Covid-19 dan dampak ekonomi: Kisah pekerja kebun binatang yang memilih merawat hewan tanpa digaji, walau sudah dipecat

    • Penulis, Navin Singh Khadka
    • Peranan, Wartawan lingkungan, BBC World Service
  • Waktu membaca: 4 menit

"Alasan saya bangun di pagi hari adalah agar dapat bersama hewan-hewan cantik ini. Tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka di masa depan."

Jenna Lowe berusia 23 tahun. Dia bekerja di penampungan hewan liar (wildlife), Cango selama dua tahun.

Terletak di pinggiran kota Oudtshoorn di Afrika Selatan, penampungan ini telah berkembang selama 40 tahun terakhir dari sebuah peternakan buaya-buaya kecil menjadi sebuah kebun binatang yang diakui secara internasional.

Pengakuan ini didasarkan atas berbagai upaya konservasi oleh kebun binatang yang menampung lebih dari 90 spesies hewan dan reptil.

Ketika kebijakan karantina wilayah di Afrika Selatan diperpanjang tiga pekan pada Maret lalu, Jenna diberitahu bahwa kebun binatang itu harus ditutup lantaran pandemi virus corona.

Dia, bersama dua pertiga staf kebun binatang lainnya, diberitahu bahwa dia kehilangan pekerjaannya, setidaknya untuk saat ini.

Namun hal pertama yang dia pikirkan adalah apa yang akan terjadi pada kawanan cheetah dan lemur yang telah dia rawat selama ini.

Rekan Jenna, Angelique Oktober, bereaksi sama.

"Kami adalah ibu-ibu dari hewan-hewan ini dan para ibu tidak akan meninggalkan anak-anaknya ketika mereka sangat membutuhkannya," kata perempuan berusia 25 tahun itu kepada BBC.

Keesokan paginya, Jenna dan Angelique kembali mengenakan seragamnya dan kembali bekerja - tetapi tanpa gaji.

Tatkala mereka berjalan melewati gerbang kebun binatang, mereka mendapati bahwa bukan hanya mereka yang secara sukarela kembali bekerja secara gratis.

Lebih dari 40 anggota staf lainnya telah memutuskan bahwa hewan-hewan itu adalah yang utama, dan membuat mereka kembali sebagai relawan ke penampungan hewan liar Cango demi menjaga binatang selama diberlakukan karantina wilayah alias lockdown.

Pemilik kebun binatang terpaksa memotong jumlah staf dari 78 menjadi 24 orang untuk menjaga kebun binatang selama pandemi.

"Banyak dari kita yang tidak mendapat gaji masih ada di sini, membantu menjaga agar kapal tetap bertahan," kata Craig Gous, pimpinan senior kebun binatang, yang sudah bekerja selama lebih dari 20 tahun di kebun binatang.

"Kami bekerja dengan hewan-hewan berbahaya dan sensitif, jadi ini bukanlah pekerjaan mudah," kata Gous, yang memiliki spesialisasi merawat harimau, singa putih Afrika, dan cheetah.

"Saya memiliki ikatan sangat mendalam pada tempat ini. Saya memprioritaskannya di atas hal-hal lain dalam hidup saya."

"Saat kami berpikir bahwa 'awan' Covid-19 bakal memberatkan, kami melihat semburat harapan," kata pemilik kebun binatang, Andrew Eriksen kepada BBC,

"Sejumlah staf mulai datang dengan seragamnya untuk bekerja, dan mereka terus merawat hewan-hewan kami dengan bangga - tanpa bayaran sama sekali."

Prioritaskan kesejahteraan hewan

Ada lebih dari 4.000 hewan di Cango Wildlife dan pemiliknya mengatakan dibutuhkan sekitar $118.000 atau lebih dari Rp1,7 miliar untuk perawatan setiap bulan.

Sebelum pandemi, kebun binatang ini dikunjungi sekitar 120.000 orang setiap tahun.

