Colin Powell: Menteri luar negeri kulit hitam pertama AS meninggal dunia, warisannya 'ternoda' oleh invasi Irak

Keterangan video, Watch: The key moments of Colin Powell

Penghormatan terakhir diberikan kepada mantan menteri luar negeri Amerika Serikat, Colin Powell, yang meninggal dunia karena komplikasi Covid-19 pada usia 84 tahun.

Powell menjadi warga Amerika kulit hitam pertama yang menjabat menteri luar negeri pada 2001 di bawah pemerintahan Presiden George W Bush.

Ia memainkan peran penting dalam merancang alasan, sebagai dasar invasi ke Irak pada 2003, dengan menggunakan laporan intelijen yang keliru. Suatu hal yang ia sesali di kemudian hari.

Baca juga:

Keluarganya menyebut mantan pejabat tinggi militer ini meninggal pada Senin (18/10) pagi.

"Kami telah kehilangan suami, ayah, kakek, dan orang Amerika yang luar biasa dan penyayang," tulis keluarga Colin Powell dalam sebuah pernyataan.

Powell sebelumnya telah didiagnosis dengan multiple myeloma, sejenis kanker darah yang mungkin membuatnya lebih rentan terhadap gejala Covid, menurut media AS. Di samping itu, ia juga menderita penyakit Parkinson.

'Sosok tentara dan diplomat yang ideal'

Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyebutnya sebagai 'sosok paling ideal sebagai tentara maupun diplomat'.

Mantan Presiden Bush termasuk di antara mereka yang pertama memberi penghormatan kepada Colin Powell yang disebutnya sebagai "pelayan publik yang hebat" serta "seorang pria penyayang keluarga dan seorang teman" yang "sangat disukai oleh presiden sehingga ia mendapatkan Presidential Medal of Freedom - dua kali".

Wakil presiden pada masa pemerintahan Bush, Dick Cheney, memberi hormat kepada Powell sebagai "seorang pria yang mencintai negaranya dan melayaninya dengan baik dan lama".

Ia kemudian menyebut Powell sebagai "perintis dan panutan bagi banyak orang".

Colin Powell

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyebutnya sebagai 'sosok paling ideal sebagai tentara maupun diplomat'.

Condoleezza Rice, penerus Powell sebagai menteri luar negeri dan perempuan kulit hitam pertama dalam jabatan itu, memanggilnya "pria yang benar-benar hebat" yang "pengabdiannya kepada bangsa kita tidak terbatas pada banyak hal hebat yang dia lakukan saat berseragam atau selama waktunya menjabat di Washington".

"Sebagian besar warisannya akan hidup dalam banyak kehidupan orang-orang muda yang disentuhnya."

Menteri Luar Negeri AS saat ini, Antony Blinken, menyebut kehidupan Powell sebagai "kemenangan Impian Amerika".

Colin Powell

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Colin Powell melakukan briefing Pentagon ketika Perang Teluk pertama pada tahun 1991

Powell memberi Departemen Luar Negeri "yang terbaik dari kepemimpinannya," kata Blinken.

"Dia tidak pernah berhenti percaya pada Amerika, dan kami sangat percaya pada Amerika karena membantu menciptakan seseorang seperti Colin Powell."

Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair - yang bekerja erat dengan Powell selama tahun-tahun awal Invasi Irak - mengatakan dia adalah seseorang dengan "kemampuan dan integritas yang luar biasa" yang merupakan "teman yang hebat, dengan selera humor yang baik".

Colin Powell

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Powell tercatat sebagai tentara terhormat dan menjadi warga Amerika kulit hitam pertama yang menjabat menteri luar negeri.

Penghormatan terakhir juga mengalir dari para pemimpin Afrika-Amerika terkemuka.

Aktivis hak-hak sipil Al Sharpton menyebutnya "seorang pria yang tulus dan berkomitmen", sementara anggota Kaukus Hitam Kongres memuji "warisan keberanian dan integritasnya".

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin, pria kulit hitam pertama yang menjabat dalam peran itu, memuji Powell sebagai "teman dan mentor pribadi yang luar biasa" yang "mustahil untuk digantikan".

Presentational grey line

Bagaimana warga kulit hitam mengenang Colin Powell?

