Transgender Kirgistan bahkan harus mencari perlindungan ke Rusia

rusia, kirgistan, lgbt

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Rusia sebenarnya tidak dikenal sebagai tempat yang aman bagi komunitas LGBT.

Rusia yang dikenal sebagai tempat yang sulit didiami kaum gay atau transgender, ternyata justru menjadi tempat perlindungan bagi warga LGBT Kirgistan berlindung.

Mereka mengatakan kehidupan lebih sulit di tempat asal mereka, seperti dilaporkan Katie Arnold dari ibu kota Bishkek, untuk BBC.

Anna, salah seorang pekerja seks komersial transgender, menyadari kalau internet adalah tempat yang berbahaya untuk bertemu dengan klien.

Soalnya kelompok pembenci transgender seringkali memeriksa daftar pekerja seks yang memasang iklan di internet dan mencari korban-korban kekerasan mereka dengan menggunakan nama-nama palsu.

"Saya biasanya pandai membeda-bedakan orang, saya benar-benar tidak menyangka pria tersebut berbahaya," kata Anna dengan tangan yang gelisah menggaruk kulit di sekitar leher, dengan pandangan terfokus menerawang jauh.

Tiga minggu sebelumnya, katanya, dia diculik dua pria yang berpura-pura sebagai pelanggan. Mereka menaruh obat bius di birnya dan membawanya ke perbukitan Tian Shan di atas Bishkek.

Dia terbangun dengan rasa amat sakit karena penyerangnya menendang kepala dan dadanya.

"Kamu terlahir sebagai pria, Kamu seharusnya menjadi pria," itulah teriakan mereka yang diingatnya. Terbius obat dan tidak mampu membela dirinya, Anna memohon agar dirinya dibunuh saja.

"Saya sangat bahagia jika dapat meninggal pada saat itu," kenangnya. Dua pria itu kemudian menggunakan tas plastik untuk menutup sekitar kepalanya yang berdarah, mematikan puntung rokok di tubuhnya yang terluka dan meninggalkannya untuk mati.

Tetapi Anna berhasil mencopot tas plastik dan menemukan rambut palsunya, yang dibuang di jalan perbukitan yang dingin. Dia juga berhasil menemukan jalan pulang ke Bishkek untuk mencari satu-satunya tempat perlindungan kelompok LGBT yang ada di kota itu.

"Saya tidak bisa lagi tinggal di Kirgistan, disini tidak aman," katanya. "Saya justru dapat hidup di Rusia."

Perkosaan 'untuk penyembuhan'

rusia, kirgistan, lgbt

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Unjuk rasa anti LGBT di Bishkek.

Komunitas LGBT Kirgistan hidup dalam kesuraman sejak tahun 2014, ketika pemerintah membuat rancangan undang-undang yang melarang penyebaran hubungan homoseksual dan gaya hidup homoseksual.

RUU yang masih menunggu pembahasan terakhir di parlemen itu telah memicu aksi kekerasan dan intimidasi yang terus berlangsung sampai sekarang.

Survei yang dilakukan organisasi LGBT, Kyrgyz Indigo, tahun 2016 lalu menemukan 84% responden mengalami kekerasan fisik sepanjang hidupnya sementara 35% lainnya adalah korban kekerasan seksual.

"Perkosaan untuk penyembuhan adalah hal yang umum terjadi di kalangan kaum LGBT dan terutama dialami masyarakat transgender," kata Rudolph, pekerja sosial di tempat berlindung LGBT yang dikelola Kyrgyz Indigo.

Seperti kebanyakan orang yang diwawancara, dia lebih suka tidak memberi tahu nama keluarganya karena khawatir akan diserang.

"Semua anggota masyarakat akan menjadi korban pada suatu waktu, saat ini kami sedang menolong seseorang yang baru saja menjadi korban perkosaan massal."

Terbang ke Rusia

Bagi sebagian besar warga yang cisgender -yang yakin dirinya memiliki jenis kelamin sesuai pada saat dilahirkan- tentu tidak sulit untuk mengungkapkan jenis kelaminnya secara terbuka.

Namun menyembunyikan identitas kelamin sulit dilakukan oleh kelompok transgender, yang sebagian besar terjebak dalam industri seks karena diskriminasi yang dialami di tempat kerja.

Kekerasan atas transgender dan tidak banyaknya pilihan selain terperangkap dalam industri seks membuat sebagian kaum transgender secara sukarela pindah ke Rusia, negara yang sebenarnya justru dikenal membenci warga LGBT.

