Warga Suriah: membangun kembali kehidupan setelah perang

Warga Suriah

Sumber gambar, TuanTran Getty Images

Keterangan gambar, Saat ini, warga Suriah yang mengungsi telah membangun kembali hidup mereka dan karir profesional mereka di berbagai negara lain di kawasan Timur Tengah.

Melarikan diri dari kondisi Suriah yang brutal cuma merupakan tantangan pertama bagi para profesional yang berupaya mencari hidup di tempat yang baru. Sekilas tentang para pengungsi yang menyingkir dari negara mereka beberapa tahun lalu, dan bagaimana mereka berjuang untuk membangun kembali hidup dan mata pencaharian mereka.

Pergolakan

Tayangan televisi setiap malam yang menggambarkan keputusasaan warga Suriah mengungsi dari negara mereka yang tercabik perang, jadi sangat memudahkan untuk melupakan bahwa hanya lima tahun yang lalu Suriah merupakan negeri yang sejahtera dan stabil. Kaum profesional tumbuh dengan subur: dokter, pengacara, seniman, insiyur.

Kemakmuran masa lalu itu sekarang sulit untuk dibayangkan. Lebih dari 200.000 warga Suriah tewas sejak meletusnya gelombang protes pro-demokrasi terjadi pada 2011, dan lebih dari 11 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sekitar empat juta orang di antaranya telah mengungsi ke luar negeri.

Di tengah keadaan yang begitu parah, sejumlah kecil warga Suriah berhasil lolos dan membangun kembali karir mereka di Timur Tengah, bahkan karir mereka menanjak pesat padahal berada di negara yang sulit bagi para pendatang baru untuk membangun jaringan, mendapatkan ijin kerja atau tinggal untuk jangka waktu yang cukup lama.

Selama lima tahun terakhir, karya seni Suriah telah dipamerkan dari Beirut dan Dubai, dan bau masakan khas Suriah yang termasyhur - dari kebab yang sederhana sampai kibbeh yang mewah - telah merebak ke seluruh kota di kawasan tersebut.

Warga Suriah yang berpendidikan tinggi membawa kemampuan teknologi informasi dan keahlian yang lain ke negara-negara Timur Tengah lainnya.

Kini, orang-orang Suriah yang tercerai berai itu membangun kembali hidup mereka, dan memapankan diri secara profesional, secara finansial, dan secara artistik -di seantero kawasan.

Dari Damaskus ke Dubai

Seniman dan desainer Dina Saadi baru saja membuka sebuah studio desain di Damaskus ketika pengunjuk rasa anti-pemerintah mulai berdemonstrasi di jalanan pada 2011 lalu. Dari jendela kantornya di pusat kota, dia menyaksikan tindakan aparat terhadap para aktivis.

"Saya mendapatkan sejumlah klien yang bagus, dan tiba-tiba revolusi bermula," kata dia. Ketika dia ditawari posisi sebagai penata artistik di Dubai, dia mengambil peluang itu dan meninggalkan bisnis serta keluarganya.

Dina Saadi

Sumber gambar, Credit Dina Saadi

Keterangan gambar, "Saya akhirnya melakukan apa yang saya mau, bukan apa yang saya butuhkan," kata dia "Saya selamat sekarang. Saya merasa saya telah menjadi apa yang saya mau.”

"Kita selalu membayangkan, keadaannya akan membaik. Tetapi kemudian sangat jelas: tidak ada masa depan," kata dia.

Saadi sudah berada di Dubai lebih dari tiga tahun. Tahun pertama adalah yang paling sulit. Dia harus bekerja keras untuk mendapatkan visa bagi ayahnya, saudara perempuannya dan kekasihnya.

"Pertama lingkungan kita berbeda, kemudian kita harus mulai segalanya dari nol. Saat itu sulit untuk menjalankan hidup sehari-hari dan berkonsentrasi pada pekerjaan saya," jelas dia. Ketika dia mengetahui seorang teman di Homs, Suriah, tewas dalam konflik, "Saya tidak dapat berhenti menangis. Satu bulan kemudian, saya mendengar tentang orang-orang mulai ditangkap. Sulit untuk bisa menjauhi kenyataan sehari-hari. dan kita duduk di sebuah kantor yang modern di Dubai. Sungguh kontras yang ganjil.

