Polisi cegah penyebaran propaganda ISIS

Sumber gambar, AFP
Kepolisian Indonesia terus melakukan pencegahan penyebaran paham kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam ISIS, menyusul munculnya sejumlah video propaganda organisasi militan itu.
Kelompok itu secara berkala mengeluarkan video promosi untuk film Flame of War, dengan kualitas gambar bagus dan tampak dikerjakan oleh professional.
Juru bicara Mabes Polri, Irjen Pol Ronny Sompie mengatakan sekitar 59 orang Indonesia bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak dan upaya pencegahan warga Indonesia untuk pergi ke negara tersebut dilakukan melalui pihak imigrasi.
"Ada 59 catatannya, namun demikian nama-nama mereka secara rinci tidak diekspos, jadi catatan intelejen baik imigrasi kemeterian luar negeri, maupun Badan Nasional Penanggulangan Teror tentunya," kata Ronny.
"Dalam negeri kita berupaya tidak hanya penindakan tetapi pengajakan yang sifatnya wawasan untuk tidak ikut dengan paham yang bernama ISIS ini terus kita gelorakan," jelas Ronny.
Sebelumnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan paham ISIS menjadi ancaman besar bagi Indonesia meskipun pengaruhnya belum besar tetapi harus diantisipasi secara serius.
Target pemuda Eropa
Penyebaran video yang diproduksi oleh Al Hayat Media, sayap media ISIS, ini dikhawatirkan akan mendorong anak-anak muda untuk bergabung dengan ISIS.
Pengamat masalah terorisme Taufik Andrie menyebutkan propaganda yang dilakukan ISIS berupaya menampilkan citra ISIS yang tampaknya ditujukan kepada anak-anak muda sehingga mereka tertarik kepada ISIS.
Tetapi sejauh ini, menurut Taufik, propaganda itu sebagian besar ditujukan terhadap anak-anak muda dari negara Eropa.
"Peran produk-produk visual itu membuat mereka menjadi pahlawan perang dan dukungan yang bukan sekedar moral diharapkan datang dari anak muda, keterlibatan yang dibutuhkan. Kenapa lebih banyak dari negara barat yang kesana, alasannya geografis dan kedua karena propagandanya itu lebih banyak dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan dari bahasa Arab," jelas Taufik.
Taufik juga mengatakan pengalaman jihad itu juga baru bagi kalangan di negara-negara Eropa, sementara di negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara memiliki medan jihad sendiri seperti di Afghanistan, Filipina dan Moro.
Akhir pekan lalu pemerintah menangkap empat warga asing yang diduga merupakan bagian dari kelompok radikal pimpinan Santoso di Sulawesi Tengah yang disebut mendukung ISIS.
Mereka menggunakan paspor Turki tetapi hanya dapat berbicara bahasa Uighur.
Mabes Polri mengatakan status tersangka mereka akan ditetapkan karena ditemukan bukti keterkaitan empat WN asing itu dengan kelompok jihad di Indonesia Timur.









