Kontes Miss Universe: Debat tak berkesudahan merayakan atau mengobjektifikasi perempuan

Catrional Gray, wakil Filipina, memenangkan gelar Miss Universe 2018

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Catrional Gray, dari Filipina, dinobatkan sebagai Miss Universe 2018 dalam kontes yang digelar di Bangkok.

Kemenangan Filipina di ajang Miss Universe 2018 adalah untuk yang keempat kalinya bagi negara 'penggila' kontes kecantikan itu.

Tapi yang perlu diketahui, asa yang sama -menjadi Miss Universe- juga dimiliki Indonesia, bukan hanya oleh kontestannya, tetapi juga para penggemar kontes kecantikan.

Indonesia, yang diwakili Sonia Fergina Citra, hanya mampu menembus babak 20 besar dalam ajang Miss Universe 2018. Hal ini tidak lebih baik dari perwakilan-perwakilan Indonesia sebelumnya di kontes ratu sejagat itu.

Pada tahun 2005, Artika Sari Devi berhasil menembus babak Top 15.

Prestasi itu ditularkan ke beberapa yuniornya yang juga lolos ke babak serupa, seperti Whulandary Herman di tahun 2013, Elvira Devinamira pada 2014, dan Kezia Warouw dalam gelaran tahun 2016.

Namun, di mata sebagian penggemar kontes kecantikan di Indonesia, yang dilakukan Sonia sudah cukup membanggakan.

"Sebenarnya sedih, tapi kami enggak kecewa, karena selama karantina kami tahu all out-nya Sonia dalam menjalani karantina, kami tahu bagaimana perjuangan Sonia, kami tahu bagaimana lelahnya dia tapi berusaha menutupinya. Jadi semuanya terbayar lunas," ujar Hendry Andreas, salah satu penggemar yang menyebut diri mereka pageant lover Indonesia, kepada BBC News Indonesia melalui sambungan telepon, Senin (17/12).

Sonia Fergina Citra, wakil Indonesia, saat berpidato singkat di babak 20 besar Miss Universe 2018

Sumber gambar, FOX via Getty Images

Keterangan gambar, Sonia Fergina Citra, wakil Indonesia, saat berpidato singkat di babak 20 besar Miss Universe 2018 di Bangkok, Thailand (17/12)

Hendry menyaksikan langsung pemahkotaan Miss Universe 2018 yang digelar di Impact Arena, Bangkok, Thailand, Senin pagi.

Ia bersama 69 pageant lover lainnya terbang ke Thailand khusus untuk mendukung Sonia, sosok queen yang sesungguhnya tidak mereka kenal secara personal.

"Kalau aku total-total habis sekitar 15 (juta rupiah)," ungkapnya dengan nada santai. "Enggak menyesal. Jadi, aku pikir, di samping ini hobiku untuk pageant, dedikasiku untuk pageant, aku pikir aku sudah ada kontribusi yang nyata buat para pelaku pageant di Indonesia."

Menurut Hendry, datang langsung memberi dukungan bagi representasi negeri bisa membuat nama Indonesia diperhitungkan di negara lain. Hal ini juga yang melatarbelakangi Danjaychris -yang tidak bersedia mengungkap nama sebenarnya- menjadi seorang pageant lover.

"Saya selalu ingin melihat Indonesia bisa di-notice (diperhatikan) dan diperkenalkan di tingkat internasional," ujar Danjaychris kepada BBC News Indonesia melalui pesan singkat, Senin (17/12).

"Jadi saya merasa bahwa pageant (kontes kecantikan)bisa menjadi salah satu wadah untuk membawa nama baik Indonesia selain ajang olahraga atau Olimpiade."

Sonia Fergina Citra, Puteri Indonesia 2018

Sumber gambar, Instagram @officialputeriindonesia

Keterangan gambar, Sonia Fergina Citra, Puteri Indonesia 2018

Menurut Chris, proses transformasi dari momen ketika seseorang terpilih menjadi perwakilan Indonesia hingga akhirnya berlaga di atas panggung dunia, menjadi sesuatu yang membuatnya tertarik dengan dunia kontes kecantikan.

"Mulai dari public speaking, body, photoshoot, dan hairdo skill, dan masih banyak lagi. Begitu pula dengan karantinanya, saya selalu follow up dengan setiap kegiatan, tidak hanya malam finalnya saja," ungkapnya.

