Geminid, 'rajanya hujan meteor' yang akan hiasi langit akhir pekan ini, bagaimana cara melihatnya

Sumber gambar, Getty Images
Meluncur dengan kecepatan tinggi 260.000 kilometer per jam menembus atmosfir bumi, meteor meninggalkan lintasan cahaya di angkasa yang kita kenal dengan bintang jatuh.
Tak perlu teleskop atau teropong untuk mengagumi hujan meteor, dan akhir pekan ini, "rajanya" hujan meteor akan terlihat dari berbagai sudut di bumi.
Hujan meteor Geminids muncul setahun sekali dalam kalender astronomi.
Terjadi di pertengahan Desember ketika planet kita berputar di orbitnya, berjumpa dengan arus puing angkasa yang berasal dari asteroid bernama 3200 Phaethon.
Jika malam gelap dan langit jernih, Anda bisa menyaksikan sekitar 120 meteor per jam berjatuhan di langit saat puncak hujan terjadi.
Mereka bergerak dengan kecepatan relatif lambat 130.000 km per jam, dan ini membuat mereka lebih enak dilihat.
Namun apa sesungguhnya hujan meteor itu dan bagaimana cara menyaksikannya?
Ini adalah beberapa fakta terkait fenomena tersebut:
Bagaimana cara menyaksikan Geminid?

Sumber gambar, Getty Images
American Meteor Society pmemperkirakan bahwa hujan meteor Geminid, akan berpuncak pada pukul 2 pagi waktu setempat hari Sabtu, 14 Desember.
Jika ingin menyaksikannya, pergilah ke tempat yang gelap dan jauh dari cahaya kota.
Berbaringlah telentang, biasakan dulu mata Anda dengan kegelapan selama 30-40 menit.
Sayangnya, saat ini dekat bulan purnama yang mungkin akan menghalangi pandangan kita dari hujan meteor Geminid tahun 2019.
Namun tergantung keadaan cahaya sekeliling, Anda masih bisa melihat sekitar 20 meteor per jam.
Jika cuaca sekitar mendung pada hari Sabtu, masih ada kemungkinan melihat Geminids sebelum dan sesudah puncaknya, mulai dari pukul 10 malam hari Jumat (13/12) hingga Minggu (15/12) dini hari.
Sesudah itu, hujan meteor ini akan menghilang dalam beberapa hari.
Meteor, meteorit, meteoroid, asteroid, komet... apa bedanya?

Sumber gambar, Getty Images
Meteor adalah jejak cahaya yang ditinggalkan oleh batuan luar angkasa yang terbakar saat menghantam atmosfir Bumi menurut NASA ahli meteor NASA dan blogger Bill Cooke.
Objeknya sendiri disebut meteoroid - bongkahan batu atau es yang jatuh dari asteroid atau komet.
Ketika mereka selamat dari proses jatuh dan menghantam bumi, mereka dikenal dengan nama meteorit.
Sedangkan asteroid adalah bongkahan batu besar yang mengambang di luar angkasa mengorbit matahari.
Seperti asteroid, komet juga melayang di angkasa mengitari matahari, tetapi mereka terbuat dari es dan debu angkasa, bukan batu.
Seberapa sering meteoroid menghantam bumi?

Sumber gambar, Getty Images
Setiap hari, bumi dibombardir oleh sekitar 100 hingga 300 ton debu angkasa dan obyek seukuran pasir atau lebih kecil, according menurut NASA.
Diperkirakan sekitar 44 ton meteorit jatuh ke bumi setiap hari.
Sekitar setahun sekali, asteroid seukuran mobil jatuh ke atmosfir bumi, memunculkan bola api yang mengesankan, dan habis terbakar sebelum mencapai permukaan bumi.
Sekitar 2.000 tahun sekali, meteoroid seukuran lapangan bola menghantam bumi dan menyebabkan kerusakan besar di wilayah tempatnya jatuh.
Apa itu hujan meteor?

Sumber gambar, PA Media
Hujan meteor sebenarnya terjadi ketika jumlah meteor meningkat secara dramatis.
Ini terjadi setiap tahun atau dengan interval rutin setiap kali bumi melewati deretan puing luar angkasa.
Perseid adalah hujan meteor paling terkenal, berpuncak bulan Agustus setiap tahun. Setiap potong meteor pada Perseid berasal dari komet Swift-Tuttle.
Komet Halley yang terkenal, bertanggung jawab terhadap terciptanya hujan meteor Eta Aquariid dan Orionid.
Sedangkan Geminid di pertengahan Desember dianggap sebagai salah satu yang terkuat dan paling mengesankan, dengan lintasan cahaya paling terang dan intens.
Makanya ia pun dijuluki "rajanya hujan meteor".
Seberapa besar kemungkinan tertimpa meteoroid?
Artikel ini memuat konten yang disediakan Google YouTube. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Google YouTube kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati YouTube pesan
Meteoroid biasanya kecil, mulai dari ukuran debu hingga batu besar. Menurut NASA meteoroid hampir selalu habis terbakar di atmosfir.
Namun sesekali mereka jatuh ke permukaan bumi dan melukai orang menurut International Comet Quarterly, yang melacak meteorit.
Tahun 1994 di Getafe, Spanyol, meteorit jatuh menimpa kaca depan mobil BMW yang sedang melaju, menyebabkan pengemudinya patah jari.
Tahun 1992 hujan meteorit jatuh di kawasan padat penduduk di kota Mbale di Uganda dan seorang anak laki-laki terkena bongkahan seberat 3,6 gram di kepala.
Bongkahan itu sempat mengenai daun pisang dan memantul ke pohon sebelum menghantam si bocah. Dilaporkan ia cukup sehat untuk bisa memungut batu itu.
Tahun 1954 di Alabama, meteorit sebesar jeruk bali jatuh menembus atap, terpantul di radio dan mengenai Anne Hodges yang sedang duduk di ruang tengah rumahnya. Anne memar karenanya.

Sumber gambar, UNIVERSITY OF ALABAMA MUSEUMS, TUSCALOOSA, ALABAM
Di Rusia terjadi dua peristiwa besar ledakan batu angkasa terjadi dan menyebabkan kerusakan.
Bulan Februari 2013, sebuah bola api sangat terang yang dikenal dengan nama "superbolide" meledak di atas kawasan Ural, menjatuhkan meteorit dan melukai hampir sebanyak 1.500 orang - kebanyakan disebabkan pecahnya kaca jendela karena gelombang kejut yang menghantamnya.
Tahun 1908 di Tunguska, Siberia, sebongkah karang memasuki atmosfir Bumi, meledak di angkasa dan menghancurkan 2.000 kilometer persegi hutan dan menewaskan dua orang serta ratusan ekor rusa.











