Covid-19: Karantina wilayah membuat seorang laki-laki merasa cemas dan terisolir, akhirnya ia lari ke minuman keras

Sebelum karantina wilayah selama pandemi Covid-19, Chris McLone berharap tahun 2020 bakal menjadi tahun yang baik baginya.
Di akhir usia 40-an, Chris merasa bugar dan sehat. Dia menikmati hidup dengan karier yang sukses sebagai manajer penjualan.
Selalu menjadi sosok orang yang senang bersosialisasi, Chris menikmati malam bersama teman-temannya dan pergi menonton pertandingan sepak bola.
Alkohol menjadi bagian dalam hidupnya, tapi Chris tidak pernah menganggapnya sebagai masalah.
Namun dalam beberapa minggu setelah karantina wilayah, Chris, yang tinggal di kawasan Teesside, Inggris, berubah dari orang yang menikmati menjadi sosok yang membutuhkan minuman keras.
"Saya kira saya selalu menjadi orang yang tidak bergantung pada alkohol. Saya tidak pernah melewati batas yang disarankan, dan saya dulu menikmati minuman, terkadang memang sedikit lebih banyak dari yang seharusnya, seperti yang dilakukan banyak orang.
"Saya berada dalam kondisi tubuh yang baik sebelum karantina wilayah. Saya berusaha tetap bugar, berenang lima kali dalam seminggu. Saya bekerja produktif di kantor dan memiliki pola pikir yang baik," ujarnya.
Putri Chris yang sudah dewasa bekerja di bidang esensial. Dia keluar dari rumah selama 'lockdown' demi mencegah penularan virus corona terhadap Chris.
Namun itu justru membuat Chris merasa hidup sendiri: terisolasi, cemas, tidak memiliki kepastian tentang masa depan dan semakin tertekan.
Minggu demi minggu berlalu dan kebiasaan minum alkohol Chris meningkat.
Chris mengatakan, belakangan dia mulai mengalami gejala 'putus alkohol'. "Meski saya ingin mencegah dan berhenti pada saat itu, saya tidak dapat mengontrolnya. Dan itu adalah bagian yang menakutkan.
"Saya tidak pernah seperti itu dalam hidup saya dan saya harus mengakuinya pada diri saya sendiri. Jadi saya minum alkohol pagi-pagi sekali untuk menghentikan gejalanya.
"Saya berjanji pada diri sendiri, saya tidak akan mengulanginya lagi besok. Tentu saja, hal yang sama persis terjadi keesokan harinya. Dan saat itulah saya sadar bahwa saya harus mengambil langkah besar untuk mendapatkan pengobatan yang tepat," kata Chris.
Dengan bantuan dan dorongan dari keluarganya, Chris mendaftarkan diri ke layanan rehabilitasi narkoba dan alkohol, Steps Together di Leicestershire.
Dia sudah berhenti mengkonsumsi minuman keras selama lebih dari 70 hari. Dia bertekad untuk mengalahkan 'bisikan iblis'.
"Di mana saya sebelumnya? Itu hanyalah tempat gelap yang mengerikan dan ketenangan yang luar biasa. Saya tidak bisa menjelaskan betapa senangnya saya."
'Setiap hari adalah Jumat'
Salah satu orang yang membantu Chris memulihkan kembali hidupnya adalah Rob Hampton. Dia merupakan dokter spesialis dalam layanan kecanduan alkohol.
Hampton berkata, lembaganya telah melihat peningkatan yang nyata pada orang yang membutuhkan bantuan lepas dari jerat minuman keras. Cerita Chris, kata dia, jauh dari unik.
"Ketika mendengarkan berbagai kisah para pecandu, mereka adalah orang yang beberapa minggu sebelumnya menjalani hidup secara positif, memiliki pekerjaan, dan menjalani kehidupan normal sehari-hari.
"Dalam tiga minggu setelahnya, mereka menjadi peminum alkohol yang ketergantungan dan membutuhkan rehabilitasi detoksifikasi.
"Jika Anda melihat arti karantina wilayah bagi kehidupan orang-orang, pertama-tama, Anda harus bangun setiap hari untuk pergi bekerja dan mengantar anak-anak ke sekolah. Semua itu berhenti begitu saja.
