Dilema Cina bagi Amerika Serikat

Terbaru  5 November 2012 - 12:20 WIB
hilary clinton xi jin ping

Menlu AS Hilary Clinton dan Wapres Cina Xi Jin Ping

Bagi publik Amerika Serikat, kebijakan luar negeri mungkin menempati posisi bawah dalam daftar pertimbangan untuk memilih presiden.

Namun ada satu negara yang hampir selalu disebut ketika membahas ekonomi dan politik luar negeri, di luar persoalan tewasnya duta besar AS di Benghazi, Irak, Afghanistan, dan Iran.

''Pinjaman dari Cina harus segera diakhiri. Negara tersebut tidak bisa lagi dipakai sebagai sumber dana pemerintah Obama,'' kata Claudia Williams, warga yang tinggal di Lake Forest, Chicago.

Data yang dikeluarkan Mei lalu menunjukkan Cina adalah kreditor asing terbesar AS dengan surat utang yang dibeli Beijing mencapai US$1,2 triliun.

Posisi ini membuat pemerintah di Washington menghadapi dilema.

Di dalam negeri, banyak pengusaha yang mengeluhkan Cina, yang dianggap bisa menjual produk ke pasar dalam negeri AS dengan harga emas melalui manipulasi mata uang yuan.

Dimanfaatkan Romney

china us

Cina adalah salah satu sumber dana utama AS

''Mitt Romney, calon presiden Republik, sering menyinggung persoalan ini. Ini dijadikan isu besar oleh Romney dan Republik,'' kata Jeffrey Winters, pengamat ekonomi politik dari Northwestern University, Chicago.

Di sisi lain, kata Winters, semua orang paham bahwa Cina makin lama makin besar, baik dari aspek ekonomi, politik, dan pengaruh di kawasan.

Itu berarti Washington harus mengikuti gerak-gerik Cina dengan seksama.

''Dalam situasi seperti ini, AS harus berhati-hati, jangan sampai terlibat konflik dengan pemerintah di Beijing,'' kata Winters.

AS juga berkepentingan untuk melihat kawasan Asia Pasifik yang stabil, kata Djayadi Hanan, pengamat politik dari Ohio State University.

''Namun pada saat yang sama AS tidak bisa membiarkan Cina terus memperbesar pengaruh di kawasan ini. Dominasi Cina harus diimbangi. Persoalannya adalah Washington juga harus menghitung agar tak didikte oleh Beijing,'' kata Hanan.

Masih sulit diprediksi

Baik Winters maupun Hanan sulit memprediksi perubahan signifikan arah kebijakan AS di Asia Pasifik seadainya Romney menang di pemilihan presiden.

"Bila Romney menang, ia harus menghadapi Cina bukan dengan pendekatan yang kaku dan keras"

Djayadi Hanan

Keduanya sepakat dalam debat capres, Romney lebih banyak mengiyakan pernyataan Barack Obama.

Yang mungkin akan terjadi adalah, kata Hanan, para arsitek kebijakan luar negeri di era George W Bush akan banyak berperan mengarahkan kebijakan-kebijakan Romney.

''Bila demikian halnya, mungkin kita akan melihat pendekatan yang lebih keras dari AS ketika berhubungan dengan Cina, Burma, atau Pakistan,'' kata Hanan.

Perang melawan terorisme mungkin juga akan makin gencar seandainya Romney berkuasa.

Namun Winters menggarisbawahi bahwa kerasnya sikap Romney terhadap Cina, mungkin juga terkait dengan strategi meraih suara di pemilihan presiden.

''Itu mungkin hanya gertakan saja. Kita harus ingat bahwa posisi terbaik AS saat ini adalah tidak terlibat konflik dengan Cina,'' kata Winters.

''Bila Romney menang, ia harus menghadapi Cina bukan dengan pendekatan yang kaku dan keras,'' tandasnya.

Link terkait

BBC © 2014BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.

]]>