Militer Mesir usir pemrotes di istana

Aparat keamanan di Mesir
Keterangan gambar, Pihak berwenang melarang demonstran berada di sekitar lingkungan istana.

Militer Mesir mulai mengusir pengunjuk rasa dan wartawan dari luar Istana Presiden di ibukota Mesir, Kairo, pada Kamis, 6 Desember.

Militer juga mengeluarkan ultimatum kepada mereka agar mengosongkan lingkungan istana sebelum Kamis sore waktu setempat.

Ultimatum dikeluarkan menyusul pertemuan antara Presiden Mohamed Morsi dan para petinggi militer.

"Pasukan Garda Republik memutuskan untuk membersihkan kawasan di sekitar istana presiden pada sekitar pukul 15:00 dan melarang pengunjuk rasa di sekitar institusi kepresidenan," demikian pernyataan kantor presiden.

Langkah itu diambil menyusul serangkaian bentrokan antara kelompok penentang dan pendukung presiden yang menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai sekitar 600 orang.

Kelompok pendukung presiden, sebagian besar dari Ikhwanul Muslimin, telah membubarkan diri tetapi kelompok oposisi berjanji akan terus menggelar protes di sana.

Persatuan

Presiden Morsi semakin mendapat tekanan berat setelah perguruan Al Azhar, salah satu lembaga terkenal, turut menyerukan kepada presiden agar mencabut wewenang baru.

Pemberian wewenang baru kepada presiden lewat dekrit tersebut menjadi pangkal persoalan yang menyulut demonstrasi dua pekan lalu.

Presiden Morsi menegaskan perluasan kekuasaaan diperlukan untuk membantu meloloskan rancangan undang-undang dasar baru.

Sejumlah pemimpin oposisi menyerukan agar warga mengadakan protes lagi sebagai bentuk penentangan terhadap wewenang presiden dan juga terhadap RUU.

Sementara itu Ikhwanul Muslimin menyerukan agar masyarakat bersatu dan mengatakan perpecahan hanya menguntungkan musuh-musuh Mesir.