'Kita dan Mereka': Foto-foto langka dari kelompok orang yang tertutup dari mata dunia

Korea Utara

Sumber gambar, EDDO HARTMANN

Keterangan gambar, Salah satu sudut Kota Pyongyang, Korea Utara, yang diabadikan tahun 2015 oleh Eddo Hartmann.
    • Penulis, Arwa Haider
    • Peranan, BBC Culture

Sebuah pameran seni menyatukan sejumlah proyek fotografi yang menawarkan jendela kecil untuk melihat kelompok masyarakat yang selama ini tertutup dari komunitas global.

Pameran ini memberikan perspektif terhadap beberapa isu yang kerap menuai pro-kontra, baik bagi yang melihat maupun fotografer yang mengabadikannya.

"Komunitas" adalah terminologi yang sarat makna. Kata ini menunjukkan kekuatan kolektif dan tempat perlindungan pada masa-masa sulit.

Istilah ini pun membangkitkan rasa memiliki, tapi mungkin juga mengungkap yang tertutup, yang tidak diketahui, yang ditakuti, dan yang tidak dikenal.

Baca juga:

Pameran fotografi kolektif bertajuk Us and Them (Kita dan Mereka) mengeksplorasi dinamika itu. Pameran ini menelisik bagaimana komunitas diciptakan dalam batasan dan pengucilan dari komunitas lainnya.

Ekshibisi ini adalah bagian dari proyek fotografi tiga tahunan bertema 'ideologi', RAY 2021. Ajang ini berlangsung di Frankfurt Rhine-Main, Jerman.

Perhelatan ini mengumpulkan proyek kontemporer empat seniman Eropa yang sangat beragam, menghasilkan perspektif yang intim dan menggugah pertanyaan tentang identitas dan masyarakat.

Salah satunya adalah karya berjudul Kontakt yang dibuat fotografer dan pembuat film yang berbasis di Hungaria, Mate Bartha. Seri fotonya memperlihatkan perkemahan musim panas militer untuk anak-anak Hongaria berusia 10 hingga 18 tahun.

Perkemahan itu dirancang untuk menanamkan disiplin, membina persahabatan dan patriotisme.

Yang kedua adalah riset foto yang dikerjakan fotografer yang berbasis di Hamburg, Paula Markert, berjudul A Journey Through Germany: The NSU Serial Murders.

Proyek foto itu mendokumentasikan persidangan kelompok National Socialist Underground Jerman. Mereka adalah kelompok ekstremis sayap kanan yang melakukan beberapa pembunuhan berlatar xenofobia pada periode 2000-2007.

Proyek foto ketiga dikerjakan Salvatore Vitale, berjudul How to Secure a Country. Dia merekam pandangan abu-abu tentang rezim keamanan Swiss yang canggih.

Adapun dalam proyek foto berjudul Setting the Stage, fotografer asal Belanda, Eddo Hartmann, menyajikan visual langka dari "Ibukota Revolusi" Korea Utara, Pyongyang.

Fotografi

Sumber gambar, Mate Bartha

Keterangan gambar, Salah satu foto dalam proyek fotografi berjudul Kontakt, karya Mate Bartha.

"Empat proyek foto dalam pameran ini berkaitan dengan tema pembentukan identitas, mengikuti prinsip demarkasi dan eksklusi," kata Anne-Marie Beckmann, Direktur Yayasan Fotografi Deutsche Borse. Dia adalah penggagas pameran kolektif ini.

"Cara untuk memelihara rasa memiliki, kekuatan dan kendali berkisar dari pembentukan sistem keamanan yang komprehensif hingga penciptaan mitos dan membangkitkan citra musuh untuk dilawan."

"Eksklusivitas atau pembedaan dari 'yang lain' adalah fenomena yang terlihat sebagai cara mudah untuk menciptakan identitas," ujarnya.

"Cara pembentukan identitas seperti ini banyak diterapkan akhir-akhir ini karena lebih sulit mengidentifikasi dunia global yang kompleks ketimbang menjadikan hal-hal familiar sebagai standar sekaligus mengecualikan semua orang yang tidak sesuai."

Beckmann berkata, emosi dan ketegangan dari pameran ini didorong oleh berbagai paradoks.

"Ini menunjukkan perkembangan masa ini, yaitu globalisasi, jaringan digital, pembentukan komunitas besar negara dan aliansi internasional yang sepertinya membawa populasi dunia lebih dekat dalam kebersamaan," ucapnya.

"Pada saat yang sama, upaya untuk menetapkan batas-batas nasional semakin terungkap."

Fotografi

Sumber gambar, Paula Markert

Keterangan gambar, Hatice Taskopru, ibu dari Suleyman, korban pembunuhan NSU ketiga, 2014, di Hamburg . Foto ini diabadikan Paula Markert.

