You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Larangan plastik di tengah PSBB Jakarta: 'butuh terobosan baru' atur penggunaan plastik di belanja online
- Penulis, Resty Woro Yuniar
- Peranan, BBC News Indonesia
Penggunaan kantong plastik sekali pakai di pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar rakyat mulai dilarang di DKI Jakarta pada 1 Juli, di tengah pandemi Covid-19 yang justru meningkatkan penggunaan plastik — menurut data dan survei.
Gojek dan Grab, perusahaan layanan online, misalnya, mencatat kenaikan transaksi online selama pandemi Covid-19 meningkat rata-rata berkali-kali lipat atau puluhan persen. Transaksi online di berbagai jenis layanan ini sebagian besar melibatkan pemakaian plastik.
Pandemi Covid-19 juga memunculkan sampah APD yang menjadi bagian 16% dari sampah plastik di Teluk Jakarta, demikian hasil sebuah penelitian LIPI.
Andono Warih, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta secara blak-blakan mengakui saat ini pihaknya "belum bisa mengendalikan dengan baik [konsumsi] plastik di [layanan belanja] online."
Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 142 Tahun 2019 yang melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai itu hanya menyasar pusat perbelanjaan, toko swalayan, serta pasar rakyat, dan tidak mencakup kantong plastik yang digunakan untuk belanja barang dan makanan lewat aplikasi daring.
Pun demikian, dari pantauan BBC Indonesia di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta pada Kamis (02/07), masih banyak penjual dan pembeli, baik makanan dan non-makanan, yang memakai plastik untuk membungkus barang belanjaannya.
'Kalau gak diplastikin barangnya rusak'
Salah satunya adalah Ian, penjual baju batik, yang masih menyediakan kantong plastik dan membungkus baju jualannya dengan plastik.
"Masih dikasih plastik, kalau gak diplastikin kan barangnya rusak, tapi kalau dikasih plastik kan biar terjaga, kalau yang belanja [di saya] sih kebanyakan [sudah memakai] paper bag," kata Ian.
"Kalau memang sudah ada aturannya pemerintah [melarang pemakaian kantong plastik] seperti itu, ya pasti saya ganti ke paper bag."
Di sisi lain, Denis sedang sibuk membungkus ayam bakar dagangannya, yang diletakkan di dalam styrofoam kemudian dibungkus dengan kantong plastik, kepada seorang pembeli.
"Masih [pakai kantong plastik dan styrofoam] soalnya belum ada solusinya, kalau tidak boleh pasti [saya] tidak bakal pakai lagi," ujar Denis.
"Menurut saya [larangan pemakaian kantong plastik itu] bagus, lebih baik bawa [kantong belanja sendiri], kalau tidak plastik dibuang di tanah, ya mungkin gak bisa didaur ulang, kalau sudah masuk tanah. Kalau pakai kantong [belanja sendiri] kan gak langsung dibuang pasti buat besok lagi, belanja lagi, bagus juga sih."
Rina, salah seorang pembeli batik, mengatakan ia dan teman-temannya pakai plastik hari itu karena ia "lupa" membawa kantong belanjanya.
"Tadinya dari rumah ingin bawa kantong [belanja], tapi lupa, gak dibawa. Kan belanjanya banyak," kata Rina, warga Tangerang.
Ia mengatakan tahu ada aturan pemerintah yang melarang pemakaian kantong plastik sekali pakai di pusat perbelanjaan di Bekasi, tapi tidak di Jakarta.
'Sulitnya kendalikan plastik' di tengah PSBB dan WFH
Pemesanan makanan dan barang belanja secara daring meningkat pesat di Indonesia selama pandemi karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan 'work from home' (WFH).
Jumlah transaksi di layanan pesan antar makanan di GoJek, GoFood, misalnya, meningkat "sekitar 20%" selama masa pandemi, kata Rosel Lavina, Wakil Presiden urusan Ekosistem Makanan GoJek, melalui sebuah pernyataan kepada BBC Indonesia.
Untuk layanan pembelian barang belanjaan, yang disebut GoMart, jumlah transaksi naik tiga kali lipat pada periode Maret- Mei 2020, jika dibandingkan pada periode Desember 2019- Februari 2020.
