Aksi boikot sejumlah surat kabar Mesir

Sejumlah surat kabar kubu oposisi dan independen di Mesir tidak terbit hari ini, Selasa 4 Desember, sebagai protes atas rancangan konstitusi Mesir.
Sedikitnya delapan surat kabar bepengaruh, seperti Al-Masry al-Youm dan Egyptians Today- ikut serta dalam aksi boikot untuk menentang rancangan konstitusi tersebut.
Situs internet Al-Masry al-Youm menyatakan mereka menentang 'kebebasan yang terus berlanjut atas kebebasan pers, khususnya setelah ratusan warga Mesir kehilangan nyawanya untuk kebebasan dan kehormatan'.
Dalam edisi Senin 3 Desember kemarin, Al-Masry sudah mengumumkan rencana aksi boikot mereka dengan memasang gambar pria yang dibungkus kertas dengan kaki diikat dan latar belakang hitam
Sementara itu salah satu stasiun TV swasta Mesir merencanakan untuk ikut dalam aksi protes ini pada Rabu (05/12) dengan membiarkan layar mereka hitam sehari penuh. Namun situs internet albawaba.com menyebutkan akan ada lima stasiun TV yang akan ikut aksi boikot.
Rancangan konstitusi yang memicu protes media ini disusun oleh anggota majelis yang mayoritas beraliran Islam dan merupakan pendukung Presiden Mohammed Morsi.
Hak perempuan dan minoritas

Banyak warga yang berpendapat bahwa rancangan tersebut tidak cukup memberikan perlindungan atas hak-hak perempuan dan kelompok minoritas serta kebebasan mengungkapkan pendapat.
Sejumlah pihak juga menuding rancangan memberikan wewenang yang lebih besar kepada ulama, yang kini memiliki suara atas perundang-undangan, sementara beberapa pasal ditujukan untuk mengikis yang dianggap sebagai musuh-musuh Islam.
Presiden Morsi sudah <link type="page"> <caption> menetapkan referendum nasional pada tanggal</caption> <url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/12/121202_egyptreferendum.shtml" platform="highweb"/> </link> <link type="page"> <caption> 15 Desember</caption> <url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/12/121202_egyptreferendum.shtml" platform="highweb"/> </link> untuk menentukan rancangan konstitusi.
Kelompok oposisi juga kembali merencanakan aksi unjuk rasa massal di depan Istana Presiden di ibukota Kairo pada Selasa 4 Desember.
Selain menentang rancangan konstitusi, mereka juga mengungkapkan kemarahan atas dekrit yang memberikan kekuasaan tanpa batas kepada Presiden Morsi.
Para pendukung presiden mengatakan bahwa dekrit itu hanya berlaku untuk sementara waktu guna melindungi revolusi, yang berhasil menggulingkan mantan presiden Husni Mubarak.
Dekrit dan rancangan konstitusi ini tampaknya menyebabkan masyarakat Mesir terpecah menjadi dua kubu dan kedua pihak sama-sama menggelar aksi unjuk rasa massal untuk menegaskan pendapatnya.
Hari Sabtu (01/12) para pendukung Presiden Morsi dan gerakan Ikhwanul Muslimin <link type="page"> <caption> menggelar unjuk rasa di beberapa tempat di Mesir</caption> <url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/12/121201_unjukrasa_dukung_morsi.shtml" platform="highweb"/> </link>.









