AS tambah pasukan ke Libia

Terbaru  15 September 2012 - 16:24 WIB
Konsulat AS di Libia

Konsulat AS di Benghazi Libia pasca serangan yang menewaskan duta besar AS.

Amerika Serikat menambah jumlah mata-mata, marinir dan pesawat tempur ke Libia, sebagai upaya percepatan pencarian pelaku pembunuhan duta besar AS dan tiga orang warga Amerika.

Tetapi penyelidikan sulit dilakukan karena pasukan keamanan yang kacau pasca revolusi di Libia dan terbatasnya jumlah intelejen Amerika dan Libia, seperti diberitakan AP.

Agen intelejen AS CIA hanya memiliki sedikit orang yang dapat dikirim ke negara tersebut.

Dan Libia telah memperkuat kontrol di negara mereka, tetapi baru sedikit membangun agen intelejen mereka, kurang dari setahun setelah penggulingan Moammar Gadhafi.

AS telah mengirimkan tim investigasi dari FBI, yang mencoba melacak simpatisan Al-Qaeda yang diyakini bertanggung jawab atas demonstrasi memprotes video anti Islam, yang berujung pada penyerangan konsulat AS di Benghazi.

Duta besar AS Chris Stevens, dan tiga orang pegawai kedutaan tewas setelah serangan senjata, granat dan mortir ke gedung konsulat di Benghazi pada Selasa, bertepatan dengan peringatan peristiwa 11 September.

Presiden AS Barack Obama menyampaikan pernyataan setelah serangan pagi itu, bahwa siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut harus dibawa ke pengadilan. Ini mungkin tidak akan cepat. Untuk mengetahui apa yang terjadi membutuhkan lebih banyak waktu dan orang, seperti disampaikan oleh pejabat AS Jumat (14/9).

Pejabat intelejen mencoba memeriksa kembali pesan telepon, lalu lintas komputer dan petunjuk lain yang dikumpulkan beberapa hari sebelum serangan, dan penegak hukum Libia telah menahan sejumlah orang.

Tetapi penyelidik belum menemukan bukti yang mengarah ke kelompok tertentu atau untuk mengindikasi serangan itu direncanakan, seperti disampaikan oleh juru bicara Gedung Putih, Jay Carney, dan menambahkan semuanya tengah dalam penyelidikan.

Indikasi awal menunjukan bahwa serangan itu dilakukan bukan oleh kelompok utama Al-Qaeda, tetapi oleh simpatisannya," kata pejabat intelejen AS, yang tidak mau disebutkan identitasnya.

Salah satu tersangka utama adalah kelompok militan yang berbasis di Libia, Ansar al-Shariah, yang dipimpin oleh mantan tahanan Guantanamo, Sufyan bin Qumu.

Kelompok ini membantah bertanggung jawab atas peristiwa tersebut, tetapi mengakui bahwa anggotanya berada di lokasi protes di sekitar konsulat, menurut Ben Venzke dari IntelCenter, sebuah perusahaan analisa sawsta yang menonitor media jihad bagi komuitas intelejen AS.

Link terkait

BBC © 2014BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.

]]>