Setahun kemudian, kekasih Saadi berkumpul bersamanya di Dubai. Suatu malam dia membawanya makan malam di sebuah restoran India untuk merayakan hari Diwali dengan kembang api.

"Setiap kali ada kembang api, dia terlonjak dari kursinya," kata dia. "Menyedihkan sekaligus lucu. Dan dia membutuhkan waktu untuk beradaptasi," kata dia.

Di tahun keduanya, Saadi mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik. Dia juga berkumpul dengan keluarganya, yang juga mendapatkan pekerjaan. Sekarang merupakan tahun ketiganya, dia memiliki fleksibilitas untuk melukis sesekali, dan berharap bisa segera membuka bisnis perhiasan.

Dari Aleppo ke Amman

Ketika ahli teknologi informasi Mohanad Ghashim bertolak ke Yordania untuk mengikuti pelatihan bisnis selama dua bulan pada Desember 2012, dia berangkat dengan asumsi akan kembali ke kehidupan dan bisnisnya di Aleppo. Tetapi berita mengenai kekerasan yang meningkat di Suriah membuatnya menyadari Aleppo bukan lagi merupakan sebuah tempat yang aman untuk hidup, apalagi untuk menjalankan perusahaan. Dia kemudian memutuskan untuk pindah ke Amman dan memulai semuanya dari awal.

Mohanad Ghashim

Sumber gambar, Mohanad Ghashim

Keterangan gambar, “Komunitas warga Suriah semakin besar. Sudah banyak orang Suriah di setiap perusahaan di sekeliling saya." "Suriah telah menjadi bagian dari budaya di sini. Mereka bekerja, menikah - mereka sudah jadi bagian dari keseharian. Dan saya merasa kerasan di Yordania."

"Saya menyadari, hanya soal waktu saja sebelum semuanya menjadi sangat brutal di seluruh Suriah," kata Ghashim. "Saya tidak mau dibunuh atau diculik. Di sana tidak lagi aman. Tidak ada gunanya kembali ke sana. Saya berbicara dengan keluarga saya, dan semua setuju untuk meninggalkan Suriah.

Setelah itu, dia meyakini bahwa cara terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan melangkah maju dan menatap ke depan.

"Saya memutuskan untuk memulai kehidupan baru, dan saya menerima kenyataan. Itu membantu saya cepat beradaptasi," kata dia. "Itu sesuatu yang saya perhatikan ketika saya melihat orang Suriah lain (banyak yang melihat ke belakang). Itu sangat menyakitkan dan mempengaruhi produktivitas dan fokus mereka."

Ghashim menemukan seorang mitra dan merancang bisnis baru di bidang yang dia tinggalkan. Mitranya meyarankan dia memulainya dari awal. Dia menjalankan saran itu, dan memulai semuanya dari nol.

Sekarang bisnisnya di Amman, ShopGo - yang berbasis e-commerce - mempekerjakan lebih dari 25 karyawan. Dia juga menjalankan usaha kecil di Dubai dan London. Dia memperoleh ijin tinggal di Uni Emirat Arab pada 2013 dan Inggris pada 2014, yang membuatnya bisa mengembangkan bisnisnya.

Saat ini, karir Ghashim sudah kembali berkembang, dia melakukan apa yang dia bisa untuk membantu warga Suriah lain di Yordania, seperti mempekerjakan mereka kendati harus repot mengusahakan izin kerja, atau menghubungkan mereka dengan perusahaan teknologi lainnya.

Dari Damaskus ke Istanbul melalui Ismailia, Mesir

Zaher Ghaibeh, yang meninggalkan Suriah sejak tiga tahun lalu, harus membangun kehidupan barunya dua kali di dua negara baru, pertama Mesir kemudian Turki.

Pemilik bisnis pengembangan situs di Damaskus ini tetap membuka usahanya kendati perang saudara meletus.

Zaher Ghaibeh

Sumber gambar, Zaher Ghaibeh

Keterangan gambar, "Masa depan tidak jelas" kata dia. Setiap orang mengatakan kami hanya tamu. Tetapi sebagai tamu, cepat atau lambat kita harus pergi.”

Namun pada April 2012, dia menyadari, "segalanya mulai hancur." Jaringan internet melambat, pemadaman listrik rutin terjadi, dan karena sanksi ekonomi internasional terhadap pemerintah Suriah, dia tidak dapat menerima pembayaran melalui transfer dari klien asingnya.

