Mungkinkah perempuan memiliki kendali penuh atas tubuh dan kehamilan mereka?

ibu hamil, perempuan hamil, kehamilan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Alat pencegah kehamilan dan aborsi membantu perempuan memiliki kendali lebih banyak soal kehamilan, tapi tidak semuanya tersedia untuk berbagai alasan.
    • Penulis, Rachel Nuwer
    • Peranan, BBC Future

Walaupun kini sudah tersedia banyak jenis kontrasepsi, lebih dari sepertiga kehamilan di dunia tidak direncanakan. Apakah seorang perempuan bisa mengendalikan kapan dan pada usia berapa mereka mengandung?

Selama puluhan tahun, masyarakat memperlakukan perempuan di bawah derajat laki-laki dalam nyaris semua hal, mulai dari urusan biologis hingga masalah kecerdasan.

Para ilmuwan, yang sepanjang sejarah didominasi oleh laki-laki, juga melihat dunia dari kaca mata mereka. Para peneliti yang mempelajari sistem reproduksi hewan, misalnya, hampir selalu berfokus pada pejantan.

"Dulu, ada gagasan bahwa alat reproduksi perempuan adalah organ yang pasif, di mana sperma berlabuh dan sel telur tidak melakukan apa-apa," ujar Patrice Rosengrave, peneliti dari Universitas Otago di Christchurch, New Zealand.

"Semua dianggap berkaitan dengan pria— dengan sperma."

Hanya baru-baru ini saja, peneliti menemukan berbagai metode mengejutkan yang digunakan banyak spesies betina untuk menegaskan hak atas keturunan mereka.

Ovarium ikan salmon betina yang berbentuk cair, misalnya, secara aktif mempercepat atau memperlambat sperma dari pejantan tertentu. Ovarium itu juga memastikan pembuahan berasal dari pejantan yang lebih mereka sukai.

Setelah proses inseminasi, contoh lain, tikus dan ayam hutan merah betina menyeleksi dan menolak sperma yang berasal dari pejantan dengan kedekatan genetis untuk mencegah perkawinan sedarah.

Lalat drosophila betina bahkan bisa menyimpan sperma di organ khusus untuk menggunakannya belakangan. Mereka juga secara selektif memilih sperma dari pejantan yang mereka sukai.

Dan karena bebek jantan cenderung memperkosa betinanya dengan penis yang memilin berlawanan dengan arah jarum jam, bebek betina berevolusi, menciptakan vagina dengan rotasi searah jarum jam untuk mencegah kopulasi secara paksa.

Manusia memang tidak bisa beradaptasi layaknya bebek dan lalat. Namun perempuan sekarang pun sudah punya lebih banyak kontrol atas kehamilan mereka, antara lain melalui penggunaan alat kontrasepsi, pil, dan aborsi.

Namun alat-alat ini tidak tersedia untuk seluruh perempuan di dunia atau disukai semua orang. Mungkin karena alasan-alasan pribadi, religi, atau budaya, beberapa perempuan tidak mau menggunakan metode kontrasepsi di atas.

Sementara itu, mereka yang menginginkannya tak selalu bisa mendapatkannya. Misalnya, para perempuan di negara-negara miskin yang tak punya akses ke alat pencegah kehamilan atau mereka yang tinggal di negara yang tak melegalkan aborsi.

Tentu saja, adanya akses pada pengontrol reproduksi tak berarti alat-alat tersebut sepenuhnya berguna. Banyak alat kontrasepsi gagal, keputusan yang dibuat tergesa-gesa membuahkan kehamilan yang tak diinginkan, pekerja seks dipaksa tak memakai kondom, laki-laki memperkosa perempuan, dan tak terhitung banyaknya perempuan yang suaranya tidak dipertimbangkan kapan, seberapa sering, atau dalam keadaan apa seks terjadi.

Bagaimana kalau semua perempuan tiba-tiba memiliki kemampuan reproduktif seperti yang kita lihat pada binatang?

