Puluhan warga Syiah masih bersembunyi dan kelaparan

Terbaru  28 Agustus 2012 - 17:59 WIB
syiah house firdaus mubarik

Rumah pemimpin komunitas Syiah Tajul Muluk pasca penyerangan pertama Desember 2011

Dua hari pasca penyerangan terhadap komunitas pengikut Syiah di Sampang, Madura, masih ada sekitar 80 orang warga Syiah yang bersembunyi di sekitar kampung karena ketakutan.

Mereka sebagian besar adalah kaum lelaki dan kondisi mereka terluka dan kelaparan, kata Hertasning Ichlas Koordinator Advokasi kasus Sampang.

"Hingga saat ini tim relawan dari Jausyan yang melakukan penyisiran menemukan enam orang dalam kondisi kelaparan," kata Hertasning. "Mereka bersembunyi di pinggir kali."

Keenam orang itu telah dievakuasi ke tempat aman oleh Brimob. Sementara itu pencarian terus dilakukan terhadap puluhan warga lainnya yang masih tidak berani keluar karena takut akan diserang kembali.

"Mereka yang bersembunyi merasa masih diintimidasi atau diancam dan ada juga yang takut harta benda mereka dijarah jika meninggalkan kampung," kata dia.

Hertasning meminta aparat gabungan kepolisian dan TNI bekerja sama mencari warga dan menolong mereka karena banyak yang tidak memiliki persediaan logistik atau obat-obatan untuk merawat luka akibat peristiwa berdarah Minggu lalu.

Satu tersangka

Sementara itu dari delapan orang yang diperiksa, Polisi akhirnya menetapkan satu orang tersangka dalam kasus penyerangan ratusan warga terhadap pengikut Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur. Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo menyatakan tersangka dengan inisial R diyakini sebagai pihak yang menggerakkan massa untuk melakukan penyerangan.

"Sekarang sudah ada delapan diperiksa dan satu ditentukan tersangka, inisial R. tujuh yang lain masih dalam proses pemeriksaan lebih detail," kata Timur.

Mabes Polri menyebut insiden di Sampang ini memiliki indikasi konflik antar keluarga yang berkepanjangan. Hal serupa juga disampaikan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi yang menegaskan bahwa pertikaian tidakk berkaitan dengan konflik agama Islam Sunni-Syiah. Tetapi Komnas HAM menilai pernyataan pemerintah tersebut terlalu menyederhanakan persoalan. Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim justru beranggapan pertikaian yang berlangsung hari Minggu kemarin sebagai bentuk kegagalan pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada warganya yang menganut kepercayaan Syiah. Hal itu menurut Ifdhal akan menjadi sorotan dalam sidang dewan HAM PBB yang akan berlangsung bulan depan.

"Bulan September Dewan HAM akan bersidang melihat Indonesia melalui mekanisme Universal Periodic Review (UPR)," kata Ifdhal.

"Dalam UPR September itu Indonesia akan ditagih menerima atau tidak rekomendasi yang masih dipending oleh pemerintah RI dan kejadian ini akan kembali dipertanyakan oleh negara-negara anggota dewan HAM mengenai keseriusan Indonesia dalam memberikan perlindungan atas kebebasan beragama."

Penyerangan terhadap pengikut Syiah di Sampang Madura ini merupakan yang kedua kalinya setelah Desember tahun lalu juga terjadi insiden serupa. Saat itu meski umat penganut di Syiah diserang tetapi justru pemimpin mereka yang divonis bersalah dengan tuduhan penistaan agaama.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.

]]>