
Masjid Demak berkali-kali direnovasi sesuai selera penguasa
Masjid Agung Demak, yang disebut sebagai salah-satu mesjid tertua di Indonesia, memiliki arsitektur yang mirip bangunan peninggalan Hindu.
Corak bangunan seperti ini diyakini sebagai bukti bahwa Islam masuk ke tanah Jawa melalui proses damai dan menghargai kebudayaan Hindu yang lebih dulu ada.
Seperti dilaporkan oleh Edhie Prayitno untuk BBC Indonesia, di dalam masjid dihiasi berbagai ornamen peninggalan Hindu.
Berbeda dengan masjid di tempat lain yang kental pengaruh budaya Timur Tengah, Masjid Demak lebih mirip bangunan rumah joglo di pedalaman Jawa.
"Ini terlihat dari atap masjid yang berupa limas bersusun tiga. Kubah bulat yang sering terlihat di masjid-masjid lain, tak terlihat di sana," lapor Edhie.
Pemakaman
Samsul Huda dari Demak Heritage Society menjelaskan kenapa bangunan masjid ini kental pengaruh peradaban Hindu.
"Itu merupakan sebuah simbol pribumisasi Islam di Indonesia agar memiliki daya tarik dan tidak terjadi benturan dengan potensi lokal, masyarakat lokal atau orang di daerah itu yang dulu sudah ada agama sehingga dibuatlah masjid yang arsiteknya sangat bersahabat dengan lingkungan," kata Samsul Huda.
Tempat ibadah ini kemungkinan dibangun sekitar tahun 1466 pada jaman Kesultanan Demak Bintoro.
Masjid ini juga dianggap sebagai monumen hidup penyebaran Islam di Indonesia. Meskipun demikian, nilai-nilai Islam juga terlihat di dalam lanskap masjid bercorak Hindu itu.
Itu merupakan sebuah simbol pribumisasi Islam di Indonesia agar memiliki daya tarik dan tidak terjadi benturan dengan potensi lokal
Samsul Huda
Pada bagian belakang kompleks masjid itu, kata Edhie Prayitno, tampak pemakaman kuno, tempat pendiri Kerajaan Demak Raden Patah dan keturunannya dikuburkan.
Wakil Ketua Takmir Masjid Agung Demak, Arif, mengatakan keberadaan makam ini tidak terlepas dari tradisi Islam.
"Ya Nabi, Rasulullah Muhammad, sendiri kan makamnya bersebelahan dengan imam masjid jadi mungkin Islam punya tradisi itu," tuturnya.
Dalam perjalanannya, masjid bersejarah ini berkali-kali direnovasi sesuai selera penguasa kesultanaan saat itu. Tetapi perubahan di masa lalu yang terlihat mencolok adalah penambahan pada atapnya.
Di masa moderen, perubahan itu terlihat dari pendirian menara tempat adzan yang terbuat dari konstruksi baja. Namun menurut Arif, bangunan asli masjid tetap dipertahankan.
Sejumlah catatan menunjukkan, selain keunikan bangunan masjid yang dianggap perpaduan antara Islam dan Hindu, banyak peninggalan bersejarah lainnya yang bertebaran di dalam masjid Demak.
Para sejarawan menganggap benda-benda itu sangat penting sebagai bukti sejarah masuknya Islam ke pulau Jawa secara damai.


