Hujan meteor Perseid seperti 'kembang api' alam di bulan Agustus, bagaimana menyaksikannya?

Bintang jatuh melintasi langit malam di atas patung kayu di dekat desa Pitch sekitar 25 km dari Minsk, selama puncak hujan meteor Perseid tahunan pada 15 Agustus 2015.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Langit malam menjadi terang benderang dengan hujan meteor.
    • Penulis, Eva Ontiveros
    • Peranan, BBC World Service
  • Waktu membaca: 4 menit

Tidak ada seorang pun yang ingin berjalan menembus kepulan debu dan sampah, tapi ceritanya akan berbeda ketika Bumi yang melakukannya.

Saat Bumi melewati awan berisi puing-puing kosmik pada pertengahan Agustus, langit malam akan tampak menyala seperti kembang api berkat hujan meteor Perseid.

Tahun ini, Perseid akan mencapai puncaknya antara 12 hingga 13 Agustus. Fenomena alam tersebut bisa disaksikan di angkasa. Namun, pemandangan pada tahun ini tidak akan sespektakuler tahun lalu karena terdapat bulan purnama.

"Sayangnya puncak Perseid tahun ini akan menjadi kondisi terburuk bagi para pengamat bintang," kata Bill Cooke, astronom NASA yang mengepalai Meteoroid Environment Office.

Baca juga:

Menurut Cooke, persaingan cahaya dari satelit Bumi akan membuat jumlah meteor yang bisa disaksikan khalayak di belahan Bumi utara kemungkinan jauh berkurang - sekitar 10-20 meteor per jam. Padahal penampakan hujan meteor tahunan tersebut biasanya mencapai 50-60 meteor per jam.

NASA, badan antariksa Amerika Serikat, secara berkelakar merilis cuitan berisi wanti-wanti kepada para pengamat benda langit.

Hentikan X pesan
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan

Kapan hujan meteor Perseid bisa disaksikan di Indonesia?

Peneliti di Pusat Sains dan Antariksa LAPAN, Andi Pangerang, mengatakan fenomena puncak hujan meteor Perseid terjadi 12-13 Agustus 2021.

Di Indonesia, hujan meteor tersebut dapat disaksikan pada pukul 11.00 malam di Sabang dan pukul 01.00 dini hari di Pulau Rote, menurut keterangan resmi LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional).

"Hujan meteor ini bisa disaksikan tanpa alat bantu, asalkan cuaca cerah, medan pandang bebas dari halangan dan kualitas langit cukup bersih," kata Andi kepada kantor berita Antara.

Andi menuturkan fenomena hujan meteor tersebut akan bisa disaksikan dengan mata telanjang jika tidak ada polusi cahaya.

Masyarakat dapat menyaksikan hujan meteor tersebut dari arah utara-barat laut hingga utara, mulai tengah malam waktu setempat hingga 20 menit sebelum matahari terbit.

Apa itu Perseid?

Hujan Meteor Perseid di atas Masjid Putih di kota Bolgar, Rusia

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Dari Rusia hingga Nigeria, Perseid dapat dilihat dari sebagian besar penjuru dunia

Fenomena hujan meteor terjadi saat komet Swift-Tuttle mengitari Matahari - sama seperti perputaran Bumi, tetapi pada sudut tertentu.

"Apa yang terjadi adalah, setiap tahun, Bumi menabrak jalur orbit komet [Swift] yang terdiri dari puing-puing yang tertinggal," kata astronom Edward Bloomer, dari Royal Museum Greenwich.

Saat puing-puing kosmik ini - es, debu, dan pecahan batu seukuran sebutir beras - menghantam lapisan atas atmosfer bumi, "maka memunculkan kobaran api dengan hasil yang menakjubkan, walaupun terkadang hanya sepersekian detik," kata Bloomer.

Dan alasan hujan meteor Perseid begitu istimewa adalah karena "tiap tahun dapat diandalkan keindahannya, dan meskipun puncak aktivitasnya pada pertengahan Agustus setiap tahun, Anda dapat melihatnya sejak akhir Juli," tambahnya.

Lebih dari itu, hujan meteor ini dapat dinikmati dengan mata telanjang.

Silakan nikmati keindahan langit malam dalam beberapa hari mendatang, Anda mungkin akan diberikan hadiah yang tak terlupakan.

