Artemis: Nasa tunda peluncuran roket era eksplorasi Bulan, misi dengan astronot perempuan

Pesawat T-38, perlengkapan pelatihan astronot di NASA, terbang di atas SLS di landasan peluncuran 39B di Kennedy.

Sumber gambar, NASA

Keterangan gambar, Pesawat T-38, perlengkapan pelatihan astronot di NASA, terbang di atas SLS di landasan peluncuran 39B di Kennedy.
    • Penulis, Fernando Duarte
    • Peranan, BBC World Service

Badan Antariksa Amerika Serikat, Nasa, menunda peluncuran roket eksplorasi Bulan - Space Launch System - (SLS) sistem wahana paling kuat, karena masalah dalam salah satu bagian mesin.

Para teknisi kesulitan memastikan suhu mesin di wahana setinggi 100m didinginkan pada suhu operasi yang tepat.

Rencana peluncuran berikutnya adalah pada Jumat, minggu kedua September.

Kepala Nasa, Bill Nelson, mengatakan roket itu adalah mesin yang rumit dan semua bagian harus berjalan dengan baik untuk memastikan peluncuran.

Pembatalan peluncuran Senin ini (29/08) mengecewakan puluhan ribu orang yang telah berkumpul di Tanjung Canaveral, Florida untuk menyaksikan dimulainya program eksplorasi Bulan Amerika.

Para teknisi sebelumnya khawatir tentang apa yang tampak seperti retakan di bagian atas roket, tetapi akhirnya memutuskan bahwa hal itu hanyalah pembentukan embun beku.

Peluncuran ini akan menjadi landasan bagi proyek Artemis yang bertujuan untuk membawa manusia kembali ke permukaan Bulan, pertama kali dalam 50 tahun.

Misi ke bulan ini akan menjadi persiapan untuk penerbangan ke Mars pada tahun 2040an.

Roket yang akan diluncurkan ini sedianya akan mendorong kapsul uji, yang disebut Orion, menjauh dari Bumi.

Pesawat ruang angkasa ini rencananya akan mengitari Bulan membentuk lingkaran besar sebelum kembali ke Bumi untuk mendarat di Samudra Pasifik dalam waktu enam minggu.

Orion tidak berawak dalam tahap ini, tetapi dengan asumsi semua perangkat keras berfungsi sebagaimana mestinya, para astronot akan naik untuk serangkaian misi yang lebih kompleks di masa depan, mulai tahun 2024.

"Semua yang kami lakukan dengan penerbangan Artemis I ini, kami melihat melalui lensa apa yang dapat kami buktikan dan apa yang dapat kami tunjukkan untuk mengurangi risiko misi awak Artemis II," jelas astronot NASA Randy Bresnik.

NASA astronaut Stephanie Wilson poses for a portrait at NASA Johnson Space Center's office in Ellington Field, in Houston, Texas on Thursday, 11 July, 2019

Sumber gambar, NASA

Keterangan gambar, Stephanie Wilson, perempuan kulit berwarna kedua yang terbang ke luar angkasa, adalah salah satu yang difavoritkan untuk menjadi perempuan pertama di Bulan.

Ini adalah yang pertama dalam serangkaian misi yang bertujuan untuk menjejakkan kaki di Bulan pada 2025 atau 2026.

Untuk pertama kalinya, satu perempuan, satu orang kulit berwarna dipastikan akan bergabung dengan 12 pria kulit putih dalam kelompok astronot yang akan berangkat.

Pada usia 84 tahun, Profesor John Logsdon berharap dapat sekali lagi menyaksikan momen penting itu.

Pada tahun 1969, bertahun-tahun sebelum menjadi ahli luar angkasa terkenal di dunia, sang fisikawan AS itu memperoleh akreditasi untuk peluncuran Apollo 11. Pesawat ruang angkasa itu mengantarkan manusia pertama ke Bulan: Neil Armstrong dan Buzz Aldrin.

Baca juga:

"Saya mendapat akses ke gedung pra-peluncuran dan melihat para astronot berjalan di dekat saya sebelum menaiki kendaraan yang membawa mereka ke landasan peluncuran," kata Profesor Logsdon kepada BBC.

"Sekarang saya berharap untuk hidup lebih lama, supaya saya bisa melihatnya lagi."

