Allyson Felix: Atlet pemecah rekor Kejuaraan Dunia Atletik yang menjadi seorang ibu

Allyson Felix

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Tom Reynolds
    • Peranan, BBC Sport di Doha

Menjadi atlet tersukses dalam sejarah Kejuaraan Atletik Dunia, seperti yang dilakukan Allyson Felix di Doha, memang tidak mudah. Namun, 12 bulan terakhir ini telah mengubah hidupnya.

Menjadi ibu telah melahirkan jiwa aktivis yang selama ini tersembunyi dalam dirinya.

Felix tidak lagi mau diam soal hak-hak ibu di kalangan elite olahraga atletik. Ia telah menemukan suaranya.

Inilah ihwal tiga kata yang mendominasi halaman pertama situs pribadinya:

Atlet. Ibu. Aktivis.

Kami bertemu di lantai 42 di hotel Felix yang menghadap Teluk Persia. Ibu ini terlambat.

Mengingat Kejuaraan Atletik Dunia yang sedang berlangsung di Doha, lingkungan mewah ini cocok bagi seorang juara enam kali lari cepat jarak pendek, namun sepertinya tidak cocok bagi putrinya Camryn, yang baru berusia 10 bulan.

Jam tubuhnya belum menyesuaikan dengan waktu Timur Tengah sehingga Felix, 33 tahun, terjaga semalaman.

Ini bukanlah pengalaman baru bagi Felix, yang menghabiskan sebagian besar Desember tahun lalu tidur di kursi di sebuah unit perawatan intensif anak-anak di rumah sakit.

Camryn lahir pada tanggal 28 November 2018, dengan bobot hanya 1,5 kilogram. Ketika usia kandungannya 32 minggu, Felix datang ke rumah sakit untuk kunjungan rutin. Namun, ia diberitahu dokter bahwa ia dan bayinya justru dalam bahaya.

Dokter mendiagnosisnya dengan pre-eclampsia, kondisi yang dapat mengancam nyawa ibu dan bayi. Tekanan darahnya tinggi sementara detak jantung Camryn menurun.

Itulah mengapa Felix melahirkan Camryn melalui operasi Caesar darurat, sepuluh jam setelah tiba di rumah sakit.

Sepuluh bulan dan satu hari kemudian, Felix memecahkan rekor dengan memenangkan medali emas Kejuaraan Atletik Dunia ke-12 dalam kategori 4x400m estafet campuran di Doha, mengalahkan rekor perolehan medali emas Usain Bolt.

Pada hari penutupan Minggu, ia menambah medali emas ke-13 ketika Amerika Serikat menang dalam nomor estafet perempuan 4x400m.

"Hari Natal tahun lalu, ketika saya terbaring di rumah sakit, saya tidak akan percaya jika saya akan berada di Doha sekarang dan memenangkan medali," katanya.

"Momen kelahiran anak saya, yang seharusnya sangat menggembirakan, memang menggembirakan, namun itu juga sangat menakutkan dan tidak menentu."

Di tengah ketidaktentuan itu Felix menemukan tujuan hidupnya. Saat itu ia harus menjaga putrinya setiap saat, sehingga ia menghabiskan setiap detik dalam hidupnya di unit perawatan intensif. Selain itu, ia juga mulai dua jenis aktivisme.

Allyson Felix

Sumber gambar, @AF85

Keterangan gambar, Felix dan Camryn di Stadion Khalifa International, Doha.

Felix, yang biasanya pemalu, bicara di depan Komite Anggaran DPR AS pada bulan Mei soal isu kematian perempuan kulit hitam saat melahirkan.

Di AS, perempuan kulit hitam hampir empat kali lebih rentan meninggal dunia saat melahirkan dan dua kali lebih rentan menderita komplikasi.

Mengenalkan dirinya sebagai "Ibu Camryn," Felix mulai pidatonya dengan mengatakan, "Saya ingin menceritakan dua hari paling menakutkan dalam hidup saya."

Menceritakannya sekarang juga masih mengerikan baginya.

Ia melanjutkan, "Ketika saya berada di rumah sakit, situasinya sungguh menakutkan. Saya beranggapan saya ini seseorang yang istimewa, saya sadar akan situasi yang menimpa saya namun saya tidak terlalu paham. Jika saya tidak terlalu paham, maka ada banyak perempuan di luar sana yang juga tidak paham.

"Saya harus bicara di depan Kongres untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. Hal ini lebih besar dari olahraga."

Lalu Felix menantang raksasa pakaian olahraga Nike soal hak-hak ibu bagi atlet. Ia sedang bernegosiasi soal kontrak dengan Nike ketika hidupnya berubah dengan kelahiran Camryn. Nike berencana membayar Felix "70 persen lebih rendah," sebuah syarat yang diterimanya saat itu.

"Yang saya tidak terima adalah masih adanya status quo terkait persalinan," katanya dalam sebuah artikel yang menohok dan dipublikasikan di bulan Mei di New York Times.

"Saya minta kepada Nike untuk menjamin dalam kontraknya bahwa saya tidak akan dihukum jika performa saya tidak sebagus sebelumnya, beberapa bulan setelah melahirkan. Saya ingin membuat standar baru.

"Jika saya, salah satu atlet yang paling sering dipasarkan Nike, tidak mendapatkan perlindungan ini, siapa yang bisa? Nike menolak permintaan saya."