Jadi Ghaibeh pun pergi ke negara tetangga Mesir, dan berupaya untuk melanjutkan bisnisnya dari sebuah kota kecil Ismailiah di Terusan Suez, tetapi listrik yang byar-pet di wilayah Mesir itu membuat dia jadi nyaris mustahil untuk menjalankan bisnisnya. Dia pun meninggalkan bisnisnya dan bekerja pada sebuah perusahaan teknologi di Inggris yang mengijinkan dia bekerja jarak jauh dari Ismailiah.

Saat itu, Ghaibeh mulai merasa tidak terlalu diterima di Mesir. Ketika pertama kali dia tiba, dia merasa secara umum warga Suriah diterima baik. Tetapi kondisi ekonomi dan keamanan memburuk setelah Abdel Fattah el-Sisi, menjadi presiden. Kecurigaan terhadap para pendatang meningkat dan pembatasan terhadap warga Suriah mulai diperketat.

Pengetatan visa diberlakukan - membuatnya susah bepergian ke acara-acara di luar negeri.

Setelah dua tahun bangkit berdiri di atas kaki sendiri di negara yang baru, tiba waktunya untuk pergi.

Ghaibeh pindah ke Turki, di mana dia melanjutkan pekerjaannya untuk perusahaan pengembangan seluler Inggris.

"Mereka mempercayai saya meskipun keadaan saya tidak stabil. Mereka mempercayai saya dengan memberikan peluang dan saya membuktikan diri saya. Sebagian besar warga Suriah butuh kesempatan itu. Begitu mereka mendapatkannya, mereka dapat membuktikan dirinya," kata dia.

Untuk saat ini, Ghaibeh melakukannya dengan baik di Istanbul, tetapi merindukan Suriah dan berharap untuk kembali. Setelah pergi dari Mesir, dia juga bertanya-tanya berapa lama dia akan dapat bertahan di sana.

Dari Damaskus ke Istanbul

Ketika perang sipil meletus pada 2012, bankir Hadil Abu Zahra melihat tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Banyak orang menarik uang mereka dari bank dan menukarnya ke dolar di pasar gelap dan banyak orang tidak membayar utang mereka.

Bagi Abu Zahra, itu merupakan tanda bahwa penduduk dan para pebisnis tidak memiliki harapan terhadap situasi di Suriah. Abu Zahra yang belajar perbankan dan asuransi di Universitas Damaskus, memutuskan untuk memburu gelar master di luar negeri. Dia menjual mobilnya, mendapatkan visa ke Lebanon dan lalu terbang ke Istanbul. Dia meninggalkan keluarganya, pengungsi Palestina sejak 1968 yang menghabiskan sebagin besar waktu mereka di kamp pengungsi Yarmouk dekat Damaskus.

Hadil Abu Zahra

Sumber gambar, John Wreford

Keterangan gambar, "Saya sekarang berada dalam situasi yang lebih baik dan saya menyiapkan banyak rencana lain," katanya.

Sayangnya, untuk melanjutkan kuliah ternyata lebih sulit dari bayangan Abu Zahra. Meskipun dia menyiapkan diri untuk tinggal di Istanbul sembari menunggu jawaban dari universitas di Kanada dan Prancis, dia kemudian menyadari sulit untuk memperoleh visa jika mengajukannya bukan dari negara tempat bermukim.

Yang paling bisa dia lakukan adalah mendapatkan visa turis yang berlaku enam bulan dan menghidupi dirinya dengan bekerja paruh waktu di layanan penerjemahan online. Setelah enam bulan, dia mengesampingkan ambisi melanjutkan kuliah dan mulai belajar bahasa Turki. Dia sangat cepat belajar: setelah 10 bulan belajar intensif, dia bisa menguasainya.

Dengan kemampuan bahasa Turki, pengalaman perbankan dan latar belakang pendidikan, kesempatan mulai terbuka. Dia mendapatkan pekerjaan sebagai project manager yang bisa dikerjakan dari rumahdan pindah ke Izmir, sebuah kota dengan biaya hidup murah. Kemudian dia ditawari posisi sebagai analis investasi di Bank Dunia, yang membawa dia kembali ke Istanbul.

