BBC Indonesia
Terbaru  17 November 2010 - 03:30 GMT

Berkurban di jaman moderen

Pajangan ternak kurban di pinggiran jalan menjelang Idul Adha mungkin masih kerap terlihat di sekitar Anda.

Juga masih tampak orang yang tawar menawar dengan pedagang sambil melihat langsung lembu, kambing, kerbau, atau domba yang akan dikurbankan.

Tradisi berkurban adalah orang memilih ternak, kemudian menyembelihnya, dan membaginya menjadi potongan-potongan yang dibagikan ke fakir miskin di sekitar tempat tinggalnya.

Namun sekarang sudah ada pilihan yang nemungkinkan orang tidak usah melihat sendiri ternak kurban hidup-hidup dan bisa dikirim ke mana saja, menyeberang lautan sekalipun.

"Di saat tiga empat hari orang pesta sate atau gulai tapi di 300 hari yang lain orang justru kesulitan dalam hak gizi, khususnya protein"

Pamungkas H Kusuma

Di jaman moderen ini, telepon dan transaksi pembayaran digital memang memungkinkan orang untuk berkurban dengan tetap duduk di meja kerjanya, atau sambil bersantai di sofa ruang tamu.

Kurban kaleng

Salah satu layanan adalah kurban dalam bentuk kaleng, sama seperti daging kaleng lainnya yang bisa Anda beli di pusat pertokoan mana saja.

Rumah Zakat merupakan salah satu perusahaan yang membantu untuk menyediakan ternak kurban, memotong, mengalengkannya, dan mendistribusikan untuk warga yang membutuhkan.

"Kita melihat fenomena yang menarik pada saat hari kurban khususnya di Indonesia. Di saat tiga empat hari orang pesta sate atau gulai tapi di 300 hari yang lain orang justru kesulitan dalam hak gizi, khususnya protein," kata Direktur Rumah Zakat, Pamungkas H Kusuma, kepada wartawan BBC Indonesia, Ervan Hardoko.

"Karena itu kita melihat pengalengan, pengkornetan daging kurban menjadi salah satu solusi," tambahnya.

Dengan dikalengkan, lanjut Pamungkas, maka daging kurban bertahan lebih lama sehingga bisa disalurkan kapan saja saat dibutuhkan.

Dan dengan kemasan kaleng pula, maka daging kurban juga siap dikirim ke manapun dengan menggunakan layanan paket pos.

Pro dan kontra

Saat ini Rumah Zakat mengaku sudah cukup repot melayani para peminat kurban kaleng, jauh berbeda ketika dimulai sekitar sembilan tahun lalu.

"Ada juga kendalanya dari para tokoh yang kurang paham karena disangka beli kornet. Di sebuah kota itu ada fatwa dari ulamanya: nggak boleh tuh kurban kornet," kenang Pamungkas H Kusuma.

Berdasarkan sistem Rumah Zakat maka satu ekor kambing setara dengan 22 kaleng dan seekor sapi bisa menjadi sekitar 350 kaleng kurban.

KORBAN KALENG

  • Lembu Rp 10 juta
  • Kambing Rp 1.100.000
  • Kambing
  • Seekor Lembu = 350 kaleng
  • Seekor Kambing = 22 kaleng

Rumah Zakat

Walau praktis dan sudah semakin banyak peminatnya, sejumlah orang masih merasa belun cocok dengan sistem kurban kalengan, seperti Rama yang tinggal di Jakarta.

"Aturan mainnya nggak bagus karena langsung jadi kornet, karena sudah digariskan dari sunnah harus kambing yang sehat yang layak potong. Itu mungkin aturan baru yang dibuat-buat untuk menggampangkan masalah."

Namun Rudi dari Sukabumi, Jawa Barat, memiliki pendapat berbeda soal sistem berkurban praktis ini.

"Saya pikir ok-ok saja, yang penting tepat sasaran karena mengenai kurban ini kan hubungannya dengan Tuhan, dengan sang pencipta."

"Apalagi alasannya dalam kaleng itu akan lebih awet, akan lebih bermanfaat ketimbang kambingnya yang dikirim ke daerah-daerah yang tentu saja memerlukan waktu pengirimannya. Kesimpulannya, saya pikir tidak ada masalah."

Permintaan meningkat

"Aturan mainnya sih nggak bagus karena langsung jadi kornet, karena sudah digariskan dari sunnah harus kambing yang sehat yang layak potong"

Rama

Ada pendapat berbeda di kalangan masyarakat, tapi bagaimana pandangan Majelis Ulama Indonesia?

