
Bagram yang dikenal sebagai 'Guantanamo' Afganistan kini diberi nama Pusat Tahanan Parwan.
Militer AS telah menyerahkan kendali sebuah penjara kontroversial yang berisi lebih dari 3.000 pejuang Taliban dan tersangka terorisme ke pemerintahan Afganistan.
Dalam sebuah upacara kecil, pejabat Afganistan mengatakan para tahanan itu secara resmi telah diserahkan kepada kekuasaan mereka.
Kebijakan ini merupakan bagian dari kesepakatan untuk menyerahkan semua penjara Afganistan menjelang penarikan pasukan Nato secara penuh pada akhir tahun 2014.
Penjara Bagram selama ini dikenal dengan sejumlah dugaan pelanggaran yang dialami para tahanannya saat masih dijaga oleh pasukan AS.
Meski Presiden Afganistan Hamid Karzai memuji penyerahan ini, tetapi nada ketidaksetujuan masih terdengar dari AS.
Washington dilaporkan masih bersikeras untuk tetap memegang kuasa terhadap sejumlah tahanan di penjara tersebut.
Upacara singkat
Upacara serah terima berlangsung dalam waktu singkat dan wartawan BBC melaporkan bahwa upacara tidak dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi AS dan Nato.
"Kami menyerahkan lebih dari 3.000 tahanan Afganistan ke penjagaan anda... dan menjamin bahwa mereka yang mungkin mengancam kemitraan Afganistan dan pasukan koalisi tidak akan kembali ke medan tempur,'' kata Kolonel Robert Taradash, satu-satunya pejabat AS di upacara tersebut.
"Pasukan Afganistan dilatih dengan baik dan kami senang hari ini mereka bisa mengambil tanggung jawab penjagaan penjara secara independen,'' kata pelaksana tugas Menteri Pertahanan Enayatullah Nazari.
"Pasukan Afganistan dilatih dengan baik dan kami senang hari ini mereka bisa mengambil tanggung jawab penjagaan penjara secara independen."
Enayatullah Nazari
"Kami mengambil tanggung jawab dari pasukan asing.'' tegasnya.
Kantor berita AFP juga memuat gambar sekelompok kecil tahanan yang dilepaskan sebagai bagian dari upacara serah terima tersebut.
Sekarang penjara Bagram yang terletak sekitar 40km dari ibukota Kabul diberi nama Pusat Tahanan Parwan.
Militer AS menyatakan ingin tetap menjalan sebuah seksi di dalam penjara dan tidak menyerahkan ratusan tahanan dengan alasan masih memiliki hak untuk menahan para pemberontak yang tertangkap di medan pertempuran, demikian laporan wartawan BBC Jonathan Beale di Kabul.
Ini termasuk sekitar 50 tahanan asing yang tidak termasuk dalam kesepakatan pengalihan yang ditandatangani Maret silam.
AS juga mengkhawatirkan beberapa tahanan bernilai tinggi bisa dibebaskan jika mereka diserahkan ke Afganistan.
Hal itu menimbulkan kemarahan presiden Afgan yang mengatakan kuasa penuh Afganistan adalah isu kedaulatan.
Menurut pejabat Afganistan ada sekitar 34 tahanan ''bernilai tinggi'' yang kini dalam perebutan hak kuasa penahanan.
'Guantanamo Afganistan'

Insiden pembakaran Quran di Bagram merupakan salah satu dugaan pelanggaran AS di penjara ini.
Bagram dikenal sebagai ''Guantanamo Afganistan'' karena di masa lalu sering terjadi pelanggaran terhadap para tahanan.
Januari 2012, penyelidik Afganistan menuduh militer AS melakukan penyiksaan terhadap para tahanan di Bagram.
Para penyelidik mengatakan para tahanan dilaporkan mengalami penyiksaan, ditahan tanpa ada bukti dan menjadi subyek pelecehan.
Nato dan AS membantah dugaan pelanggaran tersebut dan memberikan fakta bahwa mereka telah memberikan akses bagi komisi HAM Afganistan untuk memeriksa secara independen.
Februari tahun ini, tentara AS juga dilaporkan membakar Al Quran yang disita dari para tahanan di Bagram, yang menimbulkan aksi protes dan pembunuhan di sepanjang Afganistan.
Sebuah penyelidikan AS menyatakan insiden pembakaran itu berlangsung tanpa disengaja tidak bermaksud untuk tidak menghormati Islam.






