You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Tagar #jojobukabaju hingga komentar Presiden Jokowi soal Jonatan Christie: Pelecehan atau pujian?
Perayaan Jonatan 'Jojo' Christie dengan melepas baju saat mengalahkan pemain Taiwan, Chou Tien Chen, di final tunggal putra bulutangkis memicu kekaguman dari warganet sekaligus perdebatan soal apakah komentar dari warganet tersebut termasuk dalam objektifikasi. Presiden Jokowi pun sampai ikut urun suara lewat laman Facebook resminya.
Dalam laman Facebook resminya, Presiden Jokowi mengatakan bahwa, "Jonatan menyabet medali emas Asian Games 2018. Ia merayakan kemenangannya dengan gaya yang khas: melepas kaus yang basah oleh keringat dan mengelilingi lapangan di bawah sorak-sorai kemenangan oleh puluhan ribu penonton!"
Unggahan Presiden Jokowi tersebut mendapat 67.000 lebih reaksi, lebih dari 4.000 komentar dan dibagikan hampir 6.000 kali. Sementara di akun Twitter resmi Presiden Jokowi, status yang sama sudah disebarkan lebih dari 10.000 kali dan disukai hampir 20.000 kali.
Setelah mengalahkan pemain Taiwan Chou Tien Chen di final tunggal putra bulutangkis, Selasa (28/08), dalam tiga set 21-18, 20-22, 21-15, pebulutangkis Jonatan 'Jojo' Christie langsung melepas kaos yang dipakainya.
Medali emas yang diraih Jojo ini merupakan emas pertama Indonesia dari cabang bulutangkis, sekaligus emas ke-27 tim bulutangkis Indonesia dalam sejarah perjalanan Asian Games.
"Kita harus mulai awal lagi, saya dan tim tunggal putra harus siap dalam laga berikutnya," kata Jonatan Christie usai laga. Jojo juga mengucapkan terima kasih kepada semua warga Indonesia yang memberikan dukungan.
Menurut pencatatan Spredfast, tagar #jojobukabaju mengumpulkan lebih dari 5.000 cuitan, sementara 'Jonatan Christie' digunakan dalam lebih dari 77.000 cuitan.
Namun berbagai komentar dari para penggemar perempuan soal Jonatan Christie yang kemudian dikumpulkan oleh seorang pengguna media sosial, @Iittlepooh, menjadi viral setelah dibagikan lebih dari 23.000 kali dan disukai hampir 7.000 kali.
Dalam unggahan itu, berbagai komentar yang disampaikan oleh para penggemar perempuan tersebut dinilai "menjijikkan".
Unggahan tersebut kemudian mendapat dukungan dari netizen lain yang berpendapat bahwa ada 'standar ganda' antara komentar yang disampaikan penggemar perempuan dan yang disampaikan oleh laki-laki, dan mana yang dianggap sebagai pelecehan seksual.
Meski begitu, beberapa netizen lain juga menyebut bahwa komentar-komentar yang disampaikan oleh netizen pada Jojo tidak termasuk pelecehan seksual karena "tidak bisa dilepaskan dari analisis kesetimbangan kekuasaan" dan relasi kuasa.
Netizen lain menilai bahwa sorotan terhadap komentar yang dibuat oleh para penggemar perempuan Jojo merupakan bagian dari cara "menyindir terhadap kelompok feminis" selain juga sebagai cara masyarakat menilai bahwa "perempuan tak boleh mengekspresikan seksualitasnya karena itu dianggap nakal, sementara laki-laki boleh saja melakukan itu".