"Kalau (kompetisi) olahraga kan kita enggak tahu setiap latihan mereka bagaimana, yang kita lihat ya waktu pertandingan berlangsung sama result-nya."

Chris sendiri mulai tertarik dengan dunia kontes kecantikan pada tahun 2013. Ia aktif mengunggah berbagai hal berbau kontes kecantikan di akun instagramnya yang kini memiliki pengikut hampir 27 ribu akun.

Lain Chris, lain Hendry. Hendry memilih untuk menjadi salah satu pengelola akun sumber berita pageant di media sosial, selain bekerja sehari-hari sebagai karyawan salah satu BUMN.

Menurutnya, penggemar kontes kecantikan Indonesia mulai membludak setelah hadir media sosial. Kini, Hendry menilai, 'kekuatan' pageant lover bahkan sudah terbukti ampuh membantu sejumlah perwakilan Indonesia tampil memukau di ajang masing-masing.

"Dahulu belum banyak informasi yang kita dapatkan melalui dunia digital, tapi mulai dari adanya Facebook, tahun 2012, itu peran pageant lover Indonesia sudah sangat banyak," unkap Hendry.

"Memberikan masukan, memberikan komentar, mungkin dulu belum sebanyak sekarang."

Tim Yayasan Puteri Indonesia bersama penggemar kontes kecantikan asal Indonesia

Sumber gambar, Instagram @officialputeriindonesia

Keterangan gambar, Tim Yayasan Puteri Indonesia bersama penggemar kontes kecantikan asal Indonesia datang langsung ke IMPACT Arena, Bangkok, Thailand, untuk menonton langsung gelaran Miss Universe 2018 (17/12)

Hendry bahkan berani menyatakan bahwa penggemar kontes kecantikan di Indonesia tak kalah dibanding Filipina, salah satu negeri adidaya kontes kecantikan. Meski demikian, ia mengakui bahwa industri pageant Filipina lebih maju ketimbang Indonesia.

"Mereka sudah lebih dulu, lebih tua, lebih senior dibanding kita. Sedangkan kita pemain baru," pungkasnya.

Perlu diketahui, kontes kecantikan dianggap sangat serius di Filipina. Berbagai lapisan masyarakat biasanya berkumpul di depan televisi untuk menyaksikan perhelatan ajang kontes kecantikan.

Ketika wakil mereka -Pia Wurtzbach- memenangkan Miss Universe tahun 2015 lalu, ia disambut bak pahlawan hingga dilakukan penutupan jalan di pusat kota Manila.

Kekuatan penggemar kontes kecantikan

Kontes kecantikan di tingkat dunia nyatanya sangatlah banyak. Selain Miss Universe, ada juga Miss World (kontes kecantikan tertua di dunia), Miss International, Miss Supranational, dan lain sebagainya.

Indonesia sendiri sejauh ini telah memenangi dua kontes kecantikan internasional besar, yaitu Ariska Putri Pertiwi dalam Miss Grand International 2016 dan Kevin Liliana sebagai Miss International 2017. Kedua gelar disabet oleh para puteri di bawah naungan Yayasan Puteri Indonesia (YPI).

Kevin Liliana, Miss International 2017 asal Indonesia, memahkotai penerusnya, Mariem Vlazco Garcia sebagai Miss International yang baru di Tokyo, Jepang (9/11)

Sumber gambar, BEHROUZ MEHRI/AFP/Getty Images

Keterangan gambar, Kevin Liliana, Miss International 2017 asal Indonesia, memahkotai penerusnya, Mariem Vlazco Garcia sebagai Miss International yang baru di Tokyo, Jepang (09/11)

Puteri Indonesia, yang merupakan kontes kecantikan tertua di Indonesia, pertama kali digelar YPI tahun 1992. Ajang besutan Mooryati Sudibyo itu awalnya diselenggarakan untuk mencari remaja putri yang bisa membantu Mooryati menjual produk-produk bisnisnya di pasar internasional.

"Untuk misi perdagangan, di mana dulu Bu Mooryati dan pendirinya membawa - suka melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri," ujar Mega Angkasa, kepala departemen komunikasi YPI, kepada BBC, Senin (17/12).

Menurutnya, kesuksesan tersebut membuat YPI memutuskan untuk menggelar ajang kontes kecantikan tahunan, dengan visi yang lebih luas.