Astronot Apollo 17

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Manusia terakhir kali menjejakkan kaki di Bulan dalam misi Apollo 17 pada tahun1972.

Penjelajahan bulan kali ini akan terlihat sangat berbeda, berkat Nasa yang mendorong keberagaman gender dan rasial.

Kemajuan bagi perempuan

Perempuan dipastikan mendapatkan kursi di pesawat yang akan mendarat di bulan. Mereka mencakup setengah dari 18 astronot yang dipilih untuk program Artemis. Ada beberapa misi yang direncanakan.

Salah satu nama yang disebut-sebut oleh media sebagai favorit untuk Artemis 3 adalah Stephanie Wilson yang berusia 55 tahun. Ia adalah veteran dari tiga misi Pesawat Ulang-alik dan perempuan kulit berwarna kedua yang pergi ke luar angkasa.

"Ini adalah bukti dari kemajuan luar biasa yang telah dicapai oleh perempuan," kata Wilson kepada situs web berita sains Space.com pada tahun 2020.

"Saya tentu saja senang bisa masuk dalam kelompok dan menantikan siapa pun perempuan pertama dan setelahnya yang menjadi bagian dari program Artemis untuk melanjutkan penelitian kita tentang Bulan."

Orang kulit berwarna

Jasmin Moghbeli

Sumber gambar, Bill Stafford / Nasa

Keterangan gambar, Jasmin Moghbeli, kandidat untuk penjelajahan Bulan pertama sejak 1972, pernah bekerja di Angkatan Darat, dengan lebih dari 150 misi pertempuran.

Setengah dari tim yang akan berangkat ke bulan adalah orang kulit berwarna.

Pada November 2021, hanya 75 dari 600 orang yang telah berada di luar angkasa adalah perempuan, menurut Nasa.

Terutama di AS, kandidat astronot perempuan pernah menghadapi seksisme institusional.

Jessica Watkins

Sumber gambar, Bill Stafford / Nasa

Keterangan gambar, Jessica Watkins, calon astronot lainnya, adalah peneliti pasca-doktoral di California Institute of Technology, tempat ia turut mengerjakan robot penjelajah Mars Curiosity.

Nasa merekrut astronot pertamanya dari pilot uji coba militer pada 1960-an, ketika perempuan tidak diizinkan menerbangkan jet militer.

Sebaliknya, Uni Soviet mengirim Valentina Tereshkova - mantan pekerja tekstil dan skydiver amatir - ke luar angkasa pada tahun 1963.

Valentina Tereshkova

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pada 1963, astronot Rusia Valentina Tereshkova menjadi perempuan pertama di ruang angkasa.

20 tahun kemudian AS mengirim astronot perempuan pertamanya - Sally Ride, di Challenger.

"Sangat mudah untuk mengingat ketidaksetaraan bagi perempuan yang ingin menjadi astronot hanya satu generasi yang lalu," kata Dr Margaret Weitekamp, ketua Departemen Sejarah Luar Angkasa Museum Udara dan Luar Angkasa Nasional AS.

"Ketidaksetaraan masih ada, tetapi sistemnya mulai terbuka."

Lalu ada ketidakseimbangan rasial: Hanya 14 dari 330 orang Amerika yang dikirim Nasa ke luar angkasa berkulit hitam - dan 14 lainnya adalah orang Asia-Amerika.

Sementara itu, Soviet mengirim orang kulit berwarna pertama ke luar angkasa pada tahun 1980: kosmonot Kuba Arnaldo Tamayo Mendez.

"Kita perlu menjaganya tetap adil"

Agensi tahu bahwa masih banyak yang perlu mereka lakukan.

"Kita perlu menjaganya tetap adil dan memastikan kesetaraan dalam cara orang-orang diwakili sepanjang program," Kenneth Bowersox, wakil administrator untuk Direktorat Misi Operasi Luar Angkasa Nasa, mengakuinya pada konferensi pers tahun 2021.

Arnaldo Tamayo Mendez

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Kosmonaut Kuba Arnaldo Tamayo Mendez (kiri) menjadi orang kulit berwarna pertama di ruang angkasa pada 1980.

Pangkalan bulan

Profesor Logsdon mengatakan dorongan untuk keragaman lebih dari sekadar strategi humas. Kembalinya Nasa ke Bulan lebih ambisius daripada sekadar menempatkan manusia di permukaan bulan untuk pertama kalinya sejak Apollo 17 tahun 1972.

