Covid-19: Alasan mengapa kita tidak bisa mengandalkan face shield saja

covid

Sumber gambar, Press Association

    • Penulis, Richard Gray
    • Peranan, BBC Future

Perisai plastik transparan yang menutupi wajah semakin banyak digunakan masyarakat di toko, salon kecantikan, hingga rumah sakit agar terlindung dari ancaman virus corona. Namun apakah face shield cukup menangkal penularan virus Covid-19 yang berkeliaran di udara bebas?

Dengan dada membusung penuh udara, Kerstin Rosenfeldt siap pada posisinya di panggung. Lampu-lampu telah dimatikan. Suasana hening. Dia lantas membuka mulut dan melontarkan suaranya untuk menyanyikan sekelumit bagian dari sebuah opera.

Selagi dia bernyanyi, percikan-percikan air liurnya terlontar keluar membentuk kabut embun. Nyala lampu dari sisi lain membuat adegan itu dapat disaksikan secara jelas. Setiap kata yang keluar dari mulutnya mendorong percikan air liur sejauh sekitar satu meter di hadapannya.

Meskipun dilebih-lebihkan, aksi Rosenfeldt dilakukan untuk mensimulasi sejauh mana percikan air liur bisa terlontar ketika manusia berbicara, bernapas, dan bernyanyi. Sesaat sebelum menyanyi, perempuan itu menghirup uap air sehingga menimbulkan kabut embun ketika dia buka suara.

Setiap kali kita mengucapkan sepatah-dua patah kata, kita menyemburkan ribuan percikan air ke udara di depan kita. Sebagian besar tak tampak kasat mata.

Tatkala seseorang tertular virus pernapasan seperti virus yang menyebabkan penyakit Covid-19, setiap percikan air liur mengandung ribuan partikel virus. Masing-masing partikel tersebut berpotensi menular ke orang lain yang berada di sekitar.

Kini bukti-bukti semakin banyak bahwa percikan air liur yang mengandung virus corona boleh jadi memainkan peranan penting dalam menyebarkan Covid-19.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak menganggap Covid-19 sebagai penyakit yang menyebar melalui udara—yang dapat bertahan selama sekian waktu di udara dan masih bisa menularkan virus—namun kini banyak ilmuwan yang mempercayainya.

covid

Sumber gambar, Bayerischer Rundfunk

Keterangan gambar, Aerosol dan percikan air liur menyembur paling jauh ketika seseorang batuk atau bersin, namun manusia masih merilisnya ketika bernyanyi, berbicara, bahkan bernapas.

Untungnya, Rosenfeldt tidak sedang menyebarkan virus corona ketika bernyanyi di panggung studio lembaga penyiaran Bavaria di Unterföhring, Munich.

Kendati demikian, percikan air liur dari mulut dan hidungnya dipantau dari dekat menggunakan kamera berkecepatan tinggi yang disusun Matthais Echternach, kepala bagian foniatrik dan audiologi anak-anak RS Universitas Ludwig-Maximilians Munich, serta Stefan Kniesburges, pakar mekanika fluida di RS Universitas Erlangen.

Mereka berharap mengetahui seberapa jauh penyanyi di panggung atau paduan suara perlu menjaga jarak satu sama lain dan penonton guna mengurangi risiko penyebaran Covid-19.

Cukup mengejutkan bahwa percikan air liur seorang penyanyi dapat mencapai jarak jauh ketika sedang dalam puncaknya.

"Beberapa penyanyi profesional bisa menciptakan awan aerosol hingga sejauh 1,4 meter di depannya," kata Echternach.

Percikan yang lebih besar meluncur ke depan dan menukik sejauh 1,5 meter.

Batuk bisa mengirim aerosol lebih jauh, hingga 1,9 meter, walau sejumlah kajian menunjukkan bahwa bersin bisa melontarkan awan aerosol sampai delapan meter.

