You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Tren penerbangan 2017: Jet supersonik dan kelas ekonomi premium
Beberapa tahun belakangan ini terasa berat bagi industri penerbangan dan 2016 ternyata tidak berbeda.
Para maskapai pesawat komersial harus berurusan dengan jatuhnya harga minyak dan berbagai tragedi pesawat jatuh, termasuk EgyptAir pada bulan Mei dan kecelakaan yang menewaskan puluhan pemain klub sepak bola Chapecoense di Kolombia, juga ponsel Samsung yang terbakar.
Akan tetapi, patut dicatat bahwa tahun lalu sebenarnya salah satu tahun teraman dalam sejarah penerbangan modern.
Jadi akan ada apa saja di tahun 2017? Berikut ini beberapa tren untuk Anda pantau.
Pesawat penumpang supersonik
Ingat Concorde? Telah lebih dari satu dekade sejak pesawat itu 'pensiun'.
Namun miliuner Inggris Sir Richard Branson berniat untuk membuka era baru penerbangan supersonik; dan kali ini menjadikannya terjangkau oleh masyarakat luas.
Perusahaan Virgin Galactic bekerja sama dengan start-up AS, Boom, dalam mengembangkan XB-1 yang dipasarkan sebagai pesawat penerbangan sipil tercepat di dunia sepanjang sejarah.
Boeing dan Lockheed Martin juga mengembangkan pesawat penumpang berkecepatan supersonik, namun Sir Richard berharap bisa mendahului mereka.
Prototipe yang dijuluki "Baby Boom" akan mulai uji coba terbang akhir tahun ini namun penerbangan komersial pertamanya diperkirakan tidak akan dibuka hingga 2023.
Pesawat tersebut memiliki kecepatan jelajah 10% lebih cepat dari Concorde (yang terbang dengan lebih dari dua kali kecepatan suara) dan hampir tiga kali lipat kecepatan pesawat biasa.
Pesawat Boom dirancang untuk menampung 40 penumpang dan terbang antara London dan New York dalam waktu tiga jam dan 15 menit.
Harga tiketnya? Hanya £2,500 (Rp40,9 juta) sekali jalan.
Tetap menguntungkan
Harga minyak mulai merangkak naik namun maskapai penerbangan dipastikan tetap meraup untung pada 2017.
Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) meramalkan industri penerbangan global akan mendapatkan keuntungan US$29,8 miliar (sekitar Rp397,3 triliun) pada 2017. Tahun lalu sektor tersebut mencatat rekor penghasilan $35,6 miliar (sekitar Rp474,6 triliun).
"Tiga tahun belakangan ini menunjukkan performa terbaik dalam sejarah industri penerbangan, terlepas dari berbagai ketidakpastian yang kami hadapi," kata direktur jenderal IATA Alexandre de Juniac.
"Setelah bertahun-tahun bekerja keras merestrukturisasi dan merekayasa ulang bisnis, industri juga lebih elastis".
Namun keuntungan itu tidak akan terbagi rata; performa terbaik diperkirakan berasal dari Amerika Utara, tempat terjadi penggabungan berbagai maskapai penerbangan dalam beberapa tahun belakangan.
Rute penerbangan ultra-panjang
Lupakan ukuran pesawat, tahun ini akan berfokus pada panjang rute dan maskapai mana yang dapat mengklaim gelar operator penerbangan terlama di dunia.
Emirates saat ini memegang rekor itu dengan perjalanan sejauh 14.200 km antara Dubai dan Auckland. Penerbangan itu memakan waktu 16 jam dan 5 menit ke arah timur dan 17 jam, 25 menit ke arah barat.
Pesaingnya, Qatar Airways, akan melampauinya pada Februari, ketika mereka meluncurkan penerbangan non-stop dari Doha ke kota terbesar di Selandia Baru, menempuh jarak 14.542km, dengan waktu penerbangan antara 17 jam, 30 menit dan 18 jam, 30 menit.
Dalam ukuran kilometer, rute terpanjang ialah penerbangan Air India dari Delhi ke San Francisco (15.300 km) - yang kini terbang melalui Samudera Pasifik, bukan Atlantik - namun karena angin buritan yang menguntungkan, hanya membutuhkan waktu 14 jam, 30 menit.
Bertambahnya penerbangan murah
Air France berencana merilis pesawat penumpang murah baru pada akhir 2017 untuk melayani kota-kota di Asia, dengan penambahan rute ke AS. Grup KLM Air-France telah mengoperasikan merk penerbangan murah Hop dan Transavia di Eropa.
Di dalam Eropa, Ryanair dan Easyjet mendominasi pasar, mendorong banyak perusahaan melirik rute trans-atlantik demi meraup lebih banyak untung.
Wow Air dari Islandia juga akan melebarkan rute penerbangan murahnya ke Amerika Serikat pada Juni 2017. Mereka berencana menambah empat penerbangan mingguan via Reykjavik.
Kelas ekonomi premium
Biasanya terdapat kelas satu, kelas bisnis, dan ekonomi, tapi bagi kita yang bosan dengan kelas ekonomi kini ada pilihan ekstra - ekonomi premium.
Anda tetap duduk di bagian belakang pesawat, tapi Anda mendapatkan ruang tambahan untuk berselonjor, serta pelayanan dan fasilitas ekstra.
Akhir tahun ini, contohnya, pada penerbangan internasional jarak jauh dengan pesawat Airbus A350 barunya, Delta Air Lines memberikan pilihan yang disebut "Delta Premium Select".
Mereka menawarkan ruang yang lebih lega untuk tiduran, selimut dengan bantal, dan perlengkapan lain.
Biayanya? Hampir tiga kali lipat lebih mahal dari kelas ekonomi biasa.
Awak kabin bergaya
Pada masa booming perjalanan udara, lorong di tengah pesawat dipasarkan sebagai panggung bagi para pramugari yang cantik.
Beberapa maskapai kini berusaha mengangkat kembali kesan itu dengan desain seragam baru.
Hawaiian Airlines mengubah seragam pegawainya untuk pertama kali sejak 2008, sementara Delta telah bekerja sama dengan perancang busana New York Zac Posen untuk memperbarui seragamnya.
Delta mengatakan seluruh 60.000 pegawainya kini akan mengenakan campuran warna "kreasi baru" yang disebut "Passport Plum, Cruising Cardinal, dan Groundspeed Graphite".
Kedengarannya lebih glamor dari ungu, merah, atau abu-abu.