Hukuman mati untuk terdakwa Kunming

Pengadilan di Kunming

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Hanya seorang perempuan yang didakwa ikut dalam serangan sedang tiga lainnya terlibat.

Pengadilan di Cina menjatuhkan hukuman mati kepada tiga orang karena keterlibatan mereka dalam serangan yang menggunakan pisau yang mengakibatkan 31 orang tewas dan melukai 141 lainnya.

Terdakwa keempat dalam pengadilan itu dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Pemerintah Cina menuduh kelompok ekstremis Islam dari wilayah Xinjiang di sebelah barat <link type="page"><caption> Cina</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/topik/cina/" platform="highweb"/></link> melakukan serangan tersebut.

Delapan orang diyakini terlibat dalam perencanaan dan penyerangan di Kunming, dengan empat orang telah ditembak mati di tempat.

Hanya satu dari terdakwa di pengadilan yang dituduh ikut ambil bagian dalam pembunuhan itu sedang tiga lainnya disebut membantu <link type="page"><caption> merencanakan serangan tanggal </caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/03/140301_cina_stasiun.shtml" platform="highweb"/></link><link type="page"><caption> 1 Maret lalu.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/03/140301_cina_stasiun.shtml" platform="highweb"/></link>

Iskandar Ehet, Turgun Tohtunyaz, dan Hasayn Muhammad, didakwa dengan memimpin dan mengorganisasikan kelompok teroris dan pembunuh internasional.

Setelah ketiganya ditangkap, seorang perempuan bernama Patigul Tohti bersama empat orang yang kemudian ditembak mati itu melakukan serangan 1 Maret tersebut.

Pengadilan di Kunming

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Keamanan ditingkatkan saat pengadilan berlangsung di Kunming.
Iskandar Ehet, Turgun Tohtunyaz, dan Hasayn Muhammad

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Iskandar Ehet, Turgun Tohtunyaz, dan Hasayn Muhammad didakwa merencanakan serangan.

Pemerintah Beijing meningkatkan keamanan setelah serangkaian serangan yang disebut dilakukan oleh suku Uighur yang beragama Islam di wilayah Xinjiang, yang berbatasan dengan negara-negara Asia Tengah yang mayoritas berpenduduk beragama Islam.

Para pegiat di Uighur mengatakan tekanan atas kebebasan beragama dan berbudaya mereka mendorong timbulnya kekerasan di Xinjiang dan di tempat-tempat lain di Cina.

Namun pemerintah mengatakan telah melakukan investasi di Xinjiang untuk meningkatkan kehidupan warga di sana dan mengatakan 'teroris' di kawasan itu diinspirasi oleh kelompok-kelompok militan Islam luar negeri.