Pemimpin gereja di Cina minta perlindungan

Sumber gambar, Reuters
Pemimpin 17 gereja Kristen tidak resmi di Cina mendesak pemerintah melindungi hak mereka untuk beragama dan beribadah.
Desakan ini tercantum dalam petisi yang disampaikan kepada ketua parlemen, Wu Bangguo.
"Kami mengamati konflik antara gereja dan pemerintah di Beijing dan menurut kami tidak ada keinginan untuk mencoba mengatasi masalah ini," demikian salah satu bunyi petisi tersebut.
Para pemimpin gereja mendesak pemerintah mengeluarkan undang-undang baru yang melindungi kebebasan beragama.
Melalui petisi ini mereka mendesak penyelidikan perlakuan buruk aparat pemerintah terhadap anggota gereja Shouwang.
Konstitusi Cina menjamin hak beribadah namun puluhan anggota gereja ditangkap dalam beberapa bulan terakhir.
Reaksi pemerintah
Dari sekitar 70 juta pemeluk Kristen di Cina, 50 juta di antaranya adalah anggota gereja yang tidak diakui oleh pemerintah.
Shouwang adalah salah satu kelompok Kristen bawah tanah di Beijing dengan anggota lebih dari 1.000 orang.
Selama ini mereka bisa melakukan kegiatan dengan relatif lancar namun belakangan membuat pemerintah marah karena bersikukuh ingin menggelar misa di udara terbuka setelah sewa gedung yang dipakai sebagai gereja tidak diperpanjang.
Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan para anggota Shouwang beberapa kali mengadakan kegiatan di jalan. Tindakan pemerintah untuk menindak mereka ditujukan untuk menjaga ketertiban umum.
"Pemerintah Cina menjamin hak rakyat dalam beragama dan beribadah namun semuanya harus dalam koridor hukum yang berlaku," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri, Jiang Yu dalam keterangan pers kepada para wartawan di Beijing.
"Dalam menjalankan hak ini rakyat tidak boleh mengganggu keamanan dan ketertiban umum," kata Jiang Yu.









