
Bashar al Assad menyampaikan pernyataannya kepada televisi Rusia.
Presiden Suriah Bashar Al Assad menegaskan dia tidak akan pernah meninggalkan negaranya di tengah perang saudara yang terus kerkecamuk.
Presiden Assad berjanji akan tetap "hidup di Suriah dan mati di Suriah".
"Saya adalah warga Suriah, saya diciptakan di Suriah dan saya harus hidup serta mati di Suriah," kata Assad dalam wawancara dengan televisi Rusia yang disiarkan pada Kamis (08/11).
Presiden Assad, 47, menambahkan dia tidak mengharapkan campur tangan militer Barat tetapi memperingatkan bahwa dampak intervensi militer akan sangat besar.
"Saya pikir harga invasi ini, bila terjadi, akan sangat besar, jauh lebih besar dari harga yang bisa dijangkau dunia," tutur presiden.
Suriah, lanjutnya, adalah kantung terakhir sekulerisme dan stabilitas kawasan.
"Hal itu akan mempunyai efek domino yang akan berdampak pada dunia mulai dari Atlantik hingga Pasifik."
Situasi kemanusiaan
Wawancara Presiden Assad disiarkan beberapa hari setelah Perdana Menteri Inggris David Cameron menyarankan agar Assad dimungkinkan keluar dari Suriah apabila langkah itu menjamin perang saudara berakhir.
Sementara itu Kepala Palang Merah Internasional Peter Maurer mengatakan kondisi kemanusiaan di Suriah sekarang begitu buruk sehingga badan tersebut kesulitan mengatasinya.
Peter Maurer mengatakan Palang Merah tidak bisa menjangkau semua kawasan di Suriah.
Di ibukota Suriah, Damaskus, pertempuran berlangsung sengit antara pasukan pemberontak dan pasukan pemerintah.