"Ya boleh, tapi sudah terpenuhi belum. Yang harus diutamakan itu masyarakat di sekitar yang membutuhkan. Di daerah tempat dia berkurban," tutur Ketua MUI, Ma'ruf Amin.

"Tapi kalau di sekitar tidak ada lagi yang membutuhkan, lebih baik dikalengkan dan dikirimkan."

Meski model kurban seperti ini belum terlalu lazim bagi warga Indonesia, Rumah Zakat mengklaim jumlah hewan kurban yang mereka potong setiap tahun terus naik.

Tahun lalu, lembaga ini memotong sekitar 9.000 kambing dan sapi dan untuk Idul Adha 2010 Rumah Zakat memperkirakan kenaikan menjadi 12.000 kambing dan 700 sapi.

Kalau Anda tertarik untuk ikut kurban kaleng tahun depan, maka seekor kambing harganya Rp1.100.000 sedang sapi hampir Rp10 juta.

Mencapai kaum miskin

Selain layanan kurban untuk mencapai daerah yang jauh dalam jangka waktu, juga ada layanan khusus untuk membagikan kurban ke kaum miskin di pemukiman kumuh maupun ke lokasi bencana.

Lembaga Zakat Nasional Lazis Muhammadiyah, misalnya, menyediakan jasa layanan hewan kurban sekaligus mendistribusikannya ke kawasan padat penduduk maupun pemukiman kumuh.

Gagasan dasarnya sama dengan kurban kaleng, bahwa pembagian kurban dianggap belum merata sementara banyak pemberi hewan kurban tidak lagi tinggal di kawasan yang dekat dengan orang yang membutuhkan.

"Tingginya angka kurban umat Islam memang belum sebanding dengan penduduk di Indonesia. Jadi masih jauh. Dengan tidak sebandingnya itu, maka kurban di Indonesia masih dihadapkan pada problem distribusi yang tidak merata," jelas Nanang El-Ghazal dari Lazis Muhammadiyah kepada wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari.

"Orang sudah banyak berkurban tapi karena problem distribusi, kadang-kadang pokoknya dipotong, tapi distribusinya entah kemana."

Untuk Idul Adha 2010, Nanang memperkirakan distribusi sekitar 50.000 hewan kurban untuk masyarakat miskin perkotaan di seluruh Indonesia dan pengungsi kurban bencana letusan Gunung Merapi di DIY dan Jawa Tengah, maupun kurban tsunami di Mentawai.

Selain Lazis, lembaga lain yang menyediakan layanan distribusi hewan kurban untuk para pengungsi bencana dan masyarakat di pedalaman adalah Baitul Maal Hidayatullah, BMH.

Dan untuk pengadaan hewan, BMH bekerja sama dengan para peternak lokal.

"Rata-rata semua hewan yang kita beli berasal dari peternak lokal. Kita sudah bermitra dengan mereka setiap tahunnya," kata Kepala Departemen Program dan Pendayagunaan BMH, Ade Syaifull Alam.

Syarif mengatakan permintaan dari masyarakat untuk menyembelih hewan kurban di lokasi bencana maupun pedalaman cukup tinggi, dan meningkat dari tahun ke tahun.

Minat terbatas

Menurut pengamat masalah kemiskinan dari LP3ES, Ersan Maryono, belakangan terlihat kemajuan dari lembaga-lembaga Islam yang mendistribusikan daging kurban untuk kurban bencana dan masyarakat miskin.

"Itu saya kira satu kemajuan besar karena biasanya lembaga-lembaga seperti itu perspektif teologisnya kuat."

"Tapi sepertinya minat dari masyarakat belum begitu besar dibanding dengan berkurban sendiri."

Ersan menambahkan bahwa pendekatan baru yang dibantu oleh sejumlah lembaga berhasil mendistribusikan kurban secara tepat.

Namun tak berarti bahwa pendekatan kurban kaleng atau penyaluran ke wialyah yang jauh dari tempat orang memberi kurban akan menjadi kecenderungan di masa depan.

Jelas tak sedikit yang masih yakin bahwa berkurban juga berarti memilih sendiri hewan yang sehat dan menyembelih sendiri serta membagikannya langsung kepada kaum yang membutuhkannya.

Buktinya di dekade pertama abad 21 ini, masih saja ada pedagang ternak yang memajang hewan ternaknya di kota-kota besar sekalipun.