"Tawaran pekerjaan dari Bank Dunia tak terjadi setiap hari. Saya dapat menabung lebih dahulu dan melanjutkan pendidikan master saya nanti," kata dia. "Saya sangat bahagia". Teman-teman dan keluarganya, yang awalnya tidak pendukung dia untuk meninggalkan Suriah, sekarang mengatakan dia sangat pintar dengan meninggalkan Suriah pada saat yang tepat dan belajar bahasa Turki.

Dia mengatakan lebih suka untuk tinggal di kawasan Laut Tengah bagian timur, yang cuaca dan kehidupan malamnya sangat ia sukai, tetapi dia tidak dapat membayangkan kembali ke Suriah pada saat ini.

Abu Zahra mengakui bahwa meskipun dia bersahabat dengan banyak orang Turki, dia tidak sepenuhnya merasa kerasan di Turki, terkait perlakuan terhadap komunitas Suriah yang seringkali miring.

Yang sangat membantunya adalah banyak staf di Bank Dunia tempatnya bekrja adalah warga asing. "Mereka juga merasa terisolasi dari masyarakat, dan kami saling membantu satu sama lain," katanya.

"Tentu saja saya merindukan Suriah, tetapi jika saya kembali, apa yang dapat saya lakukan? Tempat-tempat yang saya kenal telah hancur dan teman-teman saya telah pergi."

Ironisnya, Abu Zahra akhirnya mendapatkan visa ke Kanada, yang tak lagi dia butuhkan. Pada saat yang sama, dia mendapatkan banyak tawaraan bea siswa dan pekerjaan lain.

Dari Aleppo ke Beirut

Fouad Mohamad Foud merupakan seorang ahli bedah di Aleppo selama 20 tahun, ketika kota itu menjadi tak aman lagi baginya dan keluarganya. Dia meninggalkan kota itu pada 2013 untuk bekerja sebagai profesor peneliti kesehatan umum di Universitas Amerika di Beirut.

Istrinya, seorang insiyur, dan dua anaknya menyusulnya ke Lebanon dua bulan kemudian, sempat enggan untuk meninggalkan kehidupan dan kenangan indah di kampung halaman mereka.

Fouad Mohamad Foud

Sumber gambar, Brooke Anderson

Keterangan gambar, "Di tahap personal saya baik-baik saja," kata dia. "Tetapi ada ketidak-pastian mengenai masa depan. Kontrak untuk proyek saya berlaku lima tahun. Tetapi apa yang akan terjadi jika kontrak berakhir?”

"Saya beruntung mendapatkan pekerjaan di sini. Saya tahu tidak semua orang Suriah mendapat pekerjaan - bukan karena kemampuan mereka, tetapi karena peraturan di negara lain," kata dia.

Ia berharap negara-negara di kawasan menyadari apa yang bisa disumbangkan warga Suriah terhadap ekonomi mereka dan melonggarkan pembatasan ijin kerja.

'Orang hanya fokus pada.... beban dari para pengungsi, tidak ada yang berbicara mengenai kelas menengah," kata dia. "Bagaimana dengan keahlian mereka? Bagiamana dengan makanan dan layanan yang mereka konsumsi?"

Fouad juga menemukan sebuah cara untuk mengamalkan pengalaman dan kemampuannya: dia meneliti penyakit kronis terutama di kalangan warga Suriah. Dia mengatakan banyak kematian terjadi karena orang tidak menjalani operasi yang mereka butuhkan untuk penyakit kanker dan jantung. Atau tidak dapat melakukan perawatan rutin untuk penyakit akut mereka.

"Saya tahu bahwa saya bisa berguna. Tetapi bagaimana dengan orang yang tidak memiliki peluang untuk berkontribusi? Mereka akan kehilangan kemampuan mereka untuk melakukan hal-hal positif. Mereka nantinya bisa terpinggirkan," katanya.

Suatu saat, dia berharap akan kembali ke Suriah, meskipun, untuk sekarang ini, dia bersyukur dengan pekerjaannya, mengingat banyak orang Suriah yang memiliki keahlian tinggi yang tidak mendapatkan kesempatan yang sama.

<italic>Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris <link type="page"><caption> Rebuilding Lives -and Livehoods- after War</caption><url href="http://www.bbc.com/capital/story/20150720-rebuilding-lives-and-livelihoods" platform="highweb"/></link> atau artikel lainnya dalam<link type="page"><caption> BBC Capital</caption><url href="Vertical http://www.bbc.com/capital/story/20150720-rebuilding-lives-and-livelihoods" platform="highweb"/></link>.</italic>