Tragedi Mei 1998: 'Aktivis '98 tidak harus jadi politikus'
Pasca reformasi '98 yang bersamaan dengan lengsernya presiden kedua RI Soeharto, sejumlah aktivis mulai menancapkan eksistensinya di dunia politik praktis. Dari mulai pengurus dan elite partai, anggota dewan hingga masuk ke lingkaran dalam pemerintahan.
Namun ada beberapa aktivis yang tidak tertarik mengikuti arus tersebut.
Dua di antaranya adalah Toto Prastowo, mahasiswa IKIP (sekarang UNJ: Universitas Negeri Jakarta) angkatan '92 dan Syahrul Munir, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 97.
Simak juga:
- 25 tahun reformasi: 'Jalan sunyi' eks aktivis mahasiswa 98 - dari petani, pekerja kreatif, sampai usaha warung kopi
- Aturan caleg wajib lapor harta kekayaan 'lenyap' - 'Wajib lapor saja kecolongan apalagi nggak wajib'
- 20 tahun reformasi: Lini masa foto dan video BBC sejak Soeharto berkuasa hingga jatuh
Keduanya aktif di organisasi kampus dan mengikuti serangkaian aksi menggulingkan Soeharto pada tahun 1998. Mereka menjadi bagian dari saksi sejarah di kotanya masing-masing, yakni Jakarta dan Yogyakarta.
Toto Prastowo mengaku tidak berminat sama sekali untuk terjun ke politik praktis. Sedangkan Syahrul Munir mengatakan saat ini belum berpikir untuk terjun ke politik praktis, meskipun tidak menutup kemungkinan itu di masa depan.
Toto berkarya sebagai seniman, sementara Syahrul bertani. Meski begitu, keduanya tetap menjunjung nilai-nilai aktivisme di kegiatan rutin mereka masing-masing.
"Hidup ini juga berpolitik, pilihannya sekarang, kita masuk partai atau tidak," ujar Syahrul Munir.
Video produksi : Muhammad Irham dan Dwiki Marta
