tujuan, baik tujuan pribadi dan profesional, dan diakhiri dengan keberhasilan, sebuah tempat dimana kita bisa benar-benar menghasilkan sesuatu ketimbang sekadar mengerjakan sesuatu,” tulisnya lagi.

Spurlock merinci produktivitas ke dalam empat kategori.

Kantor sibuk

Sumber gambar, Thinkstock

Keterangan gambar, Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus membutuhkan waktu 25% lebih lama ketimbang menyelesaikannya satu demi satu.

Diantaranya:

Produktivitas pribadi … merupakan yang terpenting, karena berkisar pada waktu yang akan saya pakai untuk saya habiskan bersama keluarga, teman dan menggunakannya untuk diri sendiri sebagai makhluk hidup,” tulisnya.

“Saya tahu rasanya aneh melihat waktu yang Anda pakai bersama keluarga sebagai sesuatu yang ‘produktif’... tapi dengan melakukannya, saya secara mental membuat hal ini jadi lebih penting. Saya menyeimbangkan waktu untuk keluarga dengan mencari uang. Produktifitas pribadi membuat saya tetap jadi manusia dan mengingatkan apa yang sesungguhnya berarti di dunia ini."

Produktivitas keuangan merupakan sesuatu yang penting, karena ini merupakan proyek yang terus menerus menghasilkan uang.

Dari sini saya bisa membeli makanan untuk anjing saya, membuat internet tetap bekerja dan tangki mobil saya penuh, dan juga ini juga bisa membuat saya lebih fokus untuk dua produktivitas penting (produktivitas pribadi dan kreativitas),” kata Spurlock.

“Dengan menyelimuti seluruh area hidup saya dengan menjadi produktif, saya membuatnya jadi lebih bernilai,” ia menyimpulkan. “Ada hasil yang nyata, baik secara pribadi maupun profesional. Dengan melihat pekerjaan dan waktu saya dengan cara seperti ini, rasanya lebih memuaskan.”

Travis Bradberry, presiden TalentSmart

“Menjadi sibuk sering menjadi tanda kehormatan. Anggapan yang umum adalah jika Anda tidak sangat sibuk, Anda bukan orang penting atau tidak bekerja keras,” kata Bradberry dalam tulisannya <link type="page"><caption> How Being Busy Makes You Unproductive</caption><url href="https://www.linkedin.com/pulse/how-being-busy-makes-you-less-productive-dr-travis-bradberry" platform="highweb"/></link>. “Sejatinya, sibuk-sibuk seperti itu membuat Anda menjadi kurang produktif.”

Ia kemudian berkata lagi, “Ketika kita berpikir tentang seorang yang super sibuk, kita berpikir telepon yang berdering, banjir email dan jadwal yang berhamburan dengan proyek dan kerja sampingan tanpa henti,” katanya.

“Situasi ini tak terhindarkan mengarah pada melakukan beberapa pekerjaan sekaligus (multitasking) dan interupsi, yang berpeluang membunuh produktivitas,” katanya.

Sebagaimana dikatakan Socrates: berhati-hatilah terhadap hidup yang sibuk tapi tak produktif. Ada bukti dari pernyataan itu.

Kesibukan pribadi

Sumber gambar, Thinkstock

Keterangan gambar, Waktu untuk keluarga termasuk dalam produktivitas.

“David Meyer dari University of Michigan menerbitkan sebuah kajian baru-baru ini yang memperlihatkan bahwa berpindah di tengah-tengah dari apa yang Anda kerjakan ke pekerjaan lain membutuhkan 25% lebih banyak waktu untuk menyelesaikan kedua pekerjaan itu,” kata Bradberry.

Data lain: “Microsoft memutuskan untuk mempelajari fenomena ini pada pegawai mereka dan menemukan bahwa dibutuhkan rata-rata 15 menit untuk kembali kepada proyek mereka yang penting … setiap kali mereka mendapat interupsi oleh email, telepon dan pesan lain,” kata Bradberry.

“Mereka tidak menghabiskan 15 menit itu untuk pesan-pesan tersebut, interupsi itu membuat mereka teralih ke kegiatan lain, seperti berselancar di dunia maya untuk mencari kesenangan,” kata Bradberry.

Namun mengapa kita merasa menyelesaikan begitu banyak hal ketika kita sibuk?

“Kita sungguh terpikat pada multitasking maka kita pikir kita menyelesaikan lebih banyak hal, sekalipun sesungguhnya otak kita secara fisik tak mampu melakukan hal ini,” kata Bradberry.

“Terlepas dari apa yang kita pikirkan, kita paling produktif ketika kita bisa mengatur jadwal kita untuk memastikan bahwa kita secara efektif memfokuskan diri pada apa yang sedang kita kerjakan.”

Dalam beberapa kajian, ditemukan bahwa orang-orang menggunakan kesibukan untuk “bersembunyi dari… kemalasan dan rasa takut akan kegagalan”.

“Kita menghabiskan banyak waktu berharga melakukan hal yang tak perlu atau tak penting karena rasa sibuk ini membuat kita merasa produktif,” katanya.

“Nyatanya, kita perlu melambat untuk menghasilkan yang terbaik.”

<italic>Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris <link type="page"><caption> Busy: A badge of honor or a big lie</caption><url href="http://www.bbc.com/capital/story/20151022-busy-a-badge-of-honour-or-a-big-lie" platform="highweb"/></link>, dan artikel sejenis di <link type="page"><caption> BBC Capital</caption><url href="http://www.bbc.com/capital" platform="highweb"/></link>.</italic>