Gunungan sampah: Mereka yang tetap tersenyum di tengah 'bau seperti dihantam godam'

Seorang fotografer Inggris pemenang sejumlah penghargaan, Tom Barnes bercerita tentang pengalamannya membidik kehidupan di tempat pembuangan akhir sampah di Suwung (Bali), Piyungan (Bantul) dan Bantar Gebang (Bekasi).

Pemulung Bantar Gebang

Sumber gambar, Tom Barnes

Keterangan gambar, Pemulung di Bantar Gebang, Bekasi.

Barnes yang berkunjung ke tiga TPA pada Oktober 2019 mengatakan para pemulung yang sehari-hari bekerja di tengah gunungan sampah, juga makan dan hidup di kawasan ini tanpa memakai pelindung, termasuk sarung tangan ataupun masker.

Keterangan video, Bau di Bantar Gebang, cukupkah kompensasi untuk warga sekitar?

Mereka, kata Barnes bekerja keras dan menyesuaikan diri dengan bau dan panas matahari yang menyengat.

Seorang ibu yang bekerja memilah sampah di Piyungan.

Sumber gambar, Tom Barnes

Keterangan gambar, Seorang ibu yang bekerja memilah sampah di Piyungan.

"Suasana di sana hiruk pikuk, gelombang truk datang tanpa henti, dan alat berat terus mendorong sampah hingga menjadi gunung sampah... Sibuknya bagai di sarang lebah. Hampir seperti kekacauan yang direncanakan, terutama melihat bagaimana pemulung bekerja di samping alat-alat berat ini," cerita Barnes.

Pemulung di Piyungan.

Sumber gambar, Tom Barnes

Keterangan gambar, Pemulung di Piyungan.

"Reaksi mereka ketika difoto umumnya positif, sangat bersahabat. Beberapa di antaranya mendatangi kami meminta untuk difoto. Mereka tampaknya heran saya datang jauh-jauh hanya untuk memfoto mereka," tambahnya tentang Bantar Gebang.

TPA Bantar Gebang, salah satu tempat pembuangan sampah terbesar di dunia, luasnya mencapai 110 hektar dengan sekitar 39 juta ton sampah.

Pemulung

Sumber gambar, Tom Barnes

Seperti dihantam godam

Di kawasan sekeliling hidup sekitar 100.000 penduduk, dan banyak yang dengan mata pencaharian menjadi pemulung.

Pemulung Bantar Gebang

Sumber gambar, Tom Barnes

Para pemulung dibayar Rp6.000 per kilogram sampah yang mereka setorkan ke pengepul.

Pemulung

Sumber gambar, Tom Barnes

"Ada sedikit yang meminta uang, juga ada yang menolak. Tapi secara umum penerimaan mereka terbuka dan bersahabat."

Pemulung

Sumber gambar, Tom Barnes

"Unsur yang paling mengejutkan buat saya adalah bau di sana. Mencium bau sampah menyengat itu saya merasa seperti dihantam godam".

Pemulung

Sumber gambar, Tom Barnes

"Bau ini berpadu dengan panas tak tertahankan. Bagi yang tak biasa, susah sekali bernapas tanpa merasa pusing. Hal yang mengejutkan lagi adalah luasnya tempat penampungan sampah ini, terutama Bantar Gebang."

Pemulung

Sumber gambar, Tom Barnes

"Saya kehabisan perbandingan untuk menggambarkan luasnya Bantar Gebang. Sejauh mata memandang ke segala arah, hanya sampah yang terlihat," kata Tom.

Pemulung

Sumber gambar, Tom Barnes

Bantar Gebang terletak di Kota Bekasi namun status tanah dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Berdasarkan perjanjian yang ada, Pemprov DKI berkewajiban membayar kompensasi untuk ribuan keluarga yang tinggal di sekitar daerah Bantar Gebang sebagai ganti rugi dari dampak bau sampah.

Kredit foto Tom Barnes