Tragedi Itaewon: Warga Seoul berduka atas kematian ratusan anak muda - 'Ini salah kita, mereka mati'

Sumber gambar, BBC/Tessa Wong
- Penulis, Tessa Wong & Youmi Kim
- Peranan, BBC News, Seoul
Pada sore hari yang cerah dan tidak berawan di bulan Oktober, Lee Insook melangkah ke lapangan berumput di tengah Seoul, duduk, dan mulai meratap.
Seraya mencengkeram selembar kertas bertuliskan, "Maafkan saya, teman-teman", dia menangis sesenggukan di depan panggung besar yang dipenuhi bunga.
Panggung itu sengaja didirikan bagi masyarakat umum untuk menghormati ratusan anak muda yang nyawanya terenggut dalam tragedy di Distrik Itaewon pada Sabtu (29/10/2022) malam.
Lee Insook adalah salah satu dari ribuan warga Seoul yang berbondong-bondong ke Balai Kota pada Senin (31/10), saat kota tersebut bergumul dengan kesedihan dan kemarahan atas bencana terburuk di negara itu sejak 2014, ketika kapal feri Sewol tenggelam dan menewaskan lebih dari 300 orang.
Dengan khidmat, warga Kota Seoul mengantre - keluarga dengan anak kecil, pekerja kantoran, ibu rumah tangga, dan pensiunan.
Pihak penyelenggara membagikan karangan bunga krisan putih, simbol kesedihan di Korea Selatan, untuk diletakkan para pelayat dengan membungkuk dalam-dalam.
Beberapa menggumamkan doa. Lainnya menangis.
Beberapa kilometer dari lokasi bencana di Distrik Itaewon, ratusan orang juga berkumpul untuk meletakkan karangan bunga krisan. Di antara tumpukan bunga ada botol kecil soju, minuman beralkohol yang populer di Korsel.
Itu adalah persembahan kepada orang-orang yang mati agar arwah mereka bisa menikmati satu minuman terakhir.
Baca juga:
- Kesaksian penyintas Tragedi Halloween di Itaewon, Seoul: 'Saya tak berdaya melihat orang-orang mengembuskan napas terakhir'
- 'Jeritan penuh kesedihan terdengar' - Tragedi Halloween di Itaewon, Korsel: setidaknya 154 orang meninggal akibat berdesakan
- Galeri foto: Gang sempit, lokasi 'jebakan maut' Tragedi Halloween di Distrik Itaewon, Seoul
Jung Chankyung, seorang ibu rumah tangga dari Gimpo, satu kawasan permukiman di luar Seoul, sengaja menempuh perjalanan lebih dari satu jam ke jantung ibu kota untuk memberi penghormatan.
Menonton adegan tragedi di berita "terasa tidak nyata, sangat memilukan dan mengejutkan", katanya, sembari berlinang air mata. "Saya menelepon anak-anak saya untuk memastikan mereka selamat."
Banyak dari mereka yang memberi penghormatan kepada korban tragedi Itaewon di Balai Kota masih muda - berusia 20-an tahun, seperti Kim Min-jeong.
"Kejadian tersebut cukup mengejutkan. Saya merasa sangat sedih karena para korban seusia saya, banyak juga yang perempuan. Saya kira mungkin kurangnya kontrol adalah penyebab [kejadian itu]," paparnya.
Dari 154 orang yang meninggal, 98 adalah perempuan dan 56 pria. Ada spekulasi bahwa banyak perempuan meninggal karena tubuh mereka lebih kecil dan lebih sulit untuk bernapas atau keluar dari kerumunan.


Bagi Koo Jaehoon, kejadian di Distrik Itaewon sangat mengejutkan.
Apalagi dirinya nyaris menjadi korban. Pria berusia 29 tahun itu kerap mengunjungi Itaewon dan sejatinya ingin pergi ke sana untuk berpesta pada Sabtu malam. Namun, dia memutuskan untuk tidak melakukannya pada menit terakhir ketika dia mendengar bahwa tempat itu semakin ramai.
"Saya tidak merasa beruntung. Saya merasa sedih ... sebenarnya saya telah mengunjungi gang itu berkali-kali. Di situlah saya bertemu teman, merokok, berbicara dan menunggu dalam antrean [untuk masuk ke pub].
"Jika ada seseorang yang bertanggung jawab, orang ini harus dihukum. Tetapi saya tidak ingin masyarakat memperdebatkan kurangnya kehadiran polisi dan kurangnya pengendalian ketertiban umum saat ini... Saya ingin orang punya waktu untuk berduka."

Sumber gambar, Reuters
Akan tetapi, sejumlah kalangan mulai mengajukan pertanyaan.
Meskipun belum jelas bagaimana tragedi itu bermula, tuduhan telah dilontarkan kepada pihak berwenang. Aparat dinilai dapat berbuat lebih banyak untuk mencegah tragedi yang diyakini banyak orang dapat sepenuhnya dihindari.
Perdana Menteri Korea Selatan, Han Duck-soo, telah berjanji menggelar penyelidikan menyeluruh untuk "membuat perubahan kelembagaan yang diperlukan sehingga kecelakaan seperti itu tidak terulang".
Tetapi media Korea telah menggarisbawahi peristiwa dua minggu sebelumnya, yakni konser superstar K-pop BTS di Kota Busan yang dihadiri oleh 55.000 penggemar dan diawasi oleh 2.700 petugas keamanan.
Sebaliknya, hanya 137 petugas di Seoul yang dikerahkan ke Itaewon pada Sabtu malam untuk mengatur kerumunan yang mencapai ribuan orang dalam acara Halloween pertama tanpa masker sejak pandemi Covid.
Pihak berwenang mengatakan mereka mengerahkan lebih banyak personel tahun ini ketimbang pesta pada masa sebelum Covid. Pihak berwenang juga harus mengarahkan sejumlah besar personel ke tempat lain di Seoul malam itu untuk menangani potensi protes.

Namun di sebuah sudut dekat Balai Kota, serikat pekerja lokal tidak membuang waktu untuk menyampaikan maksud mereka.
Mereka membentangkan spanduk hitam bertuliskan: "Hak untuk aman adalah hak dasar semua warga negara. Tidak ada nilai lain yang diprioritaskan selain nyawa orang dan keselamatan mereka."
Di lapangan berumput, Lee Insook meluapkan kemarahannya.
"Ini bencana kemanusiaan, tidak akan terjadi jika pemerintah mengatur ketertiban umum. Pemerintah bertanggung jawab untuk kejadian ini. Generasi yang lebih tua juga bertanggung jawab, mereka salah memilih.
"Sulit dipercaya ini bisa terjadi di sini, di Korea Selatan, negara maju ... Saya di sini karena semua anak muda Korea Selatan harus hidup di tempat yang aman, adil dan damai," kata Lee Insook, yang adalah seorang nenek.
Amarah dan kesedihannya menular - saat dia meratap, seorang wanita tua di dekatnya mulai terisak secara spontan, lalu membungkuk dalam-dalam ke arahnya.
Dia menghampiri Lee Insook untuk menghiburnya, begitu juga seorang pria yang memegang bahunya. Tapi Lee Insook dengan marah menepisnya - dirinya perlu berduka, tegasnya.
"Ini salah kita, mereka mati!" jeritnya di tengah lapangan rumput.