"Menjadi wadah bagi remaja putri berprestasi (untuk) ke dunia internasional, bukan cuma (soal) kecantikan," imbuhnya. "Selain melakukan misi dagang, juga mempromosikan tempat-tempat wisata."

Memasuki milenium baru, sejumlah kontes kecantikan lain bermunculan, seperti Miss Indonesia sejak tahun 2005, Miss Earth Indonesia tahun 2013, dan Miss Grand Indonesia yang baru mulai diselenggarakan tahun ini. Para pemenang ajang-ajang tersebut lantas akan 'dikirim' ke ajang internasional masing-masing.

Ressa asal Jakarta, salah satu penggemar kontes kecantikan yang sengaja datang ke Thailand untuk menyaksikan perhelatan Miss Universe

Sumber gambar, Frieda Isyana Putri/Detikcom

Keterangan gambar, Ressa asal Jakarta, salah satu penggemar kontes kecantikan yang sengaja datang ke Thailand untuk menyaksikan perhelatan Miss Universe

Keriuhan euforia para wakil Indonesia saat dikirim ke ajang-ajang tersebut, diakui Mega, tak lepas dari peran penggemar kontes kecantikan. Menurutnya, di era media sosial seperti sekarang, keberadaan pageant lover bisa membantu yayasannya 'membentuk' puteri-puteri terbaik.

"Karena pageant lover ini jadi mata kita di ujung, dan mereka dengan setia mengoreksi kita," ungkap Mega. "Kita dapat masukan. Mereka bisa DM (direct message), kita inventarisir, kita ambil, kita serap, kita kalkulasi, kita improve."

Masukan yang dimaksud beragam, mulai dari soal penampilan, kemampuan berbicara di depan umum, advokasi yang diusung, hingga kemahiran berlenggak-lenggok.

Hal ini diamini Chris. Bahkan, menurutnya, peran pageant lover lebih dari itu.

"Pageant juga sebuah bisnis seperti halnya industri yang lain. Semakin banyak fans dan hypenya, maka akan lebih mudah Puteri kita untuk dinotice sama juri," katanya. "Tugas kita sebagai pageant lover adalah membantu mempromosikan Puteri kita agar juri pun tertarik dengan Puteri kita."

'Objektifikasi perempuan'

Terlepas dari berbagai prestasi yang ditorehkan wakil-wakil Indonesia di ajang kecantikan internasional, sejumlah pihak tetap memandang miring dunia pageant.

Salah satunya, aktivis perempuan LBH Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK), Siti Aminah, yang menganggap kontes kecantikan sebagai bentuk objektifikasi terhadap perempuan.

"Walaupun misalnya para peserta beauty contest mengatakan 'ayo, (rangkul) perbedaan kecantikan', itu tetap, cantiknya tetap cantik yang dikonstruksi oleh pasar. Sekarang kayak gini, apa bisa lolos perempuan yang tingginya 155 (sentimeter)? Ya enggak lah, karena cantik itu dikonstruksi, bukan penerimaan perempuan atas tubuhnya," beber Siti kepada BBC News Indonesia, Senin (17/12).

Miss Mexico Vanessa Ponce de Leon menduduki singgasana Miss World setelah berhasil merengkuh titel tersebut dalam gelaran Miss World yang ke-68 di Sanya, Cina (8/12)

Sumber gambar, VCG via Getty Images

Keterangan gambar, Miss Mexico Vanessa Ponce de Leon menduduki singgasana Miss World setelah berhasil merengkuh titel tersebut dalam gelaran Miss World yang ke-68 di Sanya, Cina (8/12)

Menurut Siti, kepentingan pemodal berperan besar dalam ajang kecantikan. Mereka dianggapnya mendikte standar-standar kecantikan yang patut dimiliki seorang perempuan, sehingga menciptakan kegelisahan dan krisis percaya diri dalam diri perempuan, yang lantas dimanfaatkan untuk kepentingan komersial.

Ada cara-cara lain yang dianggap Siti bisa dilakukan perempuan, jika alasannya mengikuti beauty pageant, untuk mengharumkan nama negeri.

"Apakah penghargaan masyarakat terhadap perempuan karena dia cantik? Karena ikut beauty contest? Kan juga enggak. Mau dia menang Miss Universe juga, kan paling sesaat," pungkasnya.