Penembakan di parlemen Kanada

Seorang bersenjata menembak, lalu lari ke gedung-gedung sambil terus menembak

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Seorang bersenjata menembak, lalu lari ke gedung-gedung sambil terus menembak

Sejumlah tembakan dilepaskan di Tugu Memorial Perang Nasional dan di dalam parlemen Kanada di Ottawa, menyebabkan seorang tentara luka.

Saksi mata melaporkan melihat seseorang bersenjata menembaki Tugu Memorial Perang Ottawa dan kemudian lari ke arah gedung-gedung pemerintah, lalu melepaskan sejumlah tembakan lagi.

Seseorang tentara terluka dalam serangan ini, menurut laporan media Kanada.

Insiden ini terjadi beberapa jam setelah negara itu menaikkan status kewaspadaan terorismenya dari rendah ke menengah, setelah seseorang yang pindah ke agama Islam dibunuh oleh polisi di Quebec karena menabrak dua tentara dengan mobilnya.

"Tembakan dilepaskan pukul 9.52 hari ini di Tugu Memorial Perang, satu orang terluka," kata Polisi Ottawa melalui Twitter hari Rabu (22/10).

Tentara yang terluka kena tembakan, mendapat bantuan medis.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Tentara yang terluka kena tembakan, mendapat bantuan medis.
Kanada meningkatkan kesiagaan, setelah seorang mualaf menabrak mati dua tentara.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Kanada meningkatkan kesiagaan, setelah seorang mualaf menabrak mati dua tentara.

Dua anggota parlemen Kanada mengatakan kemudian bahwa orang bersenjata itu sudah dibunuh, tetapi hal ini masih belum dikonfirmasi.

Pejabat pemerintah sebelumnya mengatakan bahwa tingkat ancaman dinaikkan sebagai tanggapan atas meningkatnya "percakapan umum" online dari kelompok-kelompok radikal termasuk kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS dan al-Qaida.

Juru bicara kementerian Jean-Christophe de Le Rue mengatakan pada hari Selasa (21/10) bahwa meningkatnya tingkat ancaman ini berarti "badan intelijen telah mengindikasikan bahwa seorang individu atau kelompok di dalam Kanada atau luar negeri memiliki maksud dan kemampuan untuk melakukan tindakan terorisme".