Program Artemis bertujuan untuk mengubah satelit alami kita menjadi pangkalan untuk misi manusia ke Mars pada tahun 2030.

"Artemis punya tujuan untuk meletakkan dasar untuk eksplorasi ruang angkasa di masa depan. Ada banyak astronot perempuan dan minoritas yang sangat kompeten di luar sana dan kita butuh peran semua orang supaya tujuan ini dapat dicapai," katanya.

"Program Apollo adalah bidangnya pria kulit putih. Ini tidak boleh terjadi lagi, terutama ketika kita menggunakan uang publik."

Mengapa butuh waktu lama untuk kembali ke Bulan?

Antara tahun 1960 dan 1973, AS menghabiskan $25,8 miliar untuk Apollo.- atau hampir $300 miliar hari ini, setelah disesuaikan dengan inflasi. Setiap presiden AS membutuhkan alasan yang baik untuk mengalokasikan jumlah tersebut.

Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet memberikan alasan itu. Perang tersebut 'tumpah' ke luar angkasa pada tahun 1957, ketika Moskow meluncurkan Sputnik, satelit buatan pertama di dunia.

Edwin E Aldrin Jr,

Sumber gambar, NASA

Keterangan gambar, Pilot modul Lunar Buzz Aldrin menuruni tangga sebelum berjalan di permukaan Bulan dalam misi Apollo 11.

"Persaingan Perang Dingin adalah alasan AS memulai program Apollo dan mengapa ada urgensi untuk menghabiskan sejumlah besar uang untuk mencapai Bulan sesegera mungkin," jelas Profesor Logsdon.

Pada 1970-an, perang Vietnam menarik perhatian publik di samping memudarnya minat pada misi bulan. Ini digambarkan dalam film Apollo 13, ketika siaran langsung astronot dari luar angkasa - dibuat sebelum kecelakaan terkenal itu - tidak ditampilkan di jaringan TV besar mana pun.

"Sayangnya, setelah Apollo 11, penerbangan ke Bulan menjadi membosankan. Tidak ada yang ingin sinetron atau acara kuis mereka terganggu untuk menyaksikan sepasang astronot lain berjalan-jalan di permukaan bulan," tulis komentator luar angkasa AS Mark Whittington pada 2020.

Nixon membatalkan Apollo

Presiden Richard Nixon kemudian membatalkan program Apollo dan memerintahkan Nasa untuk mengembangkan Pesawat Ulang-alik. Selama beberapa dekade, prioritas Nasa bergeser dari eksplorasi manusia ke operasi di orbit Bumi rendah, seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Itu juga berarti memensiunkan Saturn V yang perkasa, yang hingga saat ini adalah satu-satunya roket yang cukup kuat untuk membawa manusia sejauh perjalanan ke bulan - Nasa berharap Space Launch System (SLS) akan menjadi penggantinya.

Perubahan terjadi pada Desember 2017, ketika Presiden Donald Trump mengumumkan rencana untuk kembali ke Bulan.

"Kali ini, kita tidak hanya akan menanam bendera dan meninggalkan jejak kaki kita," kata Trump.

Artemis tidak akan murah - anggaran resminya mencapai US$93 miliar (lebih dari Rp1.300 triliun), tetapi para ilmuwan seperti astrofisikawan Inggris Dr Jennifer Millard percaya program tersebut dapat mendatangkan manfaat yang lebih besar dari biayanya.

Meskipun misi Apollo memang melakukan beberapa eksperimen ilmiah penting, butuh waktu sampai Apollo 17 ketika ahli geologi AS Harrison Hagan Schmitt menjejakkan kakinya di Bulan.

SLS-Orion

Sumber gambar, NASA

Keterangan gambar, Penerbangan ke Bulan ini telah diusahakan selama lebih dari satu dekade.

"Ya, beberapa penelitian dilakukan dalam misi Apollo, tetapi kali ini akan jauh lebih luas, dengan proyek-proyek yang akan mencoba mengekstraksi air dan mineral dari Bulan, misalnya" katanya.

Dr Leslie Cobb, yang memimpin tim yang mengembangkan roket bulan baru, menjelaskannya lebih lanjut.