Ketika Rosenfeldt memakai masker seperti yang dipakai tenaga kesehatan, situasinya berubah drastis. Alih-alih mengepul di hadapannya, awan aerosol menjadi kerdil. Lontaran aerosol kehilangan laju ketika masker berada pada hidungnya.

Walau virus masih dapat lolos ke udara saat dihalangi masker, jumlah aerosol yang membawa virus jauh berkurang.

"Tidak ada percikan besar ketika memakai masker," kata Ecthernach. "Aerosol lebih problematis. Jika masker tidak terpasang ketat, aerosol akan lolos dengan mudah. Masker mengurangi kecepatan aerosol yang melaju ke depan."

Uji coba dengan sembilan penyanyi lainnya dari Paduan Suara Radio Bavarian menunjukkan hasil serupa. Namun, semuanya kesusahan bernyanyi menggunakan masker, seperti yang kita alami saat memakai masker dalam beberapa bulan terakhir. Bernapas agak sulit memakai masker, dan bahan masker bisa meredam suara.

"Bernyanyi dengan memakai masker hampir mustahil," cetus Echternach, yang juga merupakan penyanyi terlatih.

"Sehingga kami melakukan eksperimen selanjutnya, dua penyanyi memakai face shield."

covid

Sumber gambar, Bayerischer Rundfunk

Keterangan gambar, Kerstin Rosenfeldt menghirup uap air sebelum bernyanyi untuk menunjukkan seberapa jauh percikan air liur bisa terlontar.

Face shield adalah perisai plastik transparan yang dipakai tenaga medis saat merawat pasien Covid-19. Namun, kini perangkat itu dapat dijumpai dengan mudah di toko dan salon kecantikan.

Beberapa paduan suara juga mulai berlatih dengan memakai face shield. Banyak orang memilih perangkat ini sebagai alternatif dari masker biasa ketika keluar rumah selama pandemi.

Ada banyak video daring yang menampilkan versi rumahan menggunakan sampul binder, botol kosong minuman soda, atau kemasan plastik bekas. Perusahaan-perusahaan besar, seperti Apple, Nike, Babcock, dan Ford menggunakan pabrik mereka untuk membuat face shield, sementara merek Oakley merancang face shield untuk dipakai pemain NFL.

Di beberapa negara, termasuk Inggris, ada anjuran resmi kepada pekerja yang bekerja dekat dengan masyarakat, seperti pemangkas rambut, penata rambut, ahli kecantikan, seniman tato, dan fotografer studio untuk mengenakan face shield.

Oleh sejumlah negara bagian di AS, para saksi di pengadilan, dosen di kampus, atau orang yang tampil di publik juga disarankan memakai face shield. Anjuran serupa dirilis pemerintah Singapura, sedangkan beberapa negara bagian di Australia menyebut face shield bisa dipakai di publik, alih-alih masker.

Perangkat ini jelas bagus untuk menghentikan percikan air liur pemakainya. Eksperimen yang dilakukan Echternach dan timnya menunjukkan percikan ludah dapat dengan cepat menjadi titik-titik lembab. Alat itu juga bisa membantu agar wajah pemakainya tidak kena ludah orang lain.

Yang sulit dalam memakai face shield adalah menghentikan aerosol.

"Hampir semua aerosol keluar pada sisi face shield dan mencapai jarak yang mirip dengan yang dicapai saat seseorang tidak mengenakan apa-apa," kata Echternach.

Hasil penelitiannya masih belum dipublikasikan, namun Echternach mengatakan hal tersebut bisa menjadi peringatan bagi siapapun yang terlalu mengandalkan face shield saja untuk menjaga diri mereka.

"Perangkat itu jelas tidak efektif ketika Anda berkontak dekat dengan orang lain," ujarnya.

covid

Sumber gambar, Bayerischer Rundfunk

Keterangan gambar, Dengan memakai masker, aerosol lolos dari celah masker pada bagian atas dan sisi, alih-alih meluncur ke depan.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat tampaknya sepakat dengan dia. Lembaga itu tidak merekomendasikan face shield untuk pemakaian sehari-hari atau sebagai pengganti masker.

