Sidang 20 wartawan di Mesir akan dimulai

Unjuk rasa wartawan

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Unjuk rasa berlangsung di beberapa tempat, seperti di Beirut, menentang pengadilan atas wartawan di Mesir.

Pengadilan Mesir akan menyidangkan 20 wartawan, termasuk empat wartawan asing, mulai pekan depan.

Para wartawan itu antara lain <link type="page"><caption> dituduh menjadi anggota 'organisasi teroris'</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/01/140129_mesir_al_jazeera_wartawan.shtml" platform="highweb"/></link> sementara keempat wartawan asing dituduh membantu organisasi teroris dan menyebarkan berita bohong.

Termasuk yang akan diadili adalah Kepala Biro stasiun TV, Al Jazeera di ibukota Kairo, Adel Fahmy -yang berkebangsaan Mesri dan Kanada- serta seorang warga Australia yang juga mantan wartawan BBC , Peter Greste.

Keduanya bersama enam terdakwa lain berada di dalam tahanan, sementara yang lainnya, termasuk dua wartawan Inggris, akan diadili secara in absentia.

Al-Jazeera mengatakan hanya sembilan yang didakwa merupakan wartawan mereka yang semata-mata melaporkan situasi di <link type="page"><caption> Mesir.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/topik/mesir/" platform="highweb"/></link>

Menurut mereka tuduhan yang diajukan 'tidak masuk akal, tidak beralasan, dan palsu' serta membantah membantu Ikhwanul Muslimin, <link type="page"><caption> yang ditetapkan sebagai organisasi teroris</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/12/131226_muslimbrotherhoodterrorist.shtml" platform="highweb"/></link> setelah <link type="page"><caption> Presiden Mohamed Morsi digulingkan militer tahun lalu.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/07/130703_militer_morsi.shtml" platform="highweb"/></link>

Pemerintah sementara Mesir dan para pendukungnya menuduh kantor berita internasional berpihak dalam melaporkan pelanggaran hak asasi manusia atas para pendukung Morsi dan pembangkang politik lain.

Unjuk rasa wartawan

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Pemerintah Mesir menuduh kantor berita internasional berpihak dalam melaporkan situasi di Mesir.

Penangkapan atas wartawan ini memicu aksi unjuk rasa dari para wartawan lain, seperti yang berlangsung di depan Kedutaan Besar Mesir di Nairobi, Kenya, dan juga di Beirut, Libanon, pekan lalu.

Ikhwanul Muslimin sudah menyatakan meninggalkan jalan kekerasan pada 1970-an namun beberapa waktu lalu menegaskan tetap berkomitmen untuk mencapai perubahan politik di Mesir lewat jalan damai.