"Kita juga bisa belajar cara hidup dan bekerja di permukaan lain di luar Bumi. Kami baru saja menyentuh permukaan dalam hal penjelajahan dan pembelajaran tentang Bulan," katanya kepada saluran TV AS NBC.

Pertanyaan STEM

Dewasa ini, proses seleksi astronot Nasa jauh lebih sederhana - dan secara teoritis lebih adil: kriterianya hanyalah kandidat harus warga negara AS dan memiliki gelar master di bidang STEM - sains, teknologi, teknik, atau matematika.

"Seperti yang dikatakan orang, melihat adalah percaya, dan masalah representasi sangat penting," jelas Dr Millard.

"Misi Apollo menginspirasi banyak generasi untuk memasuki bidang astronomi dan eksplorasi ruang angkasa. Artemis sekarang dapat melakukannya untuk generasi mendatang," tambahnya.

Statistik terbaru dari PBB menunjukkan bahwa pada tahun 2017 hanya 35% siswa STEM adalah perempuan.

"Bagian dari misi Artemis lebih dari sekadar sains dan eksplorasi. Ini berusaha menginspirasi para pemikir terbaik untuk memilih bidang astronomi dan ruang angkasa dan itu dimulai dengan menambah persentase itu ke atas."

Menurut laporan keragaman Nasa tahun 2022, hanya 35% dari tenaga kerja agensi adalah perempuan.

Tetapi ada perempuan dalam posisi yang memiliki kekuatan yang cukup besar: Direktur peluncuran Artemis 1, Charlie Blackwell-Thompson, adalah perempuan pertama yang menempati posisi tersebut. Dr. Sharon Cobb memimpin tim yang mengembangkan roket SLS.

Direktur peluncuran Charlie Blackwell-Thompson

Sumber gambar, NASA

Keterangan gambar, Direktur peluncuran Charlie Blackwell-Thompson mengoordinasikan misi Artemis

Ras juga penting dalam perdebatan ini. Pada tahun 1969, orang kulit hitam Amerika menggelar protes terhadap penggunaan dana publik miliaran dolar untuk mengirim seorang pria ke Bulan. Semangat itu ditangkap oleh "Whitey on the Moon", sebuah puisi terkenal oleh seniman Gil Scott-Heron setahun kemudian.

Pada saat itu, menurut sensus AS, orang Afrika-Amerika lebih dari tiga kali lebih mungkin daripada orang kulit putih untuk hidup dalam kemiskinan.

Meskipun kesenjangan seperti itu telah menyempit dalam beberapa dekade berikutnya, ini belum tercermin dalam rincian siswa Amerika yang lulus di bidang STEM: sebuah studi oleh Pew Research Institute menunjukkan bahwa pada tahun 2018, siswa kulit hitam hanya memperoleh 7% dari gelar sarjana STEM.

Menurut statistik Nasa sendiri, orang Afrika-Amerika saat ini adalah 12% dari tenaga kerja badan tersebut dan 30% adalah non-kulit putih.

Representasi dalam misi luar angkasa

Dalam sebuah wawancara tahun 2020 kepada situs web berita Space.com, mantan astronot Charles Bolden Jr, yang antara 2009 dan 2017 juga merupakan warga Afrika-Amerika pertama yang menjadi direktur Nasa, mengatakan bahwa banyak yang masih harus dilakukan dalam hal keragaman di agensi tersebut.

Salah satu contoh yang dia gunakan adalah bahwa butuh dua dekade bagi astronot kulit hitam pertama, Victor Glover, untuk mengunjungi Stasiun Luar Angkasa Internasional.

SLS-Orion

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pesawat Orion adalah peluncuran pertama program Artemis, menggunakan fasilitas peluncuran di Pusat Antariksa Kennedy milik Nasa di Florida.

"Kami tidak memiliki cukup representasi di kantor astronot, oleh perempuan dan minoritas," kata Bolden.

Nasa akan menemukan dirinya di bawah harapan ekstra dalam beberapa bulan mendatang, ketika badan tersebut diharapkan untuk para astronot untuk Artemis 2, misi yang mengorbit bulan yang diharapkan untuk tahun 2024.

Namun, pertama-tama, kita semua harus menunggu Artemis 1 dan uji terbangnya yang penting.

Bulan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Tujuan misi Artemis adalah membangun tempat tinggal jangka panjang bagi manusia di Bulan.