'Gorbachev tidak sempurna, tapi dia berupaya keras mencegah Perang Dunia Ketiga'

Steve Rosenberg

Editor BBC, Moskow

Wartawan BBC, Steve Rosenberg, telah lima kali mewawancarai mantan pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, sepanjang 20 tahun. Setelah Gorbachev meninggal dunia pada usia 91 tahun, Selasa (30/8), Rosenberg mengenang lagi pembicaraan mendalam dengan mendiang.

Pada Maret 2013, saya mewawancarai Mikhail Gorbachev dan lembaga kajian yang dia dirikan di Moskow. Setelah setengah jam, mantan pemimpin Soviet itu berseru “Vsyo!” (“Itulah takdirmu!”). Dia bangkit dari kursi, tapi tampak tidak terburu-buru mengucapkan salam perpisahan.

Jadi kami terus mengobrol. Gorbachev saat itu baru menerbitkan volume terakhir buku memoarnya, yang dia persembahkan untuk mendiang istrinya, Raisa. Dia meninggal akibat leukemia pada 1999 setelah menikah dengan Gorbachev selama hampir 46 tahun.

Dari caranya yang lembut ketika membicarakan mendiang, terlihat jelas bahwa Gorbachev amat merindukannya.

Dia lantas menunjukkan buku memoar tersebut kepada saya. Halaman satu menampilkan cuplikan tulisan buku harian Gorbachev, setahun setelah Raisa meninggal dunia.

“Hidup saya kehilangan arti. Saya belum pernah mengalami perasaan kesepian yang sedemikian akut.”

Baca juga:

Mata Gorbachev berbinar tatkala dia menunjukkan foto-foto Raisa pada buku memoar: potret saat berlibur, foto keluarga, serta foto-foto saat Raisa mendampinginya dalam kunjungan kenegaraan di luar negeri.

Dari semua foto, ada dua foto favorit Gorbachev: potret keduanya sebelum hari pernikahan pada 1953. Mereka tampak seperti bintang film Hollywood.

Selagi Gorbachev dan saya membalik-balik halaman buku, juru kamera BBC, Rachel, mengamati piano besar di sudut ruangan.

“Dapatkah Anda menyentuhnya? tanya Rachel kepada Gorbachev.

“Tidak perlu, piano itu bisa main sendiri!” seloroh Gorbachev.

Kami semua tertawa. Namun, dia tidak sedang berkelakar. Gorbachev menghampiri piano tersebut, menekan sebuah tombol, dan instrumen itu langsung memainkan sebuah komposisi musik secara otomatis.

“Itu [komposisi] Chopin,“ ujarnya sembari tersenyum jenaka dan berpura-pura menekan tuts-tuts piano. Sesaat kemudian, dia menekan sebuah tombol dan piano tersebut berhenti bermain.

“Tentu Anda juga bisa memainkannya seperti piano normal,” kata Gorbachev. “Adakah di antara kalian berdua yang bisa bermain [piano]?” tanyanya.

Saya bilang kepada Gorbachev bahwa saya bisa bermain piano.

“Mohon duduklah, mainkan sesuatu,” pinta Gorbachev.

Saya tidak menyangka sama sekali. Saya harus berpikir cepat. Apa yang harus saya mainkan? Lagu apa yang bakal diapresiasi mantan pemimpin tertinggi sebuah negara adidaya? Mungkin lagu Back in the USSR? Atau lagu Thanks for the Memory? Saya memutuskan bermain aman dan memilih lagu klasik Rusia, Moscow Nights.

Ketika saya memainkan piano, sesuatu yang tidak disangka-sangka terjadi. Mikhail Gorbachev mulai bernyanyi dan suaranya bagus. Lagu tersebut kemudian rampung dan saya bertanya lagu apa yang dia sukai.

Gorbachev meminta lagu perang Soviet, Dark Night, yang mengisahkan seorang serdadu di garis depan yang memikirkan istrinya di kampung halaman.

Gorbachev bernyanyi:

“Di malam kelam

Saya tahu kamu, cintaku, sedang terjaga

Duduk di samping ranjang, kamu diam-diam menghapus air mata

Betapa saya mencintai matamu yang manis dengan tatapan dalam

Betapa saya menyukai ketika bibirku mencium bibirmu.”

Pria yang turut mengakhiri Perang Dingin itu tersenyum lebar.

“Raisa menyukai nyanyian saya,” ujarnya.

Dalam kalimat pendek itu, Mikhail Gorbachev telah mengungkap dirinya lebih banyak dari yang dia tuturkan selama wawancara.

Ada banyak orang di Rusia yang mengritik caranya memimpin negara. Mereka menyalahkan Gorbachev atas runtuhnya Uni Soviet.

Namun, setelah melontarkan kalimat itu sembari tersenyum, Gorbachev menjadi pria berhati baik yang masih sangat mencintai istrinya dan pada saat bersamaan masih berduka atas kepergiannya.

Raisa ada di mana-mana: pada bukunya, pada potret-potret yang dibingkai di dinding kantornya, dan pada nyanyiannya.

Pemimpin Soviet

Saya berjumpa Mikhail Gorbachev pada Mei 1996, lebih dari empat tahun setelah ambruknya Uni Soviet. Saat itu dia berupaya terjun lagi ke kancah politik dengan menantang Boris Yeltsin dalam pemilihan presiden Rusia.