Setelah menyuarakan masalah ini, Felix menerima dukungan dari banyak perempuan dari berbagai profesi. Banyak rekan sesama atlet lantas berbagi pengalaman diskriminasi mereka, namun inspirasi terbesar Felix ternyata datang dari rumahnya.

"Saya terus memikirkan Camryn," katanya.

"Sejak saya remaja yang tumbuh kembang di dunia olahraga, saya selalu melihat banyak orang bungkam. Baik itu rekan satu tim atau perempuan lainnya, kehamilan mereka tidak pernah terkuak. Begitu mereka mendapatkan kontrak, mereka baru mengumumkan kehamilannya ke publik.

"Saya telah melihatnya terjadi berulang kali jadi saya tidak pernah mempermasalahkannya, saya hanya berpikir: 'Oh, ini rupanya cara kerjanya.' Sampai situasi itu menimpa saya sendiri. Lalu saya berpikir: 'Hal ini seharusnya tidak terjadi dan ini tidak benar.'

"Saya memikirkan masa depan Camryn, saya kerap berpikir saya ingin dunia ini berbeda untuknya."

Keinginannya terkabul. Pada bulan Mei, Nike mengumumkan perubahan hak persalinan dalam kontraknya yang menjamin bahwa atlet perempuan "tidak akan lagi dihukum secara finansial setelah melahirkan."

"Suara kita kuat," adalah respon sederhana Felix. Selain itu, ia juga tidak lagi disponsori Nike dan kini mewakili Athleta, merk pakaian olahraga baru dari Gap, sejak Juli.

Allyson Felix

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Allyson Felix (ketiga dari kiri) beserta rekan-rekannya saat mengiuti lomb laari lari estafet campuran 4x400 meter dalam Kejuaraan Dunia Atletik di Doha. Tim tersebut meraih medali emas dan memecahkan rekor dunia.

Felix mengakui ia sempat takut untuk bahkan berpikir punya anak. Apakah ia percaya transformasi hidupnya dalam 10 bulan terakhir?

"Saya tidak percaya. Ini benar-benar gila tapi di saat yang bersamaan saya sangat bahagia saya bisa sampai di sini," katanya.

"Saya harap kita bisa melihat sedikit perubahan dan perempuan dapat menentukan kapan mereka ingin memulai berkeluarga. Jika mereka memilih menunggu, itu bagus, atau jika mereka memilih untuk berkeluarga sejak awal, itu juga bagus. Tapi ini juga tentang hak mereka menentukan hal yang terbaik bagi keluarganya, bukan karena permintaan sponsor atau hukuman finansial dan semacamnya."

Mengutarakan kata "aktivis" dapat membuat orang Amerika ini tersenyum.

"Aktivisme adalah area dengan pertumbuhan tertinggi dalam hidup saya," kata Felix. "Sebelumnya saya tentu khawatir dengan reaksi atas opini saya. Kecaman atau konsekuensinya.

"Tapi kita bicara soal generasi selanjutnya. Saya tidak ingin orang lain tertimpa situasi yang saya alami. Ketika saya berpikir soal warisan saya, hal-hal inilah yang ingin saya ubah dan saya ingin diingat karena hal ini. Terkadang, kita harus berada di situasi atau posisi yang sulit untuk membuat kemajuan."

Alysson Felix with premature baby daughter Camryn in hospital

Sumber gambar, @AF85

Keterangan gambar, Felix dan bayi perempuannya, Camryn, di rumah sakit tahun lalu.

Felix selalu membuat catatan latihan sepanjang karirnya, namun hidup sebagai seorang ibu baru berarti catatan tahun ini lebih banyak kosongnya dari yang dibayangkan. Dalam konteks ini, Felix pastinya bangga akan pencapaiannya, baik di trek atau di luar trek.

"Saya biasanya keras kepada diri saya, saya masih seperti itu," katanya.

"Namun saya pikir tahun ini sangat sulit bagi saya dan itu membuat saya bangga atas diri saya. Saya masih sangat kritis soal dunia atlet karena perubahan masih terasa sangat lambat. Namun, jika saya refleksi saya sadar saya punya masalah kesehatan beberapa bulan lalu, dan itu membuat saya bersyukur."

Ia bersyukur atas kariernya sebagai atlet, dengan enam medali emas Olimpiade yang kemungkinan bertambah. Ia bersyukur sebagai seorang ibu dengan anak yang sehat. Ia bersyukur menjadi seorang aktivis yang berencana bersuara di setiap kesempatan yang dimilikinya.

Namun, ia tidak suka jika ditanya mana pekerjaan yang disukainya.

"Ini pertanyaan yang tidak mungkin dijawab," katanya.

"Tentu saya menempatkan 'ibu' di peringkat satu. Sebagai ibu, kita harus menyelesaikan berbagai persoalan. Kita tidak punya pilihan lain karena orang lain bergantung pada kita. Tentu saya siap.

"Atlet dan aktivisme harus berdampingan. Atlet adalah pekerjaan saya tapi saya hampir merasa bahwa menjadi aktivis adalah tanggung jawab saya. Itu juga sesuatu yang istimewa. Saya akan selalu bersuara di setiap kesempatan yang diberikan kepada saya."