"Seseorang menggambarkannya dengan sempurna kepada saya. 'Setiap hari adalah Jumat malam sekarang' dan tidak ada alasan untuk bangun di pagi hari.
"Beberapa orang merasa terisolasi, cemas pada pekerjaan, mengalami segala macam tekanan dan merasakan ketidakpastian terhadap masa depan.
"Bahkan mereka yang cuti dan merasa lebih percaya diri terhadap pekerjaan, mereka harus terlibat dalam proses belajar anak-anak mereka yang berpindah ke rumah.
"Ada kebutuhan untuk menghilangkan stres setiap hari."

Sumber gambar, Getty Images
Semua ini diketahui oleh British Liver Trust, salah satu badan amal di Inggris yang menangani proses medis para penyalahguna minuman keras.
Jumlah panggilan terhadap kontak telepon mereka meningkat 500% sejak karantina wilayah di Inggris dimulai. Ini sebuah indikasi tentang berapa banyak orang menyadari kebiasaan minum mereka telah meningkat di luar kendali.
Namun ini terjadi juga karena jumlah kematian akibat penyakit hati yang disebabkan minuman keras sejak 1970. Persentase kenaikannya mencapai 400%.
Statistik memperlihatkan fakta yang suram. Setiap hari, lebih dari 40 orang meninggal karena penyakit hati di Inggris.
Ini adalah penyebab kematian dini terbesar ketiga di Inggris dan penyebab kematian terbesar pada mereka yang berusia antara 35 dan 49 tahun.
Vanessa Hebditch, direktur urusan kebijakan publik di badan amal tersebut, menyebut karantina wilayah hanya menekankan perlunya strategi penanganan alkohol yang tepat dari pemerintah.
"Kita perlu menangani urusan kesehatan masyarakat, masalah banyak orang.
"Itu tentang menaikkan pajak minuman keras, membuat standar harga satuan minimum, dan juga membahas periklanan, pemasaran, serta hal-hal seperti pelabelan.
"Tujuannya, konsumen memiliki pilihan nyata dan memahami apa yang terkandung dalam minuman keras.
"Benar-benar gila bahwa saya dapat membeli sebotol susu dan mendapatkan segala macam informasi nutrisi dan kalori, namun saya dapat membeli sebotol bir atau anggur dan tidak mendapatkan apa-apa."
Pemerintah di Skotlandia dan Wales telah memperkenalkan harga satuan minimum 50 pence atau sekitar Rp9.667 untuk penjualan alkohol.
Pada bulan Maret tahun ini, pemerintah di Inggris mengatakan "tidak ada rencana untuk menerapkan batas minimum harga di Inggris" walau mereka mengklaim akan terus memantau kemajuan di Skotlandia dan mempertimbangkan dampaknya.
'Bukan stigma sekarang'
Tentu saja, tidak semua orang mengetahui bahwa mereka minum lebih banyak alkohol selama karantina wilayah
Pada bulan Juni, Badan Survei Nasional Wales menemukan bahwa 31% responden mereka minum lebih sedikit alkohol sebelum 'lockdown'.
Di seluruh Inggris, layanan kesehatan melaporkan, meskipun jumlah orang yang mencoba mengakses layanan rehabilitasi alkohol turun selama fase awal pandemi, persentasenya kini kembali ke tingkat normal.
Dan orang-orang yang merasa tengah dalam masalah, dukungan tersedia di luar sana.
Nick Davis, yang berusia akhir 50-an dan tinggal di kawasan West Yorkshire, sudah lebih dari 500 hari tidak mengkonsumsi minuman keras. Namun dia berkata, dia selalu hanya berjarak satu jam untuk kembali kebiasaan minum-minum.
Seperti Chris, Davis merasa karantina wilayah dan kekacauan selama pandemi sulit diatasi. Namun aktivitas seperti merawat anjing atau memainkan gitar membuatnya terus menghindari masalah itu.
Davis menawarkan kata-kata ini kepada mereka yang mungkin berjuang, "Saya pikir nasihat terbaik yang bisa saya berikan adalah, jujur saja. Jujurlah dengan diri Anda sendiri, jujurlah dengan semua orang, beri tahu semua orang apa yang Anda alami.
"Sekarang stigma tidak sebanyak di masa lalu, kecanduan ini adalah penyakit," ujarnya.











