Paus kecam 'perbudakan' di Bangladesh

paus fransiskus
Keterangan gambar, Paus Fransiskus mengatakan tidak membayar upah yang adil bertentangan dengan Tuhan.

Paus Fransiskus mengecam buruknya kondisi kerja ratusan buruh dalam bencana gedung runtuh dan menyebut kondisi kerja di pabrik tak ubahnya seperti praktek 'perbudakan'.

Ratusan orang dinyatakan tewas akibat runtuhnya gedung Rana Plaza di dekat kota Dhaka. Bangunan tersebut merupakan tempat beberapa pabrik garmen, yang sebagian diantaranya memasok perusahaan-perusahaan retail di negara barat.

Paus mengaku terkejut ketika mengetahui sebagian pekerja hanya dibayar 38 euro atau setara dengan US$50 per bulan.

"Hari ini di dunia, praktek perbudakan sedang dilakukan menentang sesuatu yang indah yang telah diberikan Tuhan pada kita, yaitu kemampuan untuk mencipta, bekerja, dan memiliki martabat." kata Paus pada khalayak terbatas.

"Tidak membayar upah yang adil, tidak memberikan pekerjaan karena Anda hanya melihat neraca keuangan, untuk mencari keuntungan, adalah hal yang bertentangan dengan Tuhan," sambungnya, seperti dikutip oleh radio Vatikan.

Setidaknya 410 orang tewas dan 140 lainnya dinyatakan hilang menyusul ambruknya bangunan berlantai delapan pekan lalu, demikan dilaporkan kepolisian dan militer setempat. Sementara 2.500 orang lainnya dilaporkan menderita luka.

Insiden tersebut menjadi bencana industri terbesar di Bangladesh.

Lebih dari 30 orang tewas yang tidak dapat teridentifikasi, telah dikuburkan secara massal pada Rabu (01/04).

Rasa aman

Pada peringatan hari buruh di Dhaka, pengunjuk rasa yang jumlahnya ditaksir 20.000 orang menuntut hukuman mati bagi pemilik gedung serta perbaikan kondisi kerja.

"Saya menginginkan hukuman mati bagi pemilik gedung," kata salah satu pengunjuk rasa berusaia 18 tahun, Mongidul Islam Rana, yang bekerja pada pabrik garmen.

"Kami ingin upah yang sesuai, dan tentu kami ingin mendapatkan pabrik yang lebih aman untuk bekerja."

Di wilayah lain di Dhaka, pengunjuk rasa memegang spanduk-spanduk bertuliskan "Gantung pembunuh, gantung pemilik gedung."

Berbicara pada sebuah reli demonstrasi di kota industri Narayanganj, pemimpin partai oposisi utama Bangladesh, Khaleda Zia, menuduh pemerintah menyembunyikan fakta terkait jumlah tewas yang nyata dan penyebab runtuhnya bangunan.

Dia juga mengklaim jika tentara lebih cepat diberikan kendali untuk operasi evakuasi, lebih banyak nyawa bisa diselamatkan.

Uni Eropa tengah mempertimbangkan "tindakan yang tepat" untuk mendorong perbaikan kondisi kerja di pabrik-pabrik Bangladesh.

Industri garmen berkontribusi hampir 80% dari ekspor Bangladesh dan menyediakan lapangan kerja bagi sekitar empat juta orang.