Mari berangan-angan, bagaimana jika perempuan bisa secara ajaib mengendalikan sepenuhnya, kapan dan di usia berapa mereka bisa hamil, juga dihamili oleh siapa, termasuk pada kasus-kasus perkosaan, di mana hak perempuan memilih partner seksual tidak dihormati?

Pertanyaan ini, meski hipotetis, adalah awal dari perdebatan bagaimana kemampuan seperti itu bisa menguntungkan bagi perempuan dan masyarakat secara umum.

Namun pertanyaan itu juga akan menimbulkan berbagai serangan baru dari mereka yang tidak ingin perempuan memiliki kontrol begitu besar. Ini sekali lagi menegaskan betapa jauhnya kehidupan kita dari dunia yang menjamin semua perempuan memiliki otonomi atas tubuh mereka sendiri.

Ikan

Sumber gambar, BORIS HORVAT/AFP

Keterangan gambar, Banyak hewan betina berevolusi sehingga mereka bisa memilih siapa pejantan yang membuahi mereka.

Menurut data 2012—data terbaru yang tersedia—40% dari 85 juta kehamilan di dunia tidak direncanakan. Di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, persentasenya bahkan lebih tinggi, yaitu 45% dari enam juta kehamilan per tahun.

Bagi perempuan, kemampuan ini akan memberikan kenyamanan karena "tubuh mereka tidak akan tiba-tiba berubah drastis karena hamil", kata Karen Newman, konsultan manajemen seksual dan kesehatan di London.

Tidak lagi bergantung pada alat kontrasepsi berarti menghemat uang dan menghindari potensi efek sampingnya. Sekitar 500 juta perempuan, misalnya, setidaknya sekali dalam hidupnya pernah meminum pil KB.

Beberapa pengguna pil mengaku mengalami depresi, penyumbatan aliran darah, migrain, dan merasa gelisah. Sterilisasi, sebagai metode pencegahan kehamilan terpopuler di dunia, juga menimbulkan risiko komplikasi yang bisa mengakibatkan kematian.

Apakah memiliki kendali biologis total atas tubuh akan mengakibatkan perempuan berperilaku seks berisiko? Atau jumlah penularan penyakit seksual tiba-tiba meningkat karena hubungan seksual terjadi tanpa pengaman?

"Kami belum melihat itu terjadi sejak penggunaan alat kontrasepsi yang efektif," kata Wendy Chavkin, profesor ilmu kesehatan masyarakat dan perempuan, kebidanan dan ginekologi di Universitas Columbia, New York.

Sebuah penelitian yang melibatkan nyaris 8.000 perempuan di AS, misalnya, tidak menemukan bukti yang menyebutkan pemberian kontrasepsi gratis pada perempuan lantas meningkatkan jumlah partner seksual mereka atau meningkatnya kuantitas mereka melakukan seks.

Tanpa kehamilan yang tidak diinginkan, kita berpikir jumlah aborsi juga akan turun. Fakta ini ditemukan dalam penelitian di atas. Memberikan akses pada kontrasepsi untuk perempuan menurunkan tingkat kehamilan tak diinginkan dan tingkat aborsi, dengan jumlah yang signifikan di kalangan remaja.

Tentu hasil penelitian ini menguntungkan bagi orang-orang yang pro dan antiaborsi. Bagi perempuan, ini jauh lebih aman. Setiap tahun, setidaknya 25 juta perempuan melakukan aborsi berisiko, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Prosedur seperti ini, yang kerap kali dilakukan praktisi kesehatan yang tidak memenuhi syarat dan dalam kondisi yang tidak steril, adalah penyebab utama komplikasi.

Nilai uang setara US$553 juta (Rp7,7 triliun) per tahun hilang untuk perawatan. Prosedur ini juga menyumbang 13% kematian yang berhubungan dengan persalinan per tahun.