Otorita kesehatan Swiss juga mewanti-wanti agar publik tidak mengganti masker dengan face shield setelah investigasi terhadap klaster penyebaran Covid-19 di sebuah hotel di Graubünden mengungkap bahwa semua yang terjangkit memakai face shield plastik, sedangkan mereka yang luput dari Covid-19 memakai masker.

Akan tetapi, bukti ilmiah efektivitas face shield beragam. Ketika riset Echternach mencari tahu apa yang terjadi ketika seseorang yang mungkin membawa virus memakai face shield, periset lainnya berupaya mengukur bagaimana alat itu bisa melindungi pemakainya dari orang-orang lain di sekitar.

Sebuah kajian, yang belum dipublikasikan, dari Institut Riset Biologi Israel menggunakan kertas yang sensitif air. Kertas itu lantas ditempelkan pada sebuah manekin yang memakai face shield. Hasilnya, perangkat tersebut efektif menghadang percikan air yang disemprotkan secara langsung ke pemakainya dari jarak 60cm.

Face shield juga kelihatanya 10 kali lebih efektif menahan aerosol halus ketimbang masker.

Perisai punya sejumlah manfaat lebih dibandingkan dengan masker, seperti melindungi mata—yang bisa menjadi pintu masuk bagi beberapa virus ke dalam tubuh.

Alat ini juga bisa membantu mengurangi kebiasaan orang menyentuh wajah dan menularkan virus kepada diri sendiri melalui benda-benda yang disentuh tangan. Face shield pun secara umum dianggap lebih nyaman dan tidak terlalu membuat kacamata berkabut ketika pemakainya bernapas.

"Face shield menawarkan sejumlah keuntungan," tulis Eli Perencevich, ahli epidemiologi dari Universitas Iowa dalam sebuah artikel pada Journal of the American Medical Association, sembari menyarankan penggunaannya kepada masyarakat luas.

"Tatkala masker medis punya ketahanan terbatas dan kurang berpotensi untuk diproses ulang, face shield dapat digunakan lagi secara berulang-ulang serta mudah dibersihkan dengan air dan sabun, atau disinfektan biasa di rumah. Pemakai masker medis kerap harus membukanya untuk berkomunikasi dengan orang lain di sekitar mereka; ini tidak perlu dilakukan ketika memakai face shield."

covid

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pemangkas rambut yang memakai face shield bisa berjalan-jalan dalam jarak dekat dengan pelanggan seraya memotong rambut.

Namun, face shield hanya benar-benar efektif dalam kondisi ideal" ketika seseorang batuk secara lurus pada permukaan plastik. Dalam situasi sehari-hari, seperti di salon rambut, pemangkas rambut yang memakainya bisa berjalan-jalan dalam jarak dekat dengan pelanggan seraya memotong rambut.

Saat para peneliti Israel memindahkan "sumber batuk" hanya 30cm di bawah atau di atas face shield —namun tetap menjaganya pada posisi horisontal sejauh 60cm—wajah manekin terkena muncratan percikan yang menyembur di sisi perisai.

Pada situasi-situasi ini, mereka memperkirakan perisai itu hanya 45% efektif menahan percikan air liur.

Uji coba dengan aerosol dan percikan ludah yang mengandung virus jarang dilakukan, namun analisis Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Morgantown, West Virginia, menemukan bahwa face shield dapat memblokir 96% percikan besar batuk yang mengandung virus influenza.

Namun, aerosol batuk berukuran kurang dari 3,4 mikrometer, face shield hanya mampu memblokir 68%.

Ada pula keruwetan lain. Sebagaimana ditunjukkan dalam uji coba penyanyi yang dilakukan Echternach dan timnya, kabut halus yang dirilis selagi kita berbicara, bernyanyi, dan batuk tidak serta-merta hilang ketika mencapai sekitar satu meter. Saat percikan besar akan cepat jatuh ke tanah atau permukaan lain, percikan mikro yang kita hasilkan bisa mengambang di udara selama beberapa menit, dan dalam kasus, beberapa jam.