"Jumlah produk yang dibeli pada periode yang sama pun meningkat 4,6 kali lipat karena masyarakat berbelanja semakin banyak," kata Rosel.
Sementara untuk GrabFood, layanan pesan antar makanan milik Grab, jumlah kenaikan transaksi tercatat sebesar 4%, kata Hadi Surya Koe, Kepala Departemen Pemasaran GrabFood-Grab Indonesia, lewat sebuah pernyataan kepada BBC Indonesia.
Layanan siap masak yang dinamakan GrabKitchen juga naik signifikan mencapai 33% pada periode Maret-April 2020 jika dibandingkan pada Januari-Februari 2020.
Sedangkan GrabMart, layanan belanja barang kebutuhan sehari-hari di Grab, mencatat kenaikan jumlah transaksi 22% pada Maret 2020, jika dibandingkan bulan sebelumnya, ujar Hadi.
Data jumlah transaksi dari GoJek dan Grab tersebut sesuai dengan hasil survei Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dengan ratusan responden pada 20 April - 5 Mei.
Survei tersebut mendapati bahwa frekuensi belanja online mayoritas warga Jabodetabek meningkat dari 1-5 kali per bulan sebelum pandemi menjadi 1-10 kali.
Sementara itu jumlah responden yang belanja online berbentuk paket naik menjadi 62%, begitu juga untuk layanan antar pesan makanan siap saji yang naik 47%.
Sebanyak 96% dari paket yang dibeli via online tersebut mengandung materi plastik, seperti selotip, pembungkus plastik, dan bubble wrap.
Survei juga mendapati bahwa pembelian alat pelindung diri, seperti masker, face shield, dan sarung tangan, melonjak dari 4% sebelum pandemi menjadi 36% saat ini.
"Kami juga memonitor di muara, kami melihat bahwa APD yang sebelumnya tidak kita temukan, tidak ada kategorinya, sekarang [ada] di dua muara yang menuju Teluk Jakarta. [Sampah APD] merupakan 16% dari sampah plastik yang kita temukan. Yang dulunya tidak punya kategori, sekarang sangat kelihatan," kata Intan Suci Nurhati, peneliti di LIPI.
Bercampurnya sampah plastik dan sampah medis dengan jenis sampah rumah tangga lain berbahaya bagi petugas kebersihan baik di lingkungan tempat tinggal atau di TPA mengingat virus corona yang bisa bertahan sampai tujuh hari di permukaan plastik, meskipun informasi ini masih diperdebatkan di kalangan ilmuwan.
'Memperburuk masalah'
Pemakaian kantong dan pembungkus plastik sekali pakai yang meningkat selama pandemi memperburuk masalah sampah plastik yang sudah menjadi masalah di Indonesia sebelum wabah.
Hanya 10 persen dari 6,8 juta ton sampah plastik setiap tahunnya yang didaur ulang di sekitar 1.300 pusat daur ulang di Indonesia, menurut survei Indonesia National Plastic Action Partnership pada tahun 2017. Sebagian besar sampah plastik dibuang di Tempat Pembuangan Akhir, sehingga banyak yang berakhir di lautan.
Ketika responden ditanya soal pentingnya memilah plastik di rumah tangga, hampir 100% responden menjawab 'iya', kata Intan Suci Nurhati, salah satu peneliti LIPI, saat dihubungi (02/07).
Namun dalam praktik sehari-hari, hanya 50% responden yang melakukannya.
"Kami melihat ini ada perbedaan cukup tinggi antara kesadaran sama aksi nyata, kita sudah sangat sadar, tapi ketika berkaca ke diri sendiri apakah kita sudah melakukan yang terbaik untuk mengurangi [sampah] plastik, ini masih banyak PR-nya," lanjut Intan.
"Selama pandemi total timbunan sampah di perkotaan sebetulnya menurun cukup drastis, 10%. Meskipun secara item, plastik sekali pakai ini cenderung naik sebetulnya.
"Memang yang menjadi PR adalah seharusnya pemerintah menyadari bahwa dengan adanya [pandemi] seharusnya sistem penanganan sampahnya bisa diperbaiki," kata Rahyang Nusantara, Koordinator Nasional Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik.
"Sudah saatnya pemilahan sampah di sumber itu lebih baik, seperti di rumah, itu sudah harus ditegakkan peraturannya. Plastik itu selama pandemi ini dianggap sebagai sampah infectious karena terpapar dengan udara, dan kita tidak tahu juga itu bagaimana proses distribusinya, dan dipakai di mana saja, jadi tidak bisa kita satukan juga dengan sampah lainnya."
Hal senada diungkapkan Sri Bebassari, presiden Indonesia Solid Waste Association.
Ia mengatakan bahwa sistem pembuangan sampah di Indonesia belum efektif lantaran selama ini sebagian besar sampah, termasuk plastik, berakhir di TPA. Di negara maju, sampah plastik diproses dengan waste incinerator.
"PR kita itu cara pakai dan cara buang plastik yang salah, masih ada yang dibuang di sungai, di laut, jadi bukan teknologinya yang salah, tapi pembangunan manusia itu tidak berbarengan dengan pembangunan teknologi, itu masalah di negara kita. Ibaratnya kita beli kulkas tapi belum punya listrik akhirnya kulkasnya jadi lemari baju," kata Sri.
Konsumsi plastik di layanan pesan antar makanan sulit dikendalikan
Menurut Rahyang, layanan pesan antar makanan daring menjadi sektor yang penggunaan kantong plastik sekali pakai susah dikendalikan.
Penyedia aplikasi layanan antar makanan siap saji daring sudah melakukan beberapa cara untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai, seperti menyediakan tas pengantar makanan khusus, atau insulated bag, kepada mitra pengemudinya, namun tidak semua mendapatkannya.
Rosel Lavina dari GoJek mengatakan bahwa GoFood sejak 2019 telah menerapkan upaya guna mengurangi konsumsi plastik sekali pakai, yaitu dengan menyediakan pilihan untuk tidak menyertakan alat makan plastik, yang juga ditawarkan Grab, dan mengedukasi mitra pengemudi agar membawa tas sendiri saat mengantarkan makanan dan minuman.
"Efektif 1 Juli 2020, pelanggan yang membeli kebutuhan sehari-hari di layanan GoMart otomatis dikenakan biaya Rp 4.000 ... untuk mendapat kantong belanja yang bisa dipakai ulang," tambahnya.
Sementara itu Hadi Surya Koe dari Grab mengatakan, "Kami akan terus melengkapi tas pengantaran baik dalam bentuk ransel dan mini sling secara gratis ke lebih banyak mitra pengantaran yang dapat digunakan kembali untuk membawa pesanan makanan tanpa menambahkan limbah plastik."
Mencari terobosan baru
Andono Warih, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, mengatakan bahwa pihaknya akan meningkatkan pengawasan terhadap peraturan gubernur mengenai larangan penggunaan plastik.
"Ini baru satu hari, efektif kemarin, hari kedua ini di sana sini barangkali masih ditemukan beberapa yang belum comply, tapi di banyak tempat lainnya kita sudah saksikan compliance-nya cukup baik, kita akan terus lakukan pengawasan dan pembinaan," katanya saat dihubungi BBC Indonesia pada (02/07).
Andono mengatakan bahwa pembungkus plastik masih diijinkan di Jakarta untuk "membungkus daging atau buah." Untuk saat ini, pemerintah daerah DKI Jakarta masih fokus untuk mengurangi pemakaian kantong kresek di pusat perbelanjaan dan pasar karena pengawasan yang lebih mudah di toko-toko fisik ketimbang daring.
"Kita sadar masih ada juga yang memakai [kantong plastik sekali pakai] untuk [membungkus] makanan. Di tataran ideal tentunya semua plastik dan semua sumber [limbah] dikendalikan, tetapi staging-nya membutuhkan beberapa pendekatan yang bisa kita tempuh, sebagaimana yang sudah kita gariskan di Pergub No. 142 tersebut," kata Andono.
"PSBB dan WFH, kerja dan ibadah di rumah juga memberikan dampak terhadap perilaku belanja kita yang lebih meningkat di [platform] online. Kita juga mengamati bahwa penggunaan plastik di belanja online saat ini masih dominan. Kami juga sudah meneliti, mengamati dan juga mencari terobosan baru lagi untuk bagaimana kita ke depannya bisa lebih baik lagi," ujarnya.