Saya pada waktu itu bekerja sebagai asisten produksi untuk CBS News. Kru kamera kami mengikuti Gorbachev saat dia berkampanye di bagian selatan Rusia.

Saya begitu gembira bisa bertemu pria yang 10 tahun sebelumnya menginspirasi saya untuk mengikuti mata kuliah bahasa Rusia di kampus. Pada pertengahan 1980-an, Mikhail Gorbachev menggemparkan dunia dengan dua seruannya, Glasnost (keterbukaan) dan Perestroika (rekonstruksi).

Dia merupakan pemimpin Soviet yang belum disaksikan khalayak dunia sebelumnya. Kala itu dia muda, santai, dan tampak berkeinginan membangun hubungan lebih baik dengan negara-negara Barat serta merevitalisasi perekonomian Soviet yang stagnan.

Namun, ketika dia meninggalkan jabatan, Uni Soviet sudah tiada.

Baca juga:

Pada suatu malam, di masa kampanye 1996, Gorbachev mengundang kru televisi kami untuk ikut duduk bersamanya di sebuah restoran hotel. Tiba-tiba band di restoran tersebut memainkan lagu yang familiar.

"Yesterday, all my problems seemed so far away.

Now it seems that they are here to stay...".

Lirik lagu Yesterday yang kondang oleh The Beatles tersebut tampak klop dengan suasana saat itu. Pada pemilihan presiden, Gorbachev hanya mendapat 0,51% suara.

Dia telah kehilangan kekuasaan dan tidak bisa mendapatkannya lagi. Namun, ada satu hal yang masih dimiliki Gorbachev, selera humornya.

'Hal paling penting adalah ayam!'

Selang sebulan kemudian, juru kamera yang meliput kampanye Gorbachev merampungkan masa magangnya di Moskow. Juru kamera itu bernama Victor Cooper asal Texas, Amerika Serikat. Dia bertubuh tinggi besar, tapi bisa membuat orang-orang di sekelilingnya tersenyum. Dia juga tidak mahir berbahasa Rusia, tapi ada beberapa kalimat yang dia paham.

"Samoe glavnoe eto kooritsa!" Artinya: “Hal paling penting adalah ayam!”

Kalimat tersebut berguna baginya. Setiap kali Victor disuruh menepi oleh polisi lalu lintas Moskow, dia membuka jendela mobilnya dan berkata dalam bahasa Rusia dengan aksen Texas nan kental, “Hal paling penting adalah ayam!”

Polantas Moskow biasanya memberi tanda agar dia melanjutkan perjalanan.

Di kantor saya diberi tugas membuat vídeo perpisahan untuk Victor berisi pesan-pesan dari teman dan kolega di Moskow. Saya lalu menelpon asisten Gorbachev untuk bertanya apakah beliau bersedia mengirimkan pesan vídeo untuk Victor?

Jawabannya langsung, “Beliau bersedia.”

Saya lantas pergi ke kantor Gorbachev bersama seorang juru kamera lain.

 “Apa yang kamu ingin saya sampaikan?” tanyanya.

Saya menjelaskan kepadanya betapa Victor amat menikmati perjumpaan dengannya. Saya juga menyebut kalimat andalan Victor dalam Bahasa Rusia.

Gorbachev lalu menatap ke kamera dan merekam pesannya: “Victor, sebagaimana yang kamu ketahui dengan baik, hal paling penting adalah ayam!”

Saya harus mencubit diri sendiri. Mikhail Sergeyevich Gorbachev, pria yang dulu paling berkuasa di Bumi, baru saja berkelakar soal ayam.

Ketika Victor Cooper menyaksikan video itu, dia sungguh kaget dan sangat tersentuh.

Gorbachev yang sedih

Gorbachev yang saya temui pada 2019 jauh berbeda. Itu adalah wawancara kelima dan terakhir yang dia berikan kepada saya.

Ada semacam kesedihan dalam dirinya yang saya belum pernah lihat. Seolah-olah dia merasa pencapaiannya di masa lalu telah diputarbalikkan: Rusia kembali ke sistem otoriterianisme dan konfrontasi Timur-Barat terjadi lagi.

Dalam wawancara kelima, Gorbachev mengenang masa-masa awalnya memegang kekuasaan.

“Saat saya menjadi sekretaris jenderal Partai Komunis Soviet, saya mengunjungi kota-kota di seantero negeri untuk bertemu rakyat. Ada satu hal yang dibicarakan semua orang. Mereka bilang kepada saya: ‘Mikhail Sergeyevich, apapun masalah kami, terlepas dari kekurangan pangan, jangan khawatir. Kami akan punya cukup makanan. Kami akan menanamnya. Hanya pastikan tidak ada perang.’”

Tatkala menuturkan kenangan tersebut, air mata Gorbachev menggenang.

”Saya terkejut. Begitulah orang-orang saat itu. Sedemikian menderitanya mereka dalam peperangan sebelumnya.”

Mikhail Gorbachev tidaklah sempurna. Tiada pemimpin yang sempurna. 

Namun, dia adalah sosok yang sangat berupaya keras mencegah Perang Dunia Ketiga. Dan dia begitu menyayangi keluarganya.

Dua hal itu yang akan saya kenang dari sosok Mikhail Gorbachev.