Tekanan atas pemimpin Eropa terkait pengungsi perahu

Sumber gambar, Reuters
Para pemimpin Eropa mendapat tekanan untuk mengubah cara patroli di kawasan Laut Mediterania setelah tragedi terbaru yang menimpa para pengungsi dari Afrika.
<link type="page"><caption> Ratusan pengungsi dikhawatirkan mati tenggelam</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/04/150419_kapal_pengungsi_karam" platform="highweb"/></link> setelah kapal yang membawa mereka terbalik di lepas pantai Libia tak jauh dari Pulau Lampedusa, Italia, yang sering dijadikan tujuan awal bagi para pengungsi asal Afrika dan Timur Tengah.
Perahu yang panjangnya hanya sekitar 20 meter itu membawa sekitar 500 hingga 700 penumpang.
Hingga Minggu (19/04) sore waktu Eropa, baru 28 orang yang bisa diselamatkan sementara 24 jenazah ditemukan.
Menanggapi insiden terbaru ini, Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, mengatakan situasinya tidak bisa diterima lagi.
"Kita sudah mengatakan terlalu banyak 'jangan terjadi lagi'. Kini saatnya Uni Eropa untuk mengatasi tragedi-tragedi ini tanpa menundanya."

Sumber gambar, AP
Mogherini juga akan meminta agar diambil tindakan mendesak dalam pertemuan Uni Eropa di Brussel, Senin 20 April.
Tahun lalu upaya pencarian dan penyelamatan pengungsi dikurangi sebagai bagian dari upaya untuk membuat para pengungsi tidak berupaya mencapai daratan Eropa dengan melewati perjalanan laut yang berbahaya.
Badan pengungsi PBB, UNHCR, mengatakan insiden terbaru ini merupakan yang terburuk jika dilihat dari korban jiwa yang jatuh.
Sepanjang tahun 2015 yang belum berjalan sampai empat bulan ini saja, diperkirakan 900 pengungsi tewas saat berupaya menyeberangi Laut Mediterania.













