
Polisi buru tersangka pemilik bahan peledak Tambora dan penyewa rumah di Depok.
Aparat anti teror Indonesia menduga bom Depok terkait dengan serangkaian serangan terhadap aparat dan pos polisi di kota Solo Jawa Tengah, yang berlangsung sepanjang bulan Agustus lalu.
Sebuah bom yang diduga merupakan rakitan meledak di Jalan Nusantara, Beji Depok Sabtu malam. Bom sedikitnya melukai lima orang, seorang diantaranya dalam kondisi kritis dan telah dipindahkan perawatannya ke RS Polri Sukanto, Jakarta Timur.
Pada Rabu lalu, Depok juga menjadi lokasi penangkapan seorang buron tersangka yang diduga ikut merencanakan serangan di Solo, berinisial F.
"Kelihatannya berkaitan, memang ada hubungan antara disitu (Depok) dengan kejadian di Solo," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai kepada Dewi Safitri dari BBC.
Mbai mengatakan ada kemungkinan kejadian Solo serta ledakan bom di Depok juga terkait dengan penemuan bahan peledak siap rakit di Tambora, Jakarta Barat pada rabu (5/9) lalu.
"Kita sedang kembangkan penyelidikannya ke semua arah sekarang ini," tambah Mbai.
Bahan peledak yang menurut polisi patut diduga akan dirakit menjadi bom untuk aksi teror ini ditemukan masyarakat warga sekitar Jalan Teratai, Tambora, namun pemilik rumah berinisial Tr berhasil kabur.
Sementara dalam kasus Depok, ledakan terjadi di sebuah rumah kontrakan yang memasang spanduk rumah yatim piatu.
Polisi mengatakan penyewa rumah berinisial YR juga tengah diburu.