Dalam seri foto Kontakt, Mate Bartha memotret pemuda abad ke-21 dalam suasana perkemahan musim panas luar ruangan Honvedsuli (Sekolah Pertahanan Dalam Negeri) yang tampak bersahaja. Di sana mereka melakukan kamuflase, berpartisipasi dalam sesi pembangunan tim, berlatih keras, dan memainkank simulasi perang, termasuk cara menggunakan senjata replika.

Foto-foto dalam seri ini - sebagian merupakan reportase, sisanya foto potret- ada yang terlihat menakutkan dan ada juga yang memilukan.

Dalam salah satu foto hutan, sekelompok anak laki-laki berkumpul untuk peregangan, mereka terlihat seperti anak kecil dan tentara secara bersamaan.

Itu membuat kita mempertanyakan aspek "alamiah atau pembentukan" sekelompok manusia dan perlu tidaknya kita untuk menentangnya.

Proyek foto ini juga membuat Bartha, seorang yang mengeklaim diri penentang perang, untuk merenungkan sudut pandangnya.

"Perang dan kekerasan adalah hal-hal yang saya benci dari manusia," katanya.

"Sun Tzu menulis dalam The Art of War bahwa perang hanya boleh dilakukan ketika semua pilihan lain habis: situasi yang, seperti yang diajarkan sejarah kepada kita, tampaknya terjadi sesekali.

"Ini menunjukkan bahwa terlepas dari hubungan emosional kita dengan konsep perang, hal itu tidak boleh diperlakukan sebagai tabu... kemungkinan perang dalam kasus Hungaria atau potensi eksploitasi politik dengan dalih membela negara adalah pertanyaan lain," ujarnya.

"Komunitas yang saya ikuti memberi anak-anak wawasan soal karir yang mungkin mereka pertimbangkan dan kerap kali mereka menanggalkan peluang itu pada akhir perkemahan.

"Namun lebih dari itu, ajang tujuh hari ini adalah tentang belajar menghargai hal-hal yang sangat sederhana seperti alam atau mendukung sebenarnya komunitas yang sangat inklusif," ucapnya.

Alih-alih menjadi konsep yang berdiri sendiri, LSM Honvedsuli yang dikelola mantan tentara Legiun Prancis rupanya mengambil inspirasi dari program Kadet Angkatan Darat Inggris.

Program di Inggris itu kini dibuka untuk umum dan diiklankan secara online untuk anak-anak berusia 12 hingga 18 tahun, dengan iming iming 'persahabatan, petualangan dan kesenangan'.

Fotografi

Sumber gambar, Mate Bartha

Keterangan gambar, Salah satu foto dalam proyek fotografi berjudul Kontakt, karya Mate Bartha.

"Ada ambivalensi dalam proyek foto ini yang menjadi salah satu ide motivasi utama tentang itu," kata Bartha.

"Militer dan tentara negara menciptakan perbatasan antara kami dan mereka. Tampaknya gagasan itu sendiri tidak bisa bertahan tanpa perbedaan ini.

"Namun dalam konteks kelompok orang yang saya amati [terutama anak-anak dari desa-desa tertentu, wilayah Hungaria yang relatif kecil] ada suasana inklusi dan penerimaan yang sangat serius, dalam hal etnis, agama atau status sosial.

"'Persahabatan' adalah salah satu prinsip panduan utama yang mereka ikuti. Menurut saya itu selalu layak untuk dievaluasi ulang atau menyempurnakan stereotip kami. Dan dalam kurasi pameran 'Kami dan Mereka', proyek saya dapat menyesuaikan dengan teka-teki pendekatan artistik yang lebih besar terhadap topik tersebut," kata Bartha.

Tampaknya ada kontras yang mencolok antara nada dan topik Kontakt yang dikerjakan Bartha dengan proyek A Journey Through Germany karya Paula Markert. Meski begitu keduanya benar-benar mencerminkan identitas dan afiliasi dari orang yang melihatnya dan penciptanya sendiri.

Studi intensif Markert muncul setelah nama teroris dari kelompok sayap kanan NSU diungkap pada tahun 2011. Persidangan pembunuhan ini dimulai pada 2013.

Para korbannya, antara lain seorang polisi perempuan Jerman dan sembilan warga sipil keturunan Turki dan Yunani. Sembilan sipil ini yang kebanyakan menjalankan bisnis kecil. Kepolisian Negara Bagian Bavaria selama bertahun-tahun bersikeras bahwa mereka terlibat sindikat penyelundup imigran.

Banyak laporan media Jerman menggunakan istilah kasar yang meremehkan para korban sebagai "mereka", bukan "kita". Majalah Der Spiegel mengkritik "penunjukan diskriminatif" ini dalam artikel tahun 2012.