  • Ayah saya sebenarnya sangat mengagumi Colin Powell. Ayah saya adalah seorang perwira tentara dan, baginya, melihat seorang pria kulit hitam menjabat peran penting di militer dan selanjutnya di kantor pemerintahan, sangat penting. Saya tidak dapat membicarakan hal ini dengan kepastian 100%, tetapi saya pikir pandangannya tentang dia sekarang sedikit kontradiktif. - Isaiah Reeves, 25, Tennessee
  • Pengaruhnya terhadap keputusan saya [sebagai orang Jamaika-Amerika] untuk bergabung dengan militer sangat signifikan. Pada saat dia naik pangkat jabatan militer, tidak terduga bagi seorang anak laki-laki Jamaika-Amerika yang miskin dari New York City untuk mencapai apa yang dia lakukan dalam hidup. Ketika dia menjadi Menteri Luar Negeri, saya mengerti tidak ada batasan untuk apa yang dapat dicapai oleh individu, terlepas dari latar belakang sosial-etnis. - Michelle Dunkley, 57, New Jersey
Presentational grey line

Sebagai seorang anggota Partai Republik yang moderat, Powell menjadi penasihat militer tepercaya bagi sejumlah politisi terkemuka AS.

Namun dia memutuskan hubungan dengan partainya untuk mendukung Barack Obama pada pemilihan presiden 2008, serta Hillary Clinton pada 2016 dan Joe Biden pada 2020.

Ia menjadi kritikus tajam terhadap presiden yang diusung Partai Republik, Donald Trump, dan mengatakan dia tidak bisa lagi menyebut dirinya sebagai seorang Republikan setelah kerusuhan yang terjadi pada 6 Januari di Kompleks Gedung Kongres AS.

Dia juga pernah bertempur pada perang Vietnam, sebuah pengalaman yang kemudian membantu menentukan strategi militer dan politiknya sendiri.

Colin Powell

Sumber gambar, Powell family photo

Keterangan gambar, Colin Powell sempat terluka ketika bertempur dalam Perang Vietnam.

Namun, dia belakangan mengaku reputasinya pun ternoda saat pidato di Dewan Keamanan PBB dengan menggunakan laporan intelijen yang keliru demi mendukung invasi AS ke Irak.

"Itu menyakitkan. Terasa menyakitkan sekarang," kata Powell kepada ABC News pada 2005.

Kala itu, setelah serangan 9/11, Powell mendapati dirinya berhadapan dengan menteri pertahanan AS saat itu, Donald Rumsfeld, yang lebih memilih intervensi AS, bahkan tanpa dukungan negara lain, dalam apa yang kemudian disebut sebagai "perang melawan teror".

Powell, yang berpegang teguh pada pendiriannya, menentang keterlibatan AS di Irak tetapi, secara tiba-tiba, setuju untuk mendukung Bush.

Colin Powell, Dick Cheney and President George W Bush

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Colin Powell bersama dengan Presiden George Bush dan Wkil Presiden Dick Cheney pada November 2000

Reputasinya sebagai orang yang berintegritas tentu membantu meyakinkan PBB tentang invansi ke Irak, ketika dia muncul di hadapan Dewan Keamanan pada tahun 2003.

Hanya 18 bulan kemudian, setelah Saddam Hussein digulingkan, Powell mengakui bahwa laporan intelijen yang menyatakan diktator Irak itu memiliki "senjata pemusnah massal", hampir pasti salah.

Tak lama setelah itu, dia mengumumkan pengunduran dirinya sebagai menteri luar negeri.

Presentational grey line

Kisah sukses Amerika yang ikonik

Analysis box by Anthony Zurcher, North America reporter

Colin Powell adalah kisah sukses Amerika yang ikonik. Sebagai anak seorang imigran, ia menjadi orang kulit hitam pertama yang naik ke posisi tertinggi dalam militer dan diplomasi AS.

Pada 1990-an, Powell adalah salah satu dari sedikit tokoh Amerika dengan daya tarik yang melintasi batas-batas politik - mengingatkan kita pada Jenderal Dwight D Eisenhower setelah Perang Dunia Kedua.

Tidak seperti Eisenhower, Powell tidak naik ke kursi kepresidenan - meskipun ada banyak seruan agar dia mencalonkan diri.

Seruan itu berkurang setelah invasi AS ke Irak tahun 2003, sebuah keputusan yang kemudian diakui Powell sebagai "noda" pada warisannya.

Dia telah mempertaruhkan reputasinya pada keberadaan senjata pemusnah massal Irak - dan reputasinya menderita karenanya.

Di tahun-tahun terakhirnya, Powell menjadi ikon yang berbeda.

Kepindahan dirinya dari Partai Republik setelah Donald Trump naik ke tampuk kekuasaan mencerminkan berkurangnya pengaruh faksi internasionalis moderat Powell dalam gerakan konservatif Amerika.

Kehidupan Powell mungkin agak dibayangi oleh penyebab kematiannya, karena ia sekarang menempati peringkat teratas orang Amerika paling terkemuka yang menyerah pada Covid-19.