Gempa Lombok: Jumlah pendaki terjebak di Rinjani simpang siur, pencatatan 'longgar'

    • Penulis, Abraham Utama
    • Peranan, BBC News Indonesia

Jumlah pendaki yang berada di Gunung Rinjani usai gempa bumi mengguncang Lombok dan Bali simpang siur.

Tim evakuasi menilai pencatatan pendaki yang longgar menyulitkan operasi penyelamatan.

Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, menyebut ketidakpastian jumlah pendaki itu muncul saat rapat koordinasi evakuasi lintas instansi di Sembalun, beberapa jam pasca gempa.

Sutopo berkata, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat terdapat 829 pendaki selama 27 dan 28 Juli. Pascagempa 29 Juli, sebanyak 680 pendaki dilaporkan berhasil turun gunung.

Namun menurut Sutopo, hitungan menjadi rumit karena tak ada kepastian soal angka rombongan pendaki tanggal 25 dan 26 Juli yang telah turun.

"Berapa sisanya, kami tidak tahu," kata Sutopo di Jakarta, Senin (30/07).

BNPB pun membuat perkiraan jumlah pendaki yang harus dievakuasi dari Rinjani, sebanyak 689 orang. Angka itu tidak termasuk tukang panggul tas dan pemandu pendakian.

Bagaimanapun, kata Kepala TNGR, Sudiyono, para pendaki terjebak karena jalur turun gunung terhalang material longsor. Sebagian besar dari mereka berada di Danau Segara Anak, sementara sisanya di sekitar Batu Ceper.

Tim evakuasi gabungan mengevakuasi pendaki ke arah Bawaknao. Hingga Senin petang kemarin, satu per satu pendaki berhasil turun, meski sebagian masih menunggu evakuasi.

Di posko evakuasi, petugas memeriksa kesehatan serta mencocokan identitas pendaki.

Prosedur tetap

Mantan Kepala Taman Nasional Gunung Ciremai, Padmo Wiyoso, menyebut setiap pengelola gunung di Indonesia memiliki prosedur administrasi yang sama soal pencatatan pendaki.

Pencatatan identitas, kata Padmo, dilakukan di setiap loket registrasi sebelum jalur pendakian.

"Di Ciremai misalnya, ada tiga pintu masuk. Masing-masing petugas memasukkan orang dan harus mengeluarkan orang. Masuk berapa, keluar berapa," tuturnya melalui sambungan telepon.

Tak hanya itu, Padmo berkata, setiap otoritas taman nasional juga wajib mensosialisasikan potensi bahaya dan prosedur keselamatan untuk para pendaki.

Meski begitu pendaki profesional, Rudy Nurcahyo, menilai sistem pencatatan pendaki tak selalu diterapkan secara ketat. Ia mengibaratkan pencatatan itu seperti manifes penumpang kapal yang kerap diabaikan.

"Praktik di lapangan sama seperti tata cara naik kapal laut, tidak semua penumpang ada di manifes, padahal kita harus sudah lebih dewasa dalam bertindak, tapi tetap tidak terlaksana," kata Rudy.

Rudy yang telah mendaki puluhan gunung di dalam dan luar negeri sejak tahun 1980-an itu berkata, sebagian taman nasional sebenarnya mengembangkan sistem pencatatan yang lebih efektif.

Di Gunung Gede Pangrango misalnya, pendaftaran pendaki dapat dilakukan melalui sistem daring.

Sementara itu, di Rinjani, pendaftaran dilakukan di loket. Pendaki harus mengisi buku menggunakan pena, bukan ke dalam sistem komputer.

Dampak pencatatan pendaki gunung, menurut Sutopo, bukan baru kali ini saja mempersulit evakuasi korban bencana. Ia berkata, hal yang sama juga terjadi saat sejumlah gunung api meletus dalam beberapa tahun terakhir.

"Ketika Merapi, Agung, Rinjani meletus, kami tidak tahu pasti berapa jumlah pendaki."

"Saat Barujari meletus dua tahun lalu, kami bingung ternyata banyak wisatawan di atas. Sehingga saat proses evakuasi kami tidak tahu jumlah pendaki," ujar Sutopo.

BNPB menuding situasi ini terjadi bukan hanya karena kelalaian petugas taman nasional, tapi juga akibat sejumlah pendaki nakal.

Sutopo berkata, tak sedikit pendaki yang naik gunung melalui jalur tidak resmi sehingga tak tercatat dalam daftar otoritas setempat.

Seorang pemandu pendakian di Rinjani, Rehil, mengaku kini lebih memilih menaati prosedur taman nasional. Ia membayar asuransi dan surat izin masuk kawasan konservasi (simaksi).

"Kami selalu tercatat, jaga-jaga keselamatan, pakai Simaksi, supaya kalau ada apa-apa pemerintah juga merespons dan bertanggung jawab atas keadaan atau kecelakaan tidak terduga," kata Rehil.

Dalam catatan BNPB hingga 30 Juli, gempa bumi di Lombok menyebabkan satu pendaki meninggal dunia, yaitu Muhammad Ainul Takzim asal Sulawesi Selatan.

Adapun, satu warga Malaysia bernama Siti Nur Iesmawida Ismail meninggal bukan di jalur pendakian, melainkan di penginapan. Ia dilaporkan meninggal karena tertimpa bangunan penginapan yang roboh.

Gempa 6,4 skala Richter yang melanda Lombok tercatat menewaskan setidaknya 16 orang, 355 orang mengalami luka akibat gempa, sementara 5.141 orang kini berada di pengungsian.