Dari transparansi sampai pensiun untuk atlet

Harapan dari presiden terpilih yang diungkapkan peserta diskusi Google Hangouts BBC Indonesia mulai dari transparansi pemerintah, penegakan hukum perusak lingkungan dan pensiun untuk atlet.
Diskusi dengan topik <link type="page"><caption> "Tantangan ke depan bagi Presiden Terpilih"</caption><url href="https://www.youtube.com/watch?v=ZmiKRCMNPzw" platform="highweb"/></link> diikuti oleh Adam Tyson, dosen politik, Universitas Leeds, Syahrul Hidayat, dosen Universitas Exeter, Taufik Hidayat, juara dunia dan Olimpiade badminton, Maudy Ayunda, mahasiswi politik, filosofi dan ekonomi, Universitas Oxford, Daniel Kambey, mahasiswa S2 pendidikan kedokteran dan Abetnego Tarigan, direktur eksekutif WALHI.
Dari bidang olahraga, Taufik mengharapkan presiden baru nanti "bisa memikirkan setelah atlet pensiun karena tidak jelas tunjangan masa depannya".
"Pemerintah dan masyarakat hanya melihat kalau mereka berprestasi tetapi tidak ada masa depannya ... jangan hanya diapresiasi semasa mereka jadi atlet," kata Taufik dalam diskusi melalui Google Hangouts Rabu (09/07) malam.
"Olahraga Indonesia menurun karena banyak orang tua yang tidak mengizinkan anaknya jadi atlet," tambahnya.
Perusak lingkungan bebas
Kedua calon presiden Prabowo Subianto dan Joko Widoro masing-masing mengklaim kemenangan, walaupun berdasarkan perhitungan cepat <link type="page"><caption> pemilihan presiden sejauh</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/lapsus_pilpres.shtml" platform="highweb"/></link> ini, Jokowi unggul tipis.
Dari sisi lingkungan hidup, direktur eksekutif WALHI, Abetnego antara lain mengangkat pentingnya penegakan hukum bagi perusak lingkungan.
"Sampai sekarang pengadilan menjadi jalan aman bagi perusak lingkungan untuk bebas," kata Nego. "Banyak perusak lingkungan diadili bebas."
"Kapasitas penegak hukum sangat kecil jumlahnya. Tidak ada yang diproses secara hukum terkait kebakaran hutan di Riau," tambahnya mengacu pada kebakaran yang terjadi Januari dan Februari lalu.
Direktur eksekutif WALHI ini juga mengatakan perlunya restrukturisasi kementerian sehingga isu lingkungan menjadi hal yang strategis untuk menangani kerusakan yang terus berlanjut.
Akses informasi
"Kami catat di WALHI, bencana ekologi dari tahun 2012 dan 2013 meningkat 300% dari sisi jumlah dan luasan. Setidaknya 6.700 desa yang mengalami bencana pada 2013," kata Abetnego.
Maudy Ayunda, 19, pemilih pemula yang tengah studi di Universitas Oxford di fakultas Politik, Filosofi dan Ekonomi menyatakan bersemangat mengikuti pesta demokrasi melalui pemilihan presiden.

Maudy berharap presiden terpilih nanti menerapkan transparansi dalam menerapkan kebijakan dan masyarakat dapat "mengakses informasi termasuk informasi lewat elektronik."
"Tantangan pemertaan dan kesejahteraan di daerah-daerah yang terlalu terkonsentrasi di kota besar dan juga (perbaikan) infrastruktur," kata Maudy.
Dari sisi kesehatan, Daniel Kambey, dokter muda yang tengah melanjutkan studi S2 di Universitas Dundee, Skotlandia ingin melihat bagaimana pemerintahan ke depan menjalankan sistem kesehatan nasional yang baru diterapkan.
"Untuk mengganti sistem perlu proses panjang dan banyak hal yang harus diperbaiki," kata Daniel.
"Kita sering dengar kurangnya tenaga kesehatan, tetapi dukungan untuk mereka di lapangan kurang ... mereka tidak punya obat cukup dan peralatan ... mau tidak mau diakali dengan cara apapun," rinci Daniel terkait masalah kesehatan.
Dari HAM sampai kemiskinan
Dosen politik Universitas Leeds Adam Tyson mengatakan presiden terpilih nanti memiliki pekerjaan rumah yang begitu banyak.

"Tantangan ke depan termasuk menghormati hak asasi manusia ... pendidikan untuk semua, pengentasan kemiskinan," kata Adam.
Kedua calon presiden, Prabowo dan Jokowi saling mengklaim menang walaupun secara resmi hasil akan diumumkan pada 22 Juli.
Syahrul Hidayat dari Universitas Execter menganggap hasil ketat yang ditunjukkan perhitungan ketat karena "kedua calon tidak menawarkan sesuatu yang sangat menarik untuk masyarakat".
Sejauh ini hasil perhitungan cepat menunjukkan Jokowi unggul tipis dan Syahrul memperkirakan akan menghadapi kesulitan karena komposisi parlemen yang didominasi partai yang tidak mendukung mantan walikota Solo ini.

"Bila berhadapan dengan parlemen, seperti halnya di Jakarta misalnya, maka bisa mengajak masyarakat mendukung kebijakannya," kata Syahrul bila Jokosi ditetapkan sebagai pemenang.
"Situasi yang ada saat ini mengkhawatirkan namun bila diatur dengan baik, berarti proses ini sehat," tambahnya.