Kadang-kadang sepotong besar sisa komet muncul, dan "jika Anda beruntung Anda bisa melihat bola api yang aneh, namun spektakuler," tambah Bloomer.

Ia telah melakukan pengamatan selama bertahun-tahun namun hanya berhasil melihat bola api ini sekali dan sekilas dari sudut matanya.

Apakah hujan meteor layak dilihat?

Meteor Perseid, juga dikenal sebagai "Bintang Jatuh", melintas di langit di Kefken Pink Rocks di distrik Kandira di Kocaeli, Turki pada 13 Agustus 2018.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Perseid telah menerangi langit Anatolia sejak jaman dahulu kala.

"Tentu saja!", Kata Bloomer, "matikan saja semua lampu dan lakukan".

Perseid seperti pertunjukan kembang api alam. Dan pancurannya sangat banyak sehingga dapat dengan santai dan mudah diamati, Anda dapat melihat hingga 100 bintang jatuh per jam.

Dan yakinlah, meskipun meteor menghantam atmosfer bumi dengan kecepatan 215.000 km/jam, mereka tidak menimbulkan bahaya.

"Luangkan waktu untuk melihat suguhan yang indah, bentangkan selimut, dan lihat ke langit," kata Bloomer.

"Ini sangat menenangkan" - dan itu terlihat dari seluruh dunia.

Presentational grey line
Sekelompok orang mengamati bintang, langit diterangi meteorit dan bima sakti

Sumber gambar, Getty Images

TIPS TERBAIK UNTUK MENIKMATI PERSEID

Astronom Edward Bloomer merekomendasikan:

  • Pilih bidang langit yang luas menuju Timur dan Timur Laut. Jika Anda mengetahui konstelasi Anda, arahkan ke Perseus, dekat Cassiopeia. Mungkin terlalu rumit ya, jadi gunakan aplikasi untuk membantu Anda ;)
  • Melihat bintang lebih mudah sebelum pandemi (virus corona), tetapi Anda tetap dapat melakukannya dengan tetap mematuhi protokol kesehatan
  • Pilih tempat Anda saat senja, bentangkan selimut Anda, buat diri Anda nyaman dan tunggu sampai benar-benar gelap. Anda perlu mematikan semua lampu, ponsel dan sumber polusi cahaya lainnya
  • Bersantai dan nikmati salah satu suguhan alam terbaik: Anda akan menyaksikan sekitar 100 meteor per jam, dan Anda bahkan mungkin akan menyaksikan bola api yang aneh
Presentational grey line

Perseid apa artinya?

Sebuah meteor Perseid melintasi langit malam di atas patung Yesus Kristus di desa Ivye sekitar 125 km barat Minsk, pada 13 Agustus 2016.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Dari Tiongkok kuno hingga Romawi yang tidak ramah, ada banyak kisah yang menjelaskan fenomena Perseids.

"Kami menyebutnya Perseid karena bintang-bintang yang jatuh tampak memancar dari konstelasi Perseus," kata Bloomer, tetapi fenomena tersebut telah diamati - dan dinamai - oleh begitu banyak budaya-budaya yang berbeda di masa lalu.

Dalam tradisi Katolik, peristiwa itu dikenal sebagai "Air Mata St Lawrence" yang mengacu pada Laurentius, salah satu dari tujuh diaken kota Roma yang menjadi martir dalam penganiayaan orang-orang Kristen oleh Romawi tahun 258 AD (Anno Domini - Tahun Masehi).

Karena banyak orang-orang suci ini yang diduga dibakar hidup-hidup pada 10 Agustus, cerita rakyat Mediterania mengatakan bahwa bintang jatuh yang terlihat pada saat ini adalah sisa percikan api pembakaran tersebut.

Tetapi jauh sebelum orang Romawi, sudah ada beberapa catatan astronomi yang sangat akurat dari Persia, Babilonia, Mesir, Korea, dan Jepang - memberikan laporan rinci tentang hujan meteor ini.

Menjadi kepercayaan beberapa pihak bahwa pengamatan pertama Perseid yang tercatat berasal dari Dinasti Han di Cina, di mana para astronom di tahun 36AD menulis tentang suatu malam ketika "lebih dari 100 meteor terbang ke sana di pagi hari".