Fotografi

Sumber gambar, Paula Markert

Keterangan gambar, Salah satu foto dalam seri fotografi karya Paula Markert, berjudul A Journey through Germany: The NSU series of murders.

"Ada kesadaran bahwa tatanan rasial dalam masyarakat memungkinkan tiga pelaku teror tetap bebas dalam waktu lama. Semakin banyak penelitian mendalam dilakukan terhadap kasus ini mendorong penyelidikan atas kasus tersebut oleh negara. Melalui proses itu menjadi begitu asing bagi saya," kata Markert.

"Antara musim gugur 2014 dan musim semi 2017, saya melakukan perjalanan melalui tempat-tempat di Jerman yang disinggahi trio NSU. Saya memotret orang-orang dan lokasi yang berkaitan dengan kasus ini.

"Hasil montase foto dan fragmen teks dari dokumen resmi, antara lain komite penyelidikan, final laporan, putusan hukum, dan wawancara, membantu merumuskan pertanyaan yang belum terselesaikan tentang keterlibatan otoritas Jerman dalam eksistensi NSU yang rumit," ujar Markert

Mengangkat kerudung

Karya Markert sering menangkap momen atau wawasan yang biasanya "tidak terlihat" atau disembunyikan dari pandangan publik.

Dia menggambarkan pendekatan visualnya yang relatif langka sebagai "keputusan yang kurang konkret tetapi lebih dipengaruhi minimnya aksesnya terhadap studi keberadaan NSU yang kompleks".

Banyak lanskap yang secara ekspresif tidak berpenghuni, meskipun satu gambar bergerak yang mengesankan menampilkan ibu dari korban pembunuhan Suleyman Taskopru; cinta, dan kesedihan, pasti emosi universal.

"Konsep fotografi dalam hal ini dipengaruhi baik oleh semacam kebisuan terhadap pengetahuan yang diperoleh tentang tanah air saya, maupun oleh kebingungan tertentu terhadap subjek fotografi lanskap dan arsitektur," kata Markert.

Baca juga:

"Proyek foto saya adalah upaya untuk merumuskan pertanyaan tentang keadaan suatu negara, rasisme struktural dan kegagalan pihak berwenang dan untuk memandu publik menyelami kompleksitas NSU.

"Menurut saya, dalam kondisi terburuk, ideologi radikal yang keras dapat mengarah pada ekstremisme dan terorisme."

Salvatore Vitale pindah ke Swiss pada usia 18 tahun, dan dia menggambarkan sudut pandang "orang luar"-nya sendiri sebagai kunci untuk membentuk perspektif "orang dalam" komparatif tentang Cara Mengamankan Negara.

"Saya mampu mengembangkan pemahaman tentang sistem keamanan Swiss yang bebas dari prasangka dan prasangka apa pun," kata Vitale.

"Saya juga memperhatikan konstruksi, tren, dan perilaku budaya dan sosial yang sulit dipahami oleh warga Swiss hanya karena mereka tertanam secara budaya."

Fotografi

Sumber gambar, Salvatore Vitale

Keterangan gambar, Senapan serbu yang disesuaikan untuk tujuan olahraga, dari seri fotografi berjudul How to Secure a Country, 2014-2018, karya Salvatore Vitale.

Gambar-gambar abstrak menakjubkan Vitale dan "narasi transmedia" memiliki daya pikat yang aneh mengingat mereka tampaknya tidak merekam kehidupan manusia.

Kita melihat lampu menyilaukan dari ruang kontrol keamanan, tubuh seorang penjaga patroli yang bersandar jauh ke dalam kendaraan, dan detail yang hampir fetisistik dari senapan serbu.

Mereka juga membandingkan reputasi Swiss yang diproyeksikan untuk keselamatan dan efisiensi jarum jam, dengan sikap defensif negara bersenjata lengkap.

"Kita hidup di masa ketika mempromosikan nilai-nilai seperti inklusi dan penerimaan yang lain sangat penting," kata Vitale.

"Penelitian saya dimulai dari motivasi pribadi dan sebagai tanggapan atas inisiatif populer federal 'melawan imigrasi massal' yang diluncurkan oleh Partai Rakyat Swiss, sebuah referendum yang bertujuan membatasi imigrasi hingga kuota.

"Keamanan nasional memainkan peran besar dalam logika ini, karena wacana keamanan sering sangat terkait dengan langsung promosi ketidakamanan.

"Ini menyentuh topik sosial sensitif seperti migrasi, tenaga kerja dan identitas, untuk mempromosikan 'solusi' keamanan adalah tentang merasa aman seperti halnya tentang keamanan itu sendiri.

Pameran 'Kami dan Mereka' mencoba untuk membawa refleksi yang lebih luas tentang waktu tertentu kita hidup, dan, dengan membawa narasi yang berbeda tetapi terhubung, untuk menawarkan pandangan yang global," kata Vitale.

Fotografi

Sumber gambar, Salvatore Vitale

Keterangan gambar, Anjing kepolisian pencari narkoba, dari serial How to Secure a Country, 2014-2018, karya Salvatore Vitale.

Tema tegas 'Kami dan Mereka' juga tampaknya mendorong pemutusan antara dunia Barat dan lokasi Korea Utara dari proyek foto Eddo Hartmann, yang berjudul Setting the Scene.

Hartmann membutuhkan waktu hingga satu tahun setiap kali untuk mendapatkan izin untuk empat perjalanan 10 hari yang terpisah ke Pyongyang, di mana aktivitas dan fotonya diawasi para pejabat setempat.

Dia berkata, kerangka waktu ini mendorong refleksi dan alternatif menemui komunitas yang akan menjadi subyeknya.

"Hal utama yang harus saya pelajari adalah berkomunikasi dengan 'pemandu' saya yang memantau setiap langkah yang saya buat," kata Hartmann.

"Perlahan-lahan saya bisa terhubung dengan budaya mereka dan cara mereka mengalami kunjungan saya dan orang asing pada umumnya.

"Saya juga bicara apa adanya tentang rencana dan gagasan saya. Anda menyadari bahwa orang yang Anda temui sama seperti Anda dan saya, meskipun mereka mendekati Anda dalam dengan cara yang sangat formal.

"Pada akhirnya mereka juga jatuh cinta, punya anak, peduli dengan kesejahteraan mereka dan ingin memiliki kehidupan normal sejauh mungkin. Setelah beberapa tahun, saya dapat mengembangkan bahasa visual untuk menunjukkan ini melalui gambar," ucapnya.

Setting The Scene menangkap struktur megah Pyongyang, lanskap yang buruk, dan lagu latar di perkotaan yang menakutkan. Trek synth dari opera A True Daughter of the Revolution, yangtampaknya disusun oleh Kim Jong Il diperdengarkan ke jalan-jalan Pyongyang setiap tengah malam).

Komponen VR-nya juga menempatkan pemirsa ke platform di kereta bawah tanah Pyongyang (yang lama diklaim oleh teori konspirasi Barat palsu, dan diisi oleh aktor).

Ada disonansi hyperreal, namun juga koneksi manusia yang tak terduga.

Fotografi

Sumber gambar, Eddo Hartmann

Keterangan gambar, Pekerja Pabrik, dari seri foto berjudul Setting the Stage, Pyongyang, Korea Utara, 2014-2017, oleh Eddo Hartmann.

"Saya perlu beberapa kali kunjungan untuk mengatasi beberapa mitos dan menjadi terbuka terhadap situasi ini," kata Hartmann. Pada awalnya Anda benar-benar 'turis' karena semuanya baru dan aneh atau berbeda.

"Setelah beberapa saat, Anda dapat menyaring sebagian desas-desus. Sebagai pengunjung, Anda sebenarnya tidak begitu penting. Jadi, menyiapkan seluruh adegan hanya untuk Anda selama kunjungan di kereta bawah tanah akan sangat sia-sia.

"Mungkin ini pernah terjadi di masa lalu. Anda tidak pernah tahu tapi tidak ketika saya ada di sana. Pyongyang terasa seperti panggung, terutama bagi orang-orang yang tinggal di sana."

"Gambar individu lebih sedikit di latar depan [dalam pameran 'Kami dan Mereka'] ketimbang motif yang disusun dengan hati-hati," kata Beckmann.

"Walau begitu, tentu saja ada foto-foto tertentu yang menonjol terutama dalam seri ini dan 'menarik' pengunjung pameran. Ini termasuk pemotretan malam hari dengan bus oleh Eddo Hartmann, kelompok anak-anak berkerudung oleh Mate Bartha atau ruang sidang kosong oleh Paula Markert.

"Seluruh posisi artistik ini menciptakan kesadaran bahwa demarkasi semacam ini terjadi di banyak tempat, tidak hanya di tempat yang lebih jelas, seperti Korea Utara," ujar Beckmann.

"Mereka mengingatkan kita bahwa komunitas yang kuat adalah komunitas yang merangkul keragaman dan inklusi. Semoga, mereka menginspirasi setiap pengunjung untuk berpikir tentang bagaimana identifikasi mereka dapat dibentuk dengan mengesampingkan 'kelompok yang lain' atau dengan menjadi bagian dari kelompok yang dikecualikan."

---

Pameran foto bertajuk 'Kami dan Mereka' digelar di Deutsche Börse AG, The Cube, Eschborn, Jerman hingga 19 September 2021.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris diBBC Culture.