Yang perlu Anda ketahui soal pelemahan rupiah

pilpres

Sumber gambar, AFP GETTY

Keterangan gambar, Rupiah melemah hingga lebih dari Rp12.000 menjelang pilpres.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar selama sepekan terakhir terus menunjukan pelemahan dan menembus kisaran Rp12.000 per dolar.

Pelemahan ini terjadi menjelang datangnya bulan Ramadhan yang biasanya diikuti oleh kenaikan harga bahan pangan.

Lantas seberapa besar dampaknya? Inilah lima hal yang perlu Anda ketahui soal pelemahan rupiah yang trennya sudah terjadi dalam setidaknya tiga bulan terakhir.

Mengapa rupiah melemah?

Secara umum melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dipengaruhi banyak hal, salah satunya adalah mulai pulihnya ekonomi Eropa dan Amerika Serikat sehingga banyak investor yang kembali berinvestasi ke negara-negara maju.

Karena itulah pelemahan mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga negara berkembang lain seperti India.

Sepekan terakhir, pelemahan juga didorong oleh kenaikan harga minyak karena krisis Irak. Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan situasi politik menjelang pilpres juga menjadi faktor.

Seperti dikutip sejumlah media, Chatib mengatakan ada "kekhawatiran" tentang ketegangan politik antar dua kandidat karena survei menunjukan selisih suara keduanya semakin tipis.

Kapan pelemahan rupiah berakhir?

Ekonom Hendri Saparini kepada BBC Indonesia mengatakan "ketidakpastian masih akan terjadi (setidaknya) sampai pilpres selesai."

"Kita berharap pemilu berjalan lancar dan hasilnya, apapun itu, bisa diterima kedua kubu. Kalau ini terjadi, ekspektasi akan membaiknya ekonomi bisa menguatkan rupiah kita," katanya.

Namun untuk menguatkan nilai rupiah dalam jangka panjang, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan pemerintahan ke depan.

Hendri menyebut harus adanya perbaikan fundamental ekonomi termasuk membuat kebijakan jangka panjang untuk menekan impor dan menaikan ekspor.

Sejumlah bahan pangan akan semakin mahal karena rupiah.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Sejumlah bahan pangan akan semakin mahal karena rupiah.

Apa dampaknya kepada saya?

Merosotnya nilai mata uang yang bertepatan dengan puasa akan mengakibatkan sejumlah bahan pangan mengalami kenaikan harga yang mungkin cukup tinggi.

Hendri Saparini mengatakan dampak depresiasi bersifat langsung terutama pada pangan impor dan bersifat luas karena masyakat paling bawah pun sudah mengkonsumsi pangan-pangan impor ini.

"Kita tahu kelompok bawah sudah mengkonsumsi bahan impor. Bulan Ramadhan ini pasti perlu terigu yang hampir 100% impor, gula 65% impor, dan juga kedelai dan daging," katanya.

Menteri Koordinator Ekonomi Chairul Tandjung mengatakan kepada media bahwa kenaikan harga "tidak bisa dihindari" tetapi dia optimistis bahwa kenaikan berada dalam batas wajar.

Bagaimana pengaruhnya terhadap inflasi?

Pemerintah dan DPR telah mengubah proyeksi inflasi dari 5,5% menjadi maksimal 7,3% pada 2014. Ini berarti bahwa pemerintah menilai bahwa dampak kenaikan harga tahun ini cukup tinggi, salah satunya dipengaruhi oleh pelemahan rupiah.

Angka ini mendekati angka inflasi tahun lalu - yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak - sebesar 8,38%.

Antisipasi jangka pendek apa yang harus dilakukan pemerintah?

Pemerintah diharapkan bisa menjamin pasokan pangan di sejumlah daerah yang tinggkat inflasinya tinggi, kata Hendri Saparini.

"Penindakan tegas penimbunan, upaya cepat untuk memenuhi suplai dengan menerjunkan armada transportasi milik BUMN bahkan kalau perlu militer," sambungnya.