Namun kebun binatang tersebut saat ini ditutup untuk pengunjung selama empat bulan, semenjak pemerintah Afrika Selatan memberlakukan lockdwon nasional.

Kebijakan itu sudah dilonggarkan secara bertahap, namun sektor pariwisata belum diizinkan untuk dibuka kembali.

"Lebih dari sekadar tantangan untuk tetap bertahan," kata Eriksen.

"Kami tidak menerima dana pemerintah dan kami sepenuhnya bergantung pada pengunjung untuk pendapatan kami."

Tantangan kebun binatang selama pandemi

Kebun binatang dan penampungan bagi hewan air di seluruh dunia mengatakan kebijakan lockdwon menyulitkan mereka untuk bertahan hidup, walaupun beberapa pemerintah menawarkan dukungan dana dukungan.

Kebun binatang Chester di Inggris awal bulan ini memperingatkan bahwa biaya pengeluaran selama lockdown "berisiko kepunahan" bagi hewan-hewannya.

"Beberapa bulan terakhir ini sangat menyulitkan para anggota kami," kata Gavrielle Kirk-Cohen, direktur komunikasi Asosiasi Kebun Binatang dan Akuarium Dunia (WAZA).

"Banyak anggota kami mengandalkan pengunjung untuk pendapatan mereka," katanya.

"Uang yang masuk tidak hanya untuk memberi makan hewan sesuai standar tertinggi bagi kesejahteraan mereka, tetapi juga berkontribusi dan mendukung berbagai upaya konservasi di seluruh dunia."

WAZA memiliki sekitar 300 anggota. Diperkirakan ada lebih dari 10.000 kebun binatang di seluruh dunia, tetapi ini bukanlah angka resmi.

Bagaimana nasib hewan di kebun binatang yang kosong?

Para penjaga yang kembali bekerja secara gratis di Cango wildlife mengatakan perilaku hewan telah berubah semenjak kebun binatang ditutup bagi pengunjung.

"Hewan-hewan itu bertanya-tanya mengapa tidak ada pengunjung," kata Lowe.

"Kepala mereka melongok sepanjang waktu untuk melihat apakah ada orang yang masuk. Mereka juga lebih banyak mengantuk ketimbang biasanya," tambahnya.

Para ahli kebun binatang mengatakan bahwa lockdown telah memperkuat ikatan antara hewan dan penjaganya di banyak kebun binatang di seluruh dunia.

"Inilah sesuatu yang terlihat dari krisis ini," kata Dave Morgan dari Animal Welfare, badan amal internasional yang membantu kebun binatang merawat hewan-hewannya.

"Hubungan antara hewan dan penjaganya tampaknya semakin dalam di tengah kesulitan akibat lokcdown."

Tidak dibayar saat pandemi

Sejumlah bekas staf yang kembali menjadi relawan di Cango wildlife berjuang tanpa bayaran, dan harus mencari cara lain untuk mencari nafkah selama pandemi.

Craig Gous mendirikan bisnis jual-beli secara paruh waktu, dan tengah berusaha agar usahanya tetap berjalan saat dirinya menjadi relawan di kebun binatang.

"Saya tidak bisa membayar sewa rumah dan tagihan lain seperti asuransi," ujarnya.

"Saya harus bekerja hingga enam jam lebih lama dari 10 hingga 12 jam yang saya habiskan untuk merawat hewan-hewan untuk membayar segala tagihan saya dan sewa rumah saya."

Jenna Lowe juga merasa kesulitan, tetap menemukan inspirasi dari hewan-hewan yang dia jaga secara sukarela.

"Bagi saya, entah bagaimana, ini lebih tentang hewan dan kesejahteraan mereka. Mereka telah menjadi fokus saya," katanya.

"Melihat binatang-binatang bahagia memberi saya harapan bahwa suatu hari keadaan akan kembali normal."