Pada ruangan yang punya ventilasi udara yang bagus, atau dengan udara mengalir, durasi percikan itu tetap berada di udara diperkirakan lebih singkat.

Terdapat seumlah laporan bahwa percikan yang terkontaminasi dengan virus corona bisa menyebar melalui sistem ventilasi gedung. Uji swab pada saluran udara di sebuah rumah sakit Singapura yang menangani pasien-pasien Covid-19 terbukti positif mengandung virus corona.

Aerosol mengandung virus yang berkelana di ruangan dapat dengan mudah menyelinap ke bukaan pada sisi perisai plastik.

Rangkaian tes yang dilakukan Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja menunjukkan aerosol yang tersebar di ruangan bertahan selama 30 menit setelah seseorang batuk. Dalam situasi ini, face shield hanya mampu mengurangi dihirupnya aerosol mengandung virus sebanyak 23%.

Tentu masih belum jelas berapa banyak virus Covid-19 yang dapat dibawa percikan aerosol. Riset flu memperkirakan percikan mikro tipe ini bisa mengandung puluhan ribu virus influenza.

Riset yang lebih baru memperkirakan virus tersebut bisa bertahan pada percikan ludah selama tiga jam selagi mengambang di udara.

Sebagian besar peneliti, Echternach salah satunya, sepakat bahwa mungkin cara paling efektif menggunakan face shield adalah dibarengi dengan memakai masker.

"Hanya memakai face shield tidak akan terlalu protektif," kata Echternach.

Semakin klop masker pada mulut dan hidung, semakin baik, imbuhnya.

corona

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sebagian besar peneliti sepakat bahwa mungkin cara paling efektif menggunakan face shield adalah dibarengi dengan memakai masker.

Celah pada masker bisa menyebabkan aerosol lolos dan menyelinap ke dalam. Bahkan masker yang ketat seperti N95 bisa berkurang efektivitasnya hanya kerena segelintir rambut pada lapisan penutup.

Bagi mereka yang berharap bisa ikut paduan suara atau bernyanyi dalam acara keagamaan, Echternach dan kolega-koleganya punya saran tambahan: jaga jarak setidaknya 2,5 meter pada bagian depan serta 1,5 meter pada bagian samping ketika bernyanyi.

Berada di ruangan yang punya ventilasi bagus juga penting, lanjut Echternach.

Walau temuannya bisa diterapkan pada situasi berbeda, kekhawatirannya soal bernyanyi tidak berlebihan.

Salah satu kasus penyebaran luar biasa Covid-19 terjadi pada saat Skagit Valley Chorale latihan paduan suara selama 2,5 jam di Mount Vernon, Washington, AS. Sebanyak 53 dari 61 anggota paduan suara yang mengikuti latihan belakangan jatuh sakit dan dikonfirmasi atau suspek Covid-19. Dua orang di antara mereka kemudian meninggal dunia.

Diduga seorang anggota paduan suara mengalami "gejala seperti flu" dua hari sebelum latihan bernyanyi.

"Kejadian itu sangat buruk karena membuat bernyanyi sebagai contoh yang sungguh jelek. Disayangkan karena menyanyi sangat bagus untuk kesehatan dan kondisi mental kita," kata Echternach.

Bagi Kersten Rosenfeldt dan rekan penyanyi lainnya di Paduan Suara Radio Bavarian, informasi apapun mengenai cara tetap aman dari virus mendapat sambutan.

"Ada kehausan yang besar soal pengetahuan mengenai topik ini," kata Susanne Vongries, manajer paduan suara.

Seperti halnya dengan orang-orang lainnya di dunia, mereka kini menunggu bagaimana jadinya pandemi ini.

Artikel ini dapat Anda baca dalam versi bahasa Inggris pada BBC Future dengan judul Why a face shield alone may not protect you from coronavirus.