Di mana Anda saat tsunami 2004 menerjang?

Sumber gambar, bbc
Gempa berkekuatan 9,1 pada skala Richter di lepas pantai Banda Aceh memicu tsunami yang menelan lebih dari 230.000 jiwa.
Indonesia, Sri Lanka, Thailand, India, Maladewa, Malaysia, Burma, Bangladesh, Somalia, Kenya, Tanzania, Seychelles termasuk negara-negara yang dilanda bencana besar ini.
Sepuluh tahun telah berlalu. Di manakah Anda saat tsunami menerjang?

Sumber gambar, BBC World Service
Kami ingin mendengar <link type="page"><caption> cerita Anda</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/news/uk-30194460" platform="highweb"/></link>, termasuk bila Anda menyimpan foto atau video.
Apa rencana Anda untuk memperingati 10 tahun tsunami?
Ratusan cerita yang kami terima <link type="page"><caption> melalui Facebook BBC Indonesia</caption><url href="https://www.facebook.com/bbc.indonesia/photos/a.10151971965335434.892659.10150118096995434/10154889090245434/?type=1" platform="highweb"/></link>, termasuk sejumlah cerita di bawah ini.

Sumber gambar, AP
Agus Salim yang tinggal di Sigli, Aceh mengatakan saat itu ia di rumah yang berjarak sekitar 200 meter dari bibir pantai.
"Kalian bisa membayangkan sendiri suasananya seperti apa. Hari itu (dan beberapa waktu setelahnya) benar-benar sangat membekas dalam ingatan saya," tulis Agus Salim melalui Facebook BBC Indonesia.
Faiz Surfing Saizrees menulis, "Saya terbawa arus gelombang tsunami dan rumah saya hancur keluarga tidak selamat."

Saya berasal dari Lampuuk, Lhok Nga, Aceh besar ... jarak desa dengan pantai hanya 1 km saja.
Ammaris Ammar yang tinggal di Aceh Utara menulis tengah cuci sepatu saat bencana melanda.
"Saya ke laut yang jaraknya sekitar 5 kilometer .. .terdiam dan terpaku melihat mayat-mayat diangkut pakai becak.
"Aku sangat gelisah dan takut karena saat pulang ke rumah lampu mati dan aku takut. Tapi di Aceh Utara tidak terlalu parah dibandingkan di Banda Aceh," tambahnya.
Melalui Twitter BBC Indonesia, Rasam Nurrizqy mengatakan pada tanggal 26 Desember 2004, ia berada di Ancol, Jakarta.
"Terjadi ombak dan angin yang sangat kencang tidak biasanya, besoknya ada berita tsunami Aceh," Tulis Rasam.
Kus Biantoro, melalui Facebook BBC Indonesia mengatakan melihat besarnya ombak secara langsung.
"Sedang tugas offshore di Laut CIna Selatan. Terasa gempanya dan ... kami diberi kesempatan melihat besarnya ombak secara langsung," kata Kus.
Cerita lain tentang tsunami
Lyni Kusniati Silaban, "Saya lagi dalam perjalanan pulang Natalan naik kapal laut dari Batam ke Medan berangkat tgl 25 Desember. Tidak terasa sama sekali goncangan gempa kala itu ... setelah berlabuh di Belawan itulah baru dapat kabar tentang tsunami di Aceh."
Ria Soraya bertutut, "Saya di rumah saya di Punge Jurong, Banda Aceh, daerah rumah hancur tidak bersisa"

Kania Dimyati, "Saat itu saya di rumah ibuku di Tasikmalaya ... sedih dan menangis melihat tayangan di tv."
Rahmatul Fahmi Sulaiman, "Sedang di rumah pagi itu, hanya berjarak 100 meter dari bibir pantai. Setelah gempa yg mengerikan itu, dari arah jalan raya ada yang berteriak, 'air laut naiik ... lari!' Tapi alhamdulillah di pinggir pantai ada bukit pasir yang membendung dahsyatnya gelombang itu. Walau pun bukitnya sampai hancur, tapi airnya tidak sampai menghancurkan saat masuk ke desa. Sekarang wilayah ini sudah jadi desa terbesar di Aceh. Penduduk korban tsunami banyak yang direkokasi di desa ini, ada delapan titik perumahan baru."

Sumber gambar, AP
Jhon Paul Ivan ,"Di rumah (Surabaya) bersama keluarga besar ... merayakan Natal, kami ikut sedih melihat berita di TV, segera kami berdoa semoga diberikan ketabahan bagi para korban bencana tersebut."
Medan Tio Minar Manullang, "Saat Stunami terjadi, saya berada di Panipahan karena tugas memimpin sebuah gereja, di mana tempat itu adalah sebuah daerah kecil yang rumah-rumahnya berada di atas laut. Saya kaget melihat air itu begitu dasyatnya menyapu kota di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Yang lebih sedihnya ku rasakan dan serasa tak percaya bagaimana aku pernah tinggal ditepi pantai itu yang bernama Ulhee Lhee."
Rusidi Wong Pati Cluwak, "Saat Tsunami di Aceh terjadi tanggal 26 Desember 2004, saya mendengar melalui televisi, tiga hari kemudian saya berangkat ke Aceh bersama organisasi WALUBI bekerjasama dengan TNI AU memberikan bantuan rumah sakit lapangan di Blang Bintang, dapur umum, penyulingan air bersih, membangun 1000 barak yang berlokasi di Mataie dan Blang Bintang Aceh Besar."









