Peraturan kantor yang membuat 'gila'

peraturan kantor

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Peraturan kantor diperlukan tetapi jika peraturan terlalu kaku akan berdampak buruk

Jika Anda bekerja di sebuah perusahaan dengan lebih dari dua belas karyawan, pasti ada aturan dan norma yang diharapkan dipatuhi setiap orang.

Namun apa yang terjadi ketika aturan tersebut terlalu kaku - atau ketika norma budaya tertentu membuat seseorang yang tidak berprestasi tetap memegang jabatannya? Beberapa tokoh berpengaruh di Linkedin membahas topik ini dan inilah pendapat mereka.

Travis Bradberry, Presiden di TalentSmart

"Perusahaan harus memiliki aturan," kata Bradberry dalam artikelnya Nine Idiotic Office Rules That Drive Everyone Insane. "Tapi tidak harus terlalu kaku dan dibuat sekadar menciptakan ketertiban."

Ketika perusahaannya telah berkembang, Bradberry tergoda untuk menanggapi perilaku tak pantas dengan menerapkan peraturan umum yang berlaku untuk semua orang. "Tapi di situlah kebanyakan perusahaan keliru," tulisnya.

"Dalam hampir setiap contoh, setelah diamati lebih dekat, kami menyadari bahwa membuat aturan baru akan menjadi cara yang pasif dan berdampak buruk pada moral karyawan dalam mengatasi masalah," jelas Bradberry. "Ketika perusahaan membuat aturan konyol dan meruntuhkan semangat untuk menghentikan perilaku aneh dari beberapa individu, itu akan menjadi masalah manajemen."

Jadi apa peraturan terburuk yang pernah dibuat perusahaan yang membuat para karyawan menjadi 'gila'? Bradberry mengungkap sembilan peraturan, diantaranya:

"Membatasi penggunaan internet. Ada situs tertentu yang tak pantas dibuka siapa pun selama kerja, dan yang saya maksud bukan Facebook. Tapi begitu Anda memblokir situs pornografi dan situs-situs sejenisnya, terjadi proses yang sulit dan semena-mena dalam menentukan batas-batas," tulisnya. "Orang-orang semestinya dibiarkan untuk mengisi waktu istirahat dengan berselencar di dunia maya. Ketika perusahaan membatasi aktivitas internet seseorang, itu tidak saja meruntuhkan semangat staf, namun juga membuat mereka sulit melakukan pekerjaan mereka.

"Wajib absensi saat masuk dan meninggalkan kantor. Orang-orang digaji untuk pekerjaan yang mereka lakukan, bukan untuk berapa jam mereka duduk di meja mereka. Ketika Anda menghukum karyawan bila mereka telat lima menit di kantor meski mereka secara rutin pulang lebih lama dan bekerja lembur pada akhir pekan, Anda mengirim sinyal bahwa peraturan lebih didahulukan dari pada kinerja. Itu menimbulkan rasa ketidakpercayaan," ungkapnya.

"Mencuri bonus poin penerbangan karyawan. Karyawan yang sering dinas ke luar kota, layak memperoleh bonus poin penerbangannya. Ketika atasan tidak membiarkan karyawan menggunakan bonus poin penerbangan mereka untuk keperluan pribadi, itu adalah tindakan yang serakah dan akan membuat rasa benci setiap kali karyawan harus dinas ke luar kota," tulis Bradberry. "Dinas luar kota adalah pengorbanan besar waktu, energi, dan kewarasan. Mengambil bonus poin karyawan menunjukkan Anda tidak menghargai pengorbanan mereka dan bahwa Anda pelit."

"Membuat peringkat prestasi. Ketika Anda memaksa karyawan untuk masuk ke dalam sistem peringkat yang telah ditentukan, Anda secara salah mengevaluasi kinerja orang, membuat semua orang merasa seperti nomor dan menciptakan rasa tidak aman dan ketidakpuasan; sementara karyawan yang berprestasi justru menjadi takut bahwa mereka akan dipecat karena sistem yang dipaksakan,"ujar Bradberry. "Ini adalah contoh lain dari kebijakan sembarangan, padahal seharusnya Anda bekerja keras untuk mengevaluasi setiap individu secara obyektif."

Hunter Walk, VC Homebrew Memecat orang tidak pernah mudah. Banyak perusahaan, terutama start-up (perusahaan yang baru didirikan), lamban dalam memecat karyawan yang berprestasi buruk, tulisnya dalam Five Excuses CEOs Give for Not Getting Rid of Low Performers. "Banyak alasan-alasan keliru yang saya dengar dari para pendiri perusahaan mengapa mereka belum menangani staf yang kinerjanya rendah."

Dan Anda harus menghindari hal-hal ini:

"Begitu banyak yang harus dikerjakan dan mereka turut berperan. Ya, mereka mungkin tidak sepenuhnya karyawan dengan prestasi nihil. Mereka bukan tidak hadir ke kantor, ongkang-ongkang kaki di meja dan makan biskuit selama 10 jam, tapi kinerja mereka yang kurang tetaplah negatif," kata Walk. "Ini biasanya memberi beban tambahan bagi seluruh tim Anda karena harus membantu atau memperbaiki masalah mereka."

"Tim sungguh menyukai mereka dan saya tidak ingin ambil risiko menghancurkan kultur perusahaan. Tidak, Anda justru mempertaruhkan kultur perusahaan Anda dengan mempertahankan mereka. Rekan satu timnya selalu tahu kinerja mereka di bawah rata-rata dan bertanya-tanya kenapa Anda tidak menanganinya. Setiap hari Anda menunda memecatnya, Anda memberi kesempatan bagi menularnya kinerja buruk atau menyebabkan staf Anda yang berprestasi untuk keluar," ungkapnya.

"Ini salah saya dan pimpinan yang lebih baik akan melatih mereka. Anda seharusnya meluangkan waktu lebih banyak untuk memotivasi dan menginspirasi pekerja Anda yang berprestasi dan merekrut lebih banyak karyawan berbakat ke perusahaan Anda. "Apakah ada hal-hal keliru yang Anda lakukan selama proses perekrutan atau saat orientasi awal karyawan baru sehingga mengakibatkan hal ini? Mungkin saja, tapi biarkan ini menjadi suatu pembelajaran buat Anda, jangan menambah kesalahan dengan menunda keputusan untuk memecat karyawan yang tidak berprestasi.

<italic>Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di <bold><link type="page"><caption> The office rules that drive us crazy</caption><url href="http://www.bbc.com/capital/story/20150709-office-rules-that-drive-us-crazy" platform="highweb"/></link></bold> dan artikel-artikel lain di <link type="page"><caption> BBC Capital</caption><url href="http://www.bbc.com/capital" platform="highweb"/></link>.</italic>