
Peringatan peristiwa Bom Bali I akan dihadiri oleh PM Julia Gillard.
Kepolisian Daerah Bali mengerahkan 1300 personilnya untuk mengamankan peringatan peristiwa bom bali I yang akan berpusat di Garuda Wisnu Kencana, Jimbaran Bali pada hari Jumat (12/10) mendatang.
Kepolisian Daerah Bali juga mengatakan selain mengerahkan personil dari wilayah Bali, mereka juga telah mendapat bantuan 118 orang petugas dari Mabes Polri dan 1000 personil dari TNI.
Wakil Kepala Kepolisian Bali, Brigjen Pol I Ketut Untung Yoga Ana mengatakan polisi menemukan adanya indikasi penyerangan yang akan menyasar sejumlah tamu penting yang hadir di acara ini.
"Dari informasi yang kita kumpulkan ada indikasi gerakan-gerakan tertentu yang mengarah sasaran terutama VVIP yang hadir dalam acara ini," kata Brigjen Pol I Ketut Untung Yoga Ana kepada sejumlah wartawan di Bali pada hari Rabu (10/10).
Kepala Bidang Humas Polda Bali, Kombes Hariyadi kepada wartawan BBC Indonesia, Andreas Nugroho, mengatakan penjagaan sangat ketat di Bali akan diterapkan karena adanya kedatangan sejumlah tamu penting dari Austrlalia pada peringatan tersebut seperti PM Australia, Julia Gillard, Mantan PM John Howard, Anggota Parlemen Tony Abbott.
Tutup pelabuhan
"Bali punya sejarah kelam dalam peristiwa serangan bom seperti Bali satu dan dua nah kita tidak mau mengambil resiko itu akan terjadi lagi," kata Hariyadi.
"Kita tidak mau kecolongan dan tidak mau mengambil resiko".
Polisi menurut Hariyadi meningkatkan juga penjagaaan dengan melakukan pemeriksaan ketat kepada penumpang di sejumlah pintu masuk menuju Bali seperti bandara dan pelabuhan.
"Dari informasi yang kita kumpulkan ada indikasi gerakan-gerakan tertentu yang mengarah sasaran terutama VVIP yang hadir dalam acara ini"
I Ketut Untung Yoga Ana
Soal apakah pelabuhan penyeberangan yang menghubungkan Bali dengan Pulau Jawa akan ditutup, Hariyadi mengatakan semuanya akan tergantung dari pertimbangan keamanan polisi nantinya.
"Penutupan (pintu penyeberangan) itu teknis sifatnya jika kita butuhkan sewaktu-waktu bisa kita lakukan yang jelas besok di lokasi kegiatan GWK kita lakukan sterilsasi."
Berangkatkan keluarga korban
Bali sebelumnya pernah mengalami dua kali serangkaian teror bom pada tanggal 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang dan 1 Oktober 2005 dengan sedikitnya 23 orang tewas.
Dalam peristiwa bom Bali I dari 202 orang yang meninggal dunia, 88 orang diantaranya adalah warga negara Australia.
Pemerintah Australia berencana menerbangkan keluarga korban bom Bali I untuk memperingati 10 tahun serangan teroris tersebut.
Perdana Menteri Julia Gillard mengatakan peringatan 10 tahun Oktober mendatang adalah "saat yang sangat penting untuk mengenang dan refleksi bagi bangsa."
Australia kemungkinan akan menurunkan peringatan bepergian ke Indonesia untuk pertama kalinya sejak terjadi serangan tersebut. Sebelumnya warga negara Australia selalu diminta untuk mempertimbangkan kembali rencana mereka untuk bepergian ke Indonesia, termasuk Bali.






