Keseharian sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim terekam dalam lensa kamera.
Keterangan gambar, Sejak usia 10 tahun, sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim, kini 61 tahun, mengalami kelumpuhan. Walau sempat terpuruk, Ratna menemukan kembali hidupnya, setelah menggeluti sastra. "Dunia tulis-menulis itulah jalan saya," katanya. Foto-foto: Heyder Affan
Keterangan gambar, "Saya ingin menjadi seperti Virginia Woolf," jawab Ratna, jika diberi kesempatan untuk mengulang waktu. "Dan, karena itu, saya ingin lebih tekun menulis..." Virginia Woolf adalah penulis Inggris dan tokoh feminis.
Keterangan gambar, Di kamar pribadinya yang dipenuhi buku, Ratna Indraswari menjuluki dirinya sebagai "sastrawan lisan". Perempuan kelahiran 1949 ini dibantu oleh seorang asisten untuk mengetik apa yang dia lontarkan, yang telah membuahkan ratusan cerpen dan novel.
Keterangan gambar, Dibesarkan di keluarga yang mencintai buku, Ratna sejak 6 tahun lalu mendirikan toko buku, di bagian kanan rumahnya di Jalan Diponegoro 3, Malang, Jawa Timur. "Bapak saya yang mengenalkan bacaan-bacaan berat, sejak saya kecil."
Keterangan gambar, Sejak usia belia duduk di kursi roda, Ratna pernah marah kepada Tuhan, sehingga berujung "saya menjadi ateis". Ini terjadi saat dirinya menginjak remaja. "Tapi ternyata Tuhan itu ada..," simpulnya, setelah menjalani kehidupan lebih dari 50 tahun.
Keterangan gambar, Sebagai sastrawan, Ratna dikenal sebagai penulis produktif. Setidaknya 400 karya cerpen dan novel telah dia lahirkan, termasuk novel kontroversial Lemah Tanjung (2003) tentang isu lingkungan.
Keterangan gambar, "Inilah tempat favorit saya,"ujar sastrawan Ratna, menyebut teras di depan toko buku miliknya. Di tempat itu, Ratna menghabiskan waktu dengan membaca, berdiskusi, serta barangkali juga merenung.
Keterangan gambar, Ditemani asistennya yang bernama Umi, Ratna Indraswari Ibrahim tak hanya sibuk di dunia tulisan. Ratna juga mendirikan organisasi dan acap berdiskusi dengan aktivis, seniman, dan mahasiswa di kota Malang, Jawa Timur.