
Ical optimistis maju sebagai capres dan tengah mencari cawapres untuk Pilpres 2014.
Sejumlah survei terbaru kembali mengunggulkan Partai Golongan Karya sebagai partai dengan perolehan suara terbanyak untuk pemilu 2014, namun juga menegaskan beratnya peluang calon presiden yang diusung partai beringin itu.
Golkar akan kembali menguasai papan puncak pengoleksi suara terbanyak dalam pemilihan anggota legislatif (pileg), kata survei yang digelar Lingkaran Survei Indonesia, Saiful Mujani Research Center (SMRC), Political Weather Station(PWS), dan Lembaga Survei Nasional (LSN).
Besaran suara antarlembaga survei berbeda, namun umumnya menempatkan Golkar, PDI Perjuangan dan Partai Demokrat dalam lima besar partai di DPR.
Tetapi dukungan yang besar dalam pileg ini, diragukan akan mengatrol peluang Aburizal, biasa disapa Ical, untuk kursi presiden.
"Karena dalam pileg yang bekerja adalah mesin partai dan Golkar sudah terbukti punya mesin yang tangguh sampai ke desa-desa," kata Kuskridho Dodi Ambardi dari Lembaga Survei Indonesia.
Sementara dalam pemilihan presiden (pilpres), Dodi menambahkan, yang menjadi pertimbangan penting adalah sosok calon.
"Pilpres itu langsung sehingga pilihan rakyat akan sangat personal. Nah Pak Ical nampaknya akan sulit menjaring suara personal ini," kata Dodi.
Tekanan yang sama disampaikan Umar Bakry, Direktur LSN yang baru menggelar survei untuk menjaring pendapat masyarakat tentang pemilu 2014.
Dalam survei yang diumumkan pekan lalu, LSN menyebut Golkar akan jadi nomor satu, tetapi posisi Ical belum sekuat yang disebut-sebut selama ini sebagai calon presiden.
"Survei kami menemukan bahwa elektabilitas Ical masih ada di papan tengah bersama dengan Mahfud MD, Sultan Hamengku Buwono atau Surya Paloh. Belum sekelas Megawati atau Prabowo," kata Umar.
'Berat'
Dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) ke III Partai Golkar di Bogor, September lalu Aburizal Bakrie ditetapkan secara resmi sebagai calon presiden partai Golkar untuk pemilihan presiden 2014.
Meski pernah muncul dengan ide demokratis memakai konvensi partai yang bergaya Amerika Serikat, Golkar memilih tetap mengusung Ical secara aklamasi dalam Pilpres mendatang.
Kasus-kasus yang dianggap mengurangi peluangnya untuk maju dalam pilpres -bencana lumpur Lapindo, bangkrutnya asuransi Bakrie Life, dugaan penyuapan pajak, praktik korporasi kurang transparan di Bumi Resources- dianggap masih bisa diperbaiki.
"Lihat saja dalam semua survei, elektabilitas Pak Ical terus naik," kata Ade Komaruddin, Sekretaris Fraksi Partai Golkar di DPR.

Elektabilitas Aburizal menurut survei masih berada di bawah Jusuf Kalla dan Megawati.
Dengan mengusung pencalonan lebih awal, nampaknya Golkar berharap bisa mengubah persepsi negatif tentang Ical.
Namun penolakan publik yang kuat sebenarnya juga dirasakan sebagian warga internal Golkar, kata Dodi Ambardi dari LSI. Meski demikian konflik menolak pencalonan Ical tidak melebar ke muka publik.
"Ini hebatnya Golkar, pasti ada yang tidak setuju pencalonan Ical tetapi tidak sampai berkembang jadi sengketa terbuka," tambah pengajar program Pasca Sarjana UGM ini.
Tetapi menurut Umar Bakry resistensi tipis dalam tubuh Golkar adalah bentuk politik 'menyelamatkan diri' yang dipakai orang-orang di sekeliling Aburizal.
"Mereka sebenarnya tahu persis, Ical tidak akan banyak dapat dukungan dalam kondisi seperti saat ini," kata Umar.
"Politisi kan berhitungnya bukan kepentingan publik, yang penting kepentingan masing-masing. Terutama agar lolos untuk caleg (pemilu 2014) papan atas," Umar menjelaskan.
Dengan hitungan tersebut, Umar menyimpulkan peluang Ical bersaing dengan capres lain dua tahun mendatang masih 'tetap berat'.
'Lawan politik'
Rendahnya antusiasme publik terhadap pencalonan Aburizal, nampaknya tak banyak dihiraukan orang dalam partai, setidaknya itu yang muncul dalam pemberitaan berbagai media.
"Dalam politik itu biasa saja, semua itu opini itu kan yang dibuat oleh lawan politik," kata Ade Komaruddin.
"Biasa saja, pelajarannya (dari dua kekalahan itu) adalah antara legislatif dan eksekutif itu tidak linear. Rakyat mungkin akan punya pilihan lain"
Ade Komaruddin
Melihat elektabilitasnya yang diyakini terus merembet naik, Ade mengatakan mesin politik partai akan terus bergerak mempopulerkan nama Aburizal untuk pilpres.
"(Calon) Yang lain malah stagnan, ini Pak Ical malah terus naik. Obama dulu begitu, naik terus dalam enam bulan," tambah Ade membandingkan dengan pencalonan Barack Obama dalam pemilihan presiden AS empat tahun lalu.
Terkait dua kali Pileg yang sukses menempatkan Golkar di papan atas pendulang suara namun kandas dalam pencalonan presiden, Ade mengaku tidak gentar.
"Biasa saja, pelajarannya (dari dua kekalahan itu) adalah antara legislatif dan eksekutif itu tidak sama. Rakyat mungkin akan punya pilihan lain," tandasnya.
Aburizal sendiri sangat agresif tampil di muka publik dan gencar menjadi sumber berita.
Melalui situs pribadinya misalnya, Aburizal mengaku sejak Februari telah berkunjung dari desa ke desa untuk meningkatkan popularitas partai dan dirinya.
Ia mengklaim melihat 'antusiasme dan dukungan masyarakat' terutama dari kaum muda terhadap kampanye itu.
Namun Dodi Ambardi dari LSI menilai nama Aburizal masih sulit diperjuangkan sebagai calon RI-1, jika situasi saat ini tak banyak berubah hingga 2014.
"Ya memang di Golkar mungkin namanya besar, tapi dibanding JK saja, elektabilitasnya masih kalah," tegas Dodi mengutip nama mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga sempat mencalonkan diri sebagai presiden dan kalah dalam pilpres 2009 lalu.