"Di negara-negara Barat, hepotetis ini tidak akan banyak efeknya, karena proses aborsi cenderung aman di sini," ujar Chavkin.

"Namun bila satu-satunya pilihan yang Anda miliki adalah membiarkan seseorang menyogok serviks Anda dengan tongkat di sub-Sahara Afrika atau Amerika Latin, maka, ya, ini adalah perbedaan yang sangat besar, karena saat ini banyak orang meninggal atau cacat karena prosedur sangat berbahaya ini."

Artinya, hipotetis bahwa perempuan berhak mengontrol total kehamilannya, tetap mengharuskan kita menyediakan prosedur aborsi yang aman. Alasannya, keputusan untuk mengandung hanyalah sebagian kecil dari perencanaan kehamilan.

Selama sembilan bulan, perempuan hamil bisa saja menerima diagnosis medis yang bisa mengubah keputusan mereka, misalnya hasil tes yang menunjukkan janin tidak bisa bertahan di luar rahim atau adanya ancaman kesehatan yang mengancam nyawa si ibu bila kehamilan dilanjutkan.

"Ada banyak hal yang mengubah kehamilan yang diinginkan menjadi peristiwa yang tidak bisa dihadapi oleh perempuan," kata Newman.

ibu hamil, perempuan hamil, kehamilan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Walaupun populasi global meningkat, perempuan di nyaris seluruh lapisan masyarakat di dunia mempunyai lebih sedikit anak ketimbang dulu.

Tingkat kelahiran juga akan turun. Namun ini tidak lantas pertumbuhan populasi dunia, yang diperkirakan mencapai 10,9 miliar pada 2100, akan stabil dalam sekejap.

Akan ada perempuan yang masih ingin memiliki banyak anak, tekanan budaya serta ekspektasi sosial terhadap perempuan yang memiliki lebih dari satu anak.

Namun bila semua ini digabungkan—kehamilan tak terencana yang lebih sedikit, anak lebih sedikit, dan aborsi berisiko yang lebih sedikit—maka perempuan dan masyarakat lebih luas yang diuntungkan.

"Jika Anda mengurangi satu hal yang mungkin saat ini menghalangi kehamilan yang terus-menerus, dari pendirikan, karir atau keinginan lainnya, maka dunia akan menjadi tempat yang sama sekali berbeda untuk perempuan," kata Susannah Mayhew, profesor kesehatan reproduksi dan sistem kesehatan di London School of Hygiene and Tropical Medicine.

Lebih banyak perempuan akan mampu menyelesaikan pendidikan dan turut serta menjadi bagian dari angkatan kerja. Akan muncul kesesuaian dengan banyaknya bukti yang menunjukkan korelasi antara perencanaan keluarga, lebih sedikit anak dan berlanjutnya tingkat pendidikan.

Hal ini pun akan membantu menggenjot ekonomi dan membantu negara-negara berkembang secara lebih berkelanjutan," kata Mayhew.

Negara yang berhasil maju tanpa mengurangi tingkat perkembangan penduduk adalah negara kaya minyak di jazirah Arab.

Bertambahnya akses perempuan ke jabatan-jabatan publik juga akan mengubah dunia menjadi lebih baik secara radikal.

"Memiliki perempuan di posisi pengambil keputusan akan menjadikan masyarakat lebih tenggang rasa, bahagia, dan damai."

"Yang pasti mereka akan punya tujuan lebih baik ketimbang terus-terusan mencari uang atau berkompetisi siapa yang punya nuklir lebih banyak," tukas Mayhew.

Ia berkata, banyak penelitian yang menyatakan perempuan memiliki kemampuan memimpin dengan empati dan memprioritaskan nilai-nilai sosial.

ibu hamil, perempuan hamil, kehamilan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Lebih banyak perempuan bisa menempuh pendidikan dan menjadi angkatan kerja jika mereka memiliki kontrol penuh atas kapan dan bagaimana mereka memiliki anak.

Jika perempuan memiliki kontrol penuh atas kehamilan, kita akan melihat lebih banyak perempuan yang lebih tua menjadi ibu. Saat ini, jumlah perempuan yang menunda kehamilan semakin banyak.

Memastikan bahwa kehamilan bisa terjadi di usia lebih tua menghilangkan tekanan untuk mengandung di usia muda. Meski, menurut Mayhew, kehamilan di usia akhir 40 tahun atau 50 tahun memiliki risiko lebih tinggi untuk komplikasi kesehatan anak, seperti down syndrome.

Tapi meskipun begitu, Mayhew menegaskan bahwa kehamilan di usia belasan tahun jauh lebih berbahaya ketimbang di awal umur 40 tahun. Ibu yang lebih tua juga lebih bisa menjamin kesejahteraan anak, karena umumnya mereka sudah lebih mapan.

Bagaimana bila pembahasan angan-angan kita berlanjut dengan kemungkinan perempuan bisa menyimpan sperma pria untuk digunakan di kemudian hari?

Tentu saja, akan ada perdebatan lain tentang etika dan persetujuan kedua belah pihak.

Perempuan akan menuntut sperma dengan kualitas terbaik, antara lain dengan pertimbangan intelektual, ketampanan atau sifat. Ini bisa menimbulkan kompetisi baru di kalangan pria.

"Bisa jadi perempuan akan merasa mereka akan selalu bisa mencari pria terbaik untuk menjadi ayah anak-anak mereka," kata Renee Firman, ahli evolusi biologi di University of Western Australia di Perth.

ibu hamil, perempuan hamil, kehamilan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sampai perempuan di seluruh dunia diperlakukan sejajar dengan laki-laki, kita mungkin tidak akan pernah melihat perempuan memiliki kontrol penuh atas kapan dan oleh siapa mereka bisa dihamili.

Karena kemungkinan ini, para pria bisa jadi akan lebih rajin menggunakan kondom ketimbang sekarang.

Mengetahui bahwa pasangan mereka mungkin menyimpan sperma dari pria lain, para calon ayah bisa jadi akan menyimpan kekhawatiran bahwa anak yang dikandung pasangan mereka bukan keturunan mereka, sehingga tes paternal menjadi lebih umum.

Dalam waktu yang sangat panjang, laki-laki juga mungkin berevolusi dengan sperma yang bisa membunuh sperma pria lain yang tersimpan di tubuh perempuan, atau mengembangkan mekanisme biologi lain untuk memperbesar kesempatan mereka memiliki keturunan.

Bila semua ini benar-benar terjadi, dinamika hubungan akan berubah. Beberapa pria tidak akan menyambut baik perubahan ini, karena menganggap kemajuan biologis perempuan sebagai ancaman.

Kaum laki-laki bisa jadi mengembangkan "segala upaya dan hukuman untuk membatasi akses ke apapun yang bisa memberi perempuan kendali penuh atas kesuburan, tubuh, dan kehidupan mereka," kata Chavkin."

Laki-laki juga bisa saja terdorong mengembangkan narasi yang memojokkan perempuan sebagai makhluk egois yang mementingkan diri sendiri ketimbang bayi."

"Eksperimen ini, bila kita pikirkan lagi, bisa saja menjadi seperti The Handmaid's Tale," imbuh Newman, merujuk pada novel karangan Margaret Atwood.

Mengesampingkan semua fantasi di atas, satu hal yang pasti, ujar Mayhew: realitas saat ini masih jauh dari angan-angan. Perempuan di banyak tempat masih belum diperlakukan sejajar dengan laki-laki.

"Bahkan di negara-negara kaya, kesetaraan gender membutuhkan perubahan radikal dari status quo. Pola pikir seluruh lapisan masyarakat harus diubah," ujar dia.

"Sangat menyedihkan membayangkan dunia yang berbeda dalam hal itu saja masih begitu sulit."

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul What if women had total control over pregnancy? pada laman BBC Future.