Mereka bergabung dengan ribuan migran Kirgistan yang mengunjungi Rusia setiap tahun untuk mencari kemungkinan bekerja karena umumnya mereka bisa juga berbahasa Rusia.

"Banyak perempuan transgender pindah," kata Roma, seorang pekerja seks dan anggota organisasi hak asasi manusia setempat, Tais Plus.

"Saya telah bertemu 10 orang yang pindah ke Moskow dalam beberapa bulan terakhir. Orang-orang yang berbicara dengan saya sejak mengatakan kehidupan tidak terlalu buruk di sana."

Sebagai seorang pendatang baru di kalangan masyarakat transgender, pembawaan Roma yang muda masih bersemangat karena mungkin dia belum ternoda serangan dengan kekerasan.

Meskipun demikian, sama seperti pekerja seks yang dia temui lewat Tais Plus, Roma juga memutuskan untuk pindah ke Rusia.

kirgistan, rusia, l;gbt

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Roma menuduh polisi Kirgistan memfilmkan pertemuan dengan warga transgender.

"Saya pikir kehidupan akan lebih mudah bagi kami di Rusia karena meskipun terdapat undang-undang yang menentang pekerja seks, polisi tidak akan menjadikan kami sebagai sasaran hanya karena kami transgender."

"Di sini polisi memfilmkan pertemuan dengan kami, mengancam kami dengan menggunakan rekaman itu dan kemudian menaruhnya di internet," tambah Roma.

Walau perdagangan seks merupakan pelanggaran hukum di Rusia, denda maksimum 2.000 rubel atau sekitar Rp400.000 jarang diterapkan. Menurut kelompok pegiat di Inggris, Sex Worker Rights Advocacy Network, terdapat industri seks yang besar dan terbuka di banyak daerah Rusia karena menyebarnya korupsi polisi.

Semenara homoseksual sudah didekriminalisasi di Rusia sejak 1993 lalu walau Tetapi prasangka terhadap warga LGBT tetap banyak ditemui.

Pada tahun 2013, aturan federal Rusia, yang dikenal sebagai RUU Propaganda Gay, mengkriminalisasi "hubungan seksual tidak tradisional" dengan anak-anak.

Sama seperti di Kirgistan, hukum anti gay tersebut juga menunjang peningkatan kekerasan dengan kaum gay seringkali dijebak ke sejumlah pertemuan namun kemudian kemudian dipukuli dan dipermalukan.

"Orang transgender menghadapi berbagai pelanggaran setiap harinya, lebih daripada kaum homoseksual atau biseksual," demikian peringatan Svetlana Zakharova dari Russian LGBT Network.

"Tetapi masalah di sini lebih banyak terletak pada masyarakat secara keseluruhan, bukannya polisi, yang tidak memandang penting apakah seseorang transeksual atau tidak kecuali mereka melanggar norma sosial dengan menyatakannya secara terbuka.

'Apa gunanya memperhatikan?'

Kabar ini dapat menenangkan Anna ketika dia sedang bersiap-siap untuk memulai kehidupan baru di Rusia.

Awal tahun ini, masih di Kirgistan, dia minum-minum dengan beberapa teman transgender di sebuah bar yang sering didatangi pekerja seks namun manajer bar tersinggung karena penampilan mereka dan menyerang secara fisik.

"Kami menghubungi polisi, mengatakan bahwa kami dipukuli dan memerlukan bantuan. Mereka muncul dengan awak TV yang menyiarkan wajah kami ke seluruh negeri."

rusia, kirgistan, lgbt

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Masyarakat LGBT Rusia mengibarkan bendera pelangi saat unjuk rasa hari buruh.

"Kami tidak memiliki hak apapun di sini, tidak ada hak untuk keselamatan, kerahasiaan, seksualitas dan polisi adalah pihak yang mendorong hal ini. Begitulah yang terjadi di Kirgistan," katanya.

Kementerian Dalam Negeri tidak menanggapi tuduhan pelanggaran polisi, yang tidak mengejutkan bagi Anna karena pernah melaporkan para penyerang ke polisi setempat namun akhirnya malah dibentak karena penampilannya.

"Apa gunanya memikirkannya?" katanya terkait dengan polisi yang berdiam diri. "Ini tidak akan mengubah kenyataan bahwa saya dilecehkan atau menghentikan pelecehan terhadap yang lain-lainya. Yang saya ingin adalah meninggalkan negara ini dan hidup di suatu tempat untuk dapat hidup dengan bebas dan mudah."

Pertanyaannya adalah apakah Rusia memang akan memberikan para perempuan transgender Kirgistan perlindungan yang sedang mereka cari.

* Katie Arnold